Renungan Harian 16-21 Mei 2011

RENUNGAN SEPANJANG MINGGU

Senin, 16 Mei 2011
ARTI “BERSUKACITA” YANG SESUNGGUHNYA. (Yakobus 1:1-11)

Benarkah himbauan: “Tetaplah bersukacita ketika Anda terpaksa kehilangan pekerjaan tetap akibat penolakan Anda melakukan KKN dalam perusahaan”, merupakan aplikasi yang tepat dari pernyataan Yakobus (2)? Tidak sepenuhnya benar, bila hanya sebatas pengertian bahwa Kristen harus meminimalkan dukacita yang dialaminya dan bersikap seolah-olah tidak pernah merasakan sedih, pedih, merintih, dan menangis. Benarkah bahwa Kristen tidak boleh berdukacita akibat pencobaan yang dialaminya? Apakah harus bersikap naif terhadap dukacita yang dialaminya?
Tidak benar demikian! Dalam menghadapi pencobaan dan pergumulan yang berat, Kristen harus hidup dalam dunia realita. Namun tidak terhanyut dalam perasaan yang menekan, gagal, dan suasana perkabungan. Mengapa demikian? Karena ada satu keyakinan bahwa pencobaan yang dialaminya diizinkan Tuhan untuk menguji imannya dan mendewasakan kehidupan rohaninya (3-4). Kristen mengalami proses pergumulan dari dukacita menjadi sukacita yang bukan bergantung pada situasi yang telah berubah menjadi menyenangkan, tetapi semata bergantung kepada pengenalan akan Allah yang memiliki tujuan mulia dan mampu memberi kekuatan untuk menghadapi segala pencobaan. Itulah sebabnya kata ‘berbahagia’ yang dipakai Yakobus bukan berdasarkan dukungan secara material tetapi kekayaan rohani, sehingga mampu menempatkan pencobaan sebagai batu uji iman (2-3). Progresif pengenalan seseorang akan Allah menolong dia menyikapi pencobaan dengan hikmat.
Bagaimana dengan seseorang yang tidak memiliki hikmat? Yakobus pun membahas dalam suratnya (5-8). Orang yang kekurangan hikmat hendaknya datang kepada sumber hikmat, Allah sendiri, yang tidak pernah kekurangan hikmat, atau terlalu pelit memberikannya kepada yang memintanya dengan iman.
Pencobaan tidak kenal status sosial, baik orang kaya ataupun orang miskin. Penggambaran status yang sama rendah dan fana seperti bunga rumput yang segera layu (9-11)
Renungkan: Pencobaan dan pergumulan apakah yang sedang Anda alami saat ini? Bagaimana Anda memandang dan menyikapinya, sangat bergantung pada persepsi Anda tentang pencobaan tersebut. Renungkan kata-kata Yakobus dalam suratnya ini!

Selasa, 17 Mei 2011
SABAR MENANTI (Yakobus 5:7-11)
Setelah memperingatkan orang-orang kaya yang hidupnya berorientasi pada harta dan kesenangan, Yakobus mengingatkan orang percaya untuk bersabar sampai kedatangan Kristus yang kedua kali. Pada saat itulah kebenaran dan keadilan-Nya dinyatakan. Namun demikian, lamanya penantian akan hari Tuhan kadang-kadang bisa membuat orang beriman bersikap tidak sabar dan tidak percaya. Maka Yakobus mengingatkan mereka untuk bersabar menantikannya.
Agar orang memahami arti kesabaran, Yakobus memberikan gambaran mengenai petani, para nabi di zaman Perjanjian Lama dan juga Ayub (7, 10-11). Seorang petani bersabar menantikan hasil tanahnya yang berharga. Dalam masa penantian itu, petani bergantung pada hujan yang adalah anugerah Tuhan. Begitu jugalah seharusnya ketergantungan orang percaya pada pemeliharaan Allah. Maka dapat dikatakan bahwa kesabaran merupakan sikap hati yang berharap dan percaya total pada pemeliharaan dan perhatian Allah. Sementara menanggung derita, kita sabar sebab yakin bahwa tujuan iman kita di dalam Tuhan pasti akan terwujud.
Contoh kesabaran yang lain adalah para nabi di zaman Perjanjian Lama (10). Meski menghadapi penolakan bahkan kematian, para nabi tetap menyuarakan kebenaran Tuhan. Seringkali mereka mati tanpa melihat hasil upaya mereka, yakni pertobatan orang-orang yang menjadi sasaran misi mereka. Walaupun demikian, para nabi setia kepada Allah. Selain bersabar dalam penantian, orang beriman dipanggil untuk sabar menanggung penderitaan. Inilah yang terlihat dalam kisah Ayub. Ia memiliki ketahanan untuk menanggung penderitaan tanpa kehilangan iman. Meski tak mengerti sebab dan alasan penderitaannya, ia tetap percaya pada Allah.
Kita memang tak pernah tahu kenapa harus mengalami masalah. Namun, jika hidup dalam syukur dan bukan dalam kemarahan, dalam keyakinan akan Allah dan bukan dalam sungut-sungut; niscaya kita, seperti Ayub, akan menyinarkan kemenangan di hadapan Iblis yang gagal menjatuhkan kita.

Rabu, 18 Mei 2011
ANGGAPLAH KEBAHAGIAAN (Yakobus 1:2-12)
Seorang pendeta memasang tanda di pintunya: Jika Anda bermasalah, masuk dan ceritakanlah kepada saya masalah itu. Jika Anda tidak bermasalah, masuk dan ceritakanlah kepada saya bagaimana Anda menghindarinya.
Apa yang kita lakukan saat masalah datang tanpa pemberitahuan dan dengan intensitas besar? Yakobus mengatakan agar kita menganggapnya sebagai suatu kebahagiaan, karena ujian tidak terjadi tanpa sebab. Ia berkata, Ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh (Yakobus 1:3,4). Dipersenjatai dengan pemahaman ini, doa kita akan berubah dari bertanya kepada Allah mengapa menjadi bersyukur kepada-Nya atas apa yang sedang Dia lakukan.
Setelah bertahan dalam banyak ujian dan menghadapi pergumulan baru berupa kanker, penulis Renungan Harian Joanie Yoder membagikan pemikirannya dalam surat: Saya telah menyerahkan masa depan saya pada kehendak Allah. Puji Tuhan, tak ada satu pun, bahkan kanker, dapat menghalangi kehendak-Nya. Saya mungkin memiliki kanker, namun kanker tak memiliki saya. Hanya Allah yang memiliki saya. Karena itu, saya menghargai doa-doa Anda agar Kristus dimuliakan dalam tubuh saya, entah hidup atau mati.
Ujian tak dapat dihindari dan diduga, dan mereka datang dalam berbagai bentuk yang tak terbayangkan. Dengan menyadari bahwa Allah yang berdaulat akan menyertai kita dan menggunakan ujian untuk memperdalam kedewasaan kita, maka kita dapat menganggapnya kebahagiaan. (AL)
KITA DAPAT BERTAHAN DI DALAM UJIAN HIDUP INI

Kamis, 19 Mei 2011
SELAMAT MENDERITA? (Yakobus 1:1-12)

Di belakang kartu ucapan ulang tahun [anniversary] pernikahan, ada beberapa garis lekak-lekuk yang digambar cucu kami, Trevor, 3 tahun. Di sampingnya tertulis catatan putri kami yang menjelaskan bahwa Trevor menceritakan kepadanya apa yang telah ia tulis: “Saya mengucapkan selamat atas cinta kalian dan selamat menderita [Happy adversity].”
“Kesalahan” Trevor menjadi semboyan kami, karena “selamat menderita” mengandung prinsip alkitabiah untuk menghadapi kesulitan dengan sukacita: “Anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan” (Yakobus 1:2,3).
Dari sudut pandang kita, kemalangan bukanlah kebahagiaan. Kita berpikir hidup orang kristiani seharusnya bebas dari masalah, dan kita tak melihat banyak makna dalam penderitaan. Namun, Allah memandangnya dengan berbeda.
J.B. Phillips menerjemahkan Yakobus 1:2,3 demikian: “Ketika segala jenis ujian dan cobaan menyesakkan hidupmu, Saudaraku, jangan membenci mereka sebagai pengacau, tetapi sambutlah mereka sebagai kawan! Sadarilah bahwa cobaan-cobaan itu datang untuk menguji imanmu dan menghasilkan daya tahan bagimu.”
Penderitaan tidak datang sebagai pencuri yang mencuri kebahagiaan, tetapi sebagai kawan yang membawa karunia agar kita tetap kuat. Melalui penderitaan, Allah menjanjikan hikmat dan kekuatan-Nya bagi kita.
Jadi, jangan tersinggung jika hari ini saya mengucapkan, “Selamat Menderita” kepada Anda.(DMC)
BEBAN KEHIDUPAN TIDAK DIRANCANG UNTUK MENGHANCURKAN KITA
TETAPI UNTUK MENDEKATKAN DIRI KITA KEPADA ALLAH


Jumat, 20 Mei 2011
HIKMAH DARI PENDERITAAN  (Roma 5:1-5)

Seorang anak muda Kristen meminta seorang Kristen lain yang lebih dewasa secara rohani untuk mendoakannya agar menjadi lebih sabar. Maka orang itu pun berlutut dan berdoa, "Tuhan, kirimkanlah kesengsaraan kepada anak muda ini di pagi hari; kirimkanlah kesengsaraan kepadanya di sore hari; kirimkanlah...." Sampai di situ anak muda tadi segera memotong, "Tidak, tidak, saya tidak meminta Anda untuk mendoakan saya agar diberi kesengsaraan. Saya minta didoakan agar saya diberi kesabaran." "Ah," orang Kristen yang bijak itu menanggapinya, "justru melalui kesengsaraanlah kita belajar bersabar."
Kata-katanya itu menggemakan pesan Rasul Paulus dalam Roma 5:3, "kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan." Menurut seorang ahli tafsir Alkitab, kata yang diterjemahkan menjadi kesabaran atau ketekunan itu berarti "ketabahan, kemampuan untuk bertahan dalam kesulitan tanpa kenal menyerah."
Semua itu tampak secara nyata dalam kehidupan dan pelayanan Rasul Paulus. Ia pernah didera, disesah, dilempari batu, bahkan mengalami karam kapal, namun ia tetap berteguh dalam iman dan tidak surut dalam panggilan pelayanannya (2Korintus 11:23-33).
Adakah Anda sedang menghadapi ujian yang berat? Bila ya, pujilah Allah! Di bawah kendali-Nya yang bijak, segala sesuatu yang terjadi dalam hidup Anda, baik yang menyenangkan maupun yang menyakitkan, telah dirancang untuk menumbuhkan ketekunan Anda. Itulah sebabnya orang-orang kudus yang menderita dapat memuliakan Allah dalam kesengsaraan mereka. (RWD)
ORANG YANG MENANTI-NANTIKAN TUHAN DAPAT MENANGGUNG BEBAN KESENGSARAAN
Sabtu, 21 Mei 2011
MANFAAT PENDERITAAN (Mazmur 73:21-28)

Seseorang yang sinis bertanya kepada seorang Kristen yang sudah tua, yang pernah mengalami sakit parah selama 20 tahun, “Apa yang Anda pikirkan tentang Allah saat ini?” Orang tersebut menjawab, “Saya justru lebih bergantung kepada Dia dalam keadaan seperti ini.”
Penderitaan memang dapat menjadi suatu sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ketika kemalangan datang bertubi-tubi dan menggerogoti kesehatan, teman-teman, uang, dan saat-saat yang menyenangkan, maka Allah menjadi satu-satunya pegangan hidup kita. Kita mengasihi-Nya semata-mata karena Dia dan bukan karena hal-hal yang Dia berikan.
Pada saat-saat seperti itu, kita akan cenderung berseru seperti pemazmur, “Siapa gerangan ada padaku di surga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi” (Mazmur 73:25). Penderitaan dapat menuntun kita sampai pada suatu titik sehingga kita dapat berkata, “Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya” (ayat 26).
Kemudian kita juga harus ingat bahwa di depan kita terbentang surga, tempat “Ia akan menghapus segala airmata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita” (Wahyu 21:4). Penderitaan akan menuntun kita ke suatu tempat yang tidak mengenal rasa kehilangan suatu tempat yang tak ada kesedihan, tempat kita hanya akan bersukacita dan melayani Allah. Inilah cara pandang yang benar tentang penderitaan. Inilah manfaat penderitaan. (DHR)
SAAT KITA TIDAK MEMPUNYAI APA-APA LAGI SELAIN ALLAH KITA AKAN MENDAPATI BAHWA ALLAH SAJA SUDAH CUKUP

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar