Cover Warta Jemaat 20 Juli 2014

1647 / WG / VII / 2014
Minggu, 20 Juli  2014
Tahun XLV

SEBUAH PENGANTAR TERHADAP 1 KORINTUS 9:1-14 
1 KORINTUS 9:1-3 (BAGIAN PERTAMA)

Paulus memulai bagian ini dengan empat pertanyaan retorik. Dalam bahasa Yunani, Paulus menggunakan kata “ou”. Dengan menggunakan “ou” pada pertanyaan retorik tersebut, niscaya, jawaban yang diharapkan adalah “ya”. Jadi, empat pertanyaan berikut di bawah pada ayat pertama:
  • Bukankah aku rasul?
  • Bukankah aku orang bebas?
  • Bukankah aku telah melihat Yesus, Tuhan kita?
  • Bukankah kamu adalah buah pekerjaanku dalam Tuhan?

Semua pertanyaan retorik tersebut mengharapkan jawaban: YA.
Namun, meski Paulus menggunakan retorika pada ayat pertama, hal tersebut tidak menyiratkan adanya keraguan dari jemaat Korintus terhadap status dari Paulus. Justru, Paulus, hendak menjadikan retorika tersebut sebagai sebuah dasar untuk menjelaskan apa yang hendak ia sampaikan pada bagian berikutnya. Jadi, pembahasaan dari ayat pertama, kira-kira berbunyi seperti ini:
  • Seperti yang kamu tahu, aku adalah rasul.
  • Seperti yang kamu tahu, aku adalah orang bebas.
  • Seperti yang kamu tahu, aku telah melihat Yesus.
  • Dan, kamu adalah buah pekerjaanku dalam Tuhan.

Jikalau kita melihat pada ayat 11-14, Paulus menunjukkan secara jelas, bahwa ia memilih untuk tidak mempergunakan haknya sebagai seorang rasul. Dalam hal ini, ia juga ingin agar jemaat di Korintus meniru apa yang dilakukannya. Tetapi, sesuatu yang menjadi pertanyaan kita: mengapa Paulus harus menggunakan empat pertanyaan retorik tersebut? Berikut metode yang sebenarnya digunakan oleh Paulus: Paulus memulai dengan menegaskan statusnya. Ia kemudian menegaskan akan haknya sebagai seorang rasul dengan menekankan, bahwa hak tersebut adalah sesuatu yang sudah tercakup di dalam kerasulannya. Ia tidak mengusahakan hak tersebut, tetapi hak tersebut, memang pada dirinya sendiri, sudah ada di dalam kerasulan Paulus. Paulus menekankan akan keniscayaan dari haknya tersebut, dimana, pada sisi yang lain, ia secara sukarela menanggalkan hak yang begitu besar itu. Dengan melakukan ini, maka ia meningkatkan tekanan pada jemaat di Korintus, untuk mengikuti apa yang dilakukan oleh Paulus. (KSS)

Renungan Harian 21 - 25 Juli 2014

RENUNGAN SEPANJANG MINGGU

Senin, 21 Juli 2014
SEBUAH PENGANTAR TERHADAP 1 KORINTUS 9:1-14
1 KORINTUS 9:1-3 (BAGIAN KEDUA) 
Renungan pada hari sebelumnya merumuskan dasar bagi kita untuk melihat perikop ini secara keseluruhan, yaitu: keniscayaan dari hak Paulus sebagai seorang rasul dan kesukarelaan Paulus untuk menanggalkan hak tersebut, membawa sebuah tekanan bagi jemaat di Korintus untuk bisa mengikuti apa yang dilakukan oleh Paulus. Hal yang perlu kita lebih perhatikan pada renungan hari ini adalah, pembahasan terhadap ayat kedua dan ketiga. Dari ayat kedua dan ketiga, sepertinya Paulus sedang melakukan sebuah pembelaan terhadap suatu kalangan yang sedang membantah Paulus. Beberapa penafsiran memang merujuk pada kemungkinan tersebut. Tetapi, apa yang akan kita terapkan dalam pembacaan 1 Korintus 9:1-14, adalah sesuatu yang berbeda.
Pada ayat kedua, Paulus sepertinya menunjukkan ada pihak lain yang sedang membantah dirinya. Meski begitu, sesuatu yang perlu kita perhatikan adalah pernyataan hipotetis (hypothetical) pada ayat kedua. Paulus mengatakan: sekalipun/meskipun/walaupun bagi orang lain aku bukanlah rasul, tetapi bagi kamu aku adalah rasul. Pernyataan ini disusun dalam bentuk hipotetis dengan penekanan pada kondisi: Paulus adalah rasul bagi mereka. Paulus tidak sedang menyatakan bahwa ada beberapa orang yang mengatakan bahwa ia bukanlah rasul. Tetapi, lebih kepada, bahwa ia adalah rasul bagi jemaat di Korintus. Kata “orang lain” hendaknya mengacu pada mereka yang belum berada di dalam Kristus, dan menganggap bahwa Paulus bukanlah rasul. 
Sementara itu, pada ayat ketiga, Paulus mengatakan bahwa ia melakukan pembelaan (apologia) pada mereka yang mengeritik dirinya. Ayat ini perlu dilihat sebagai sebuah “prokatalepsis”: sebuah antisipasi (anticipatio) terhadap keberatan yang mungkin diberikan kepadanya. Inilah keunikan dari tulisan-tulisan yang tertera pada surat-surat dari Paulus. Penulisan diberikan dengan argumentatif, berujung pada sebuah kesimpulan logis yang tak terelakkan: jemaat di Korintus perlu mengikuti teladan Paulus, yaitu teladan untuk menanggalkan haknya.
Jadi, melalui pengantar ini, Paulus telah melakukan pembelaan antisipatif-nya terhadap statusnya sebagai seorang rasul. Hal ini membuka jalan bagi argumentasi sebelumnya dari Paulus untuk mengajak jemaat di Korintus untuk mengikuti teladannya. (KSS)

Selasa, 22 Juli 2014
SEBUAH PENGANTAR TERHADAP 1 KORINTUS 9:1-14
1 KORINTUS 9:4-6 (BAGIAN KETIGA) 
Pada ayat 4-6, kembali Paulus melanjutkan isu mengenai hak yang dimiliki oleh seorang rasul. Pertanyaan retorik kembali diajukan pada ayat keempat. Ada tiga hal yang akan kita renungkan pada hari ini, berlandaskan pada pembahasaan ayat 4, 5, dan 6. 
Ayat 4: terjemahan Indonesia, menuliskan, “Tidakkah kami mempunyai hak untuk makan dan minum?”. Terjemahan dari bahasa asli, kira-kira dapat dibahasakan sebagai berikut: tentu saja yang menjadi kasusnya bukanlah bahwa kami tidak memiliki hak untuk makan dan minum. Dengan menyatakan pernyataan seperti di atas, maka Paulus hendak menunjukkan haknya sebagai seorang rasul untuk didukung berkenaan dengan makan dan minum.
Ayat 5: ayat lima berkaitan dengan hak dari seorang rasul untuk menikah. Ayat lima tidak sedang menegaskan akan keniscayaan dari seorang rasul untuk menikah. Tetapi, apa yang hendak dikatakan oleh Paulus adalah, setiap rasul memiliki hak untuk menikah. Dan, jikalau mereka menikah, mereka juga berhak untuk mendapat dukungan finansial. Maka, dalam hal ini, ketika seorang rasul menikah, tidak hanya rasul tersebut saja yang mendapat hak untuk didukung secara finansial, tetapi juga istri dari rasul tersebut.
Ayat 6: pada ayat keenam, Paulus mengacu pada Barnabas. Dalam tradisi, Barnabas dan Paulus diketahui sebagai model dari penginjil yang membiayai sendiri biaya perjalanan pastoral mereka. Mereka berdua memilih untuk mencari biaya sendiri dengan bekerja, dibandingkan menerima dukungan finansial dari jemaat yang mereka layani. Referensi terhadap Barnabas dapat dilihat dari Kisah Para Rasul 4:36-37. Barnabas menggunakan uang dari penghasilannya sendiri untuk mendukung gereja. Dan referensi dari Paulus terhadap Barnabas, menunjukkan bahwa ketika mereka berdua melakukan pelayanan, mereka tidak mempergunakan hak mereka untuk didukung secara finansial.
Tiga hal yang dirujuk oleh Paulus di sini, kembali memperkuat argumentasi dasar Paulus: ia yang adalah seorang rasul, memiliki keniscayaan hak sebagai seorang rasul untuk didukung. Tetapi, ia secara sukarela menanggalkan hak tersebut. Dan memilih, untuk bekerja di dalam mendukung dirinya sendiri. Teladanilah Paulus! (KSS)

Rabu, 23 Juli 2014
SEBUAH PENGANTAR TERHADAP 1 KORINTUS 9:1-14
1 KORINTUS 9:7 (BAGIAN KEEMPAT) 
Dalam renungan hari ini, kita perlu melihat tiga analogi yang diberikan oleh Paulus. Analogi ini kembali menunjukkan, adanya sebuah kekuatan/keniscayaan hak dari seorang rasul-yang dimana, hak tersebut ditanggalkan oleh Paulus. Ketiga analogi tersebut, harus dilihat sebagai berikut: apa yang berlaku dalam ketiga area aktivitas dalam analogi tersebut, berlaku juga untuk Barnabas dan Paulus. Tiga analogi tersebut adalah:
  • Seorang prajurit yang turut peperangan. Penerjemahan dalam bahasa Indonesia dan beberapa terjemahan asing menuliskan bahwa seorang prajurit yang ikut peperangan atas biayanya sendiri. Frasa “biaya” merujuk pada kata Yunani “opsonion”, yang sebenarnya, lebih tepat diterjemahkan dengan: makanan dan kebutuhan hidup. Dengan demikian, retorika pertama yang diberikan Paulus pada ayat 7 hendak mengatakan: tidak ada satu prajurit pun yang tidak didukung dalam hal kebutuhan untuk hidupnya ketika berperang. Mereka yang berperang, tidak pernah menyediakan kebutuhan hidupnya sendiri. Mereka didukung dalam hal makanan dan kebutuhan hidupnya. Karena itu, analogi ini berujung pada: Paulus pun, seharusnya memiliki hak itu.
  • Pekerja kebun anggur. Terjemahan bahasa Indonesia mengatakan: tidak memakan buahnya. Penerjemahan yang lebih tepat sesuai dengan konteks kebun anggur adalah: siapakah yang menanami kebun anggur dan tidak memakan satupun dari hasil kebun anggurnya? Tentu saja, pekerja kebun anggur tidak mungkin memakan semua hasil kebun anggurnya. Tetapi, tentu dia, bisa memilih untuk memakan apa yang ingin ia makan.
  • Gembala domba. Sama seperti kedua analogi di atas. Gembala yang memiliki domba tersebut, seharusnya menikmati hasil dari domba tersebut. Dalam hal ini, berkaitan dengan susu dari domba tersebut.

Ketiga analogi tersebut, baik prajurit, kebun anggur, dan ternak, merupakan sebuah gambaran kemakmuran dari umat pilihan Tuhan dalam Perjanjian Lama. Dapat dikatakan seperti ini: mereka yang adalah prajurit Kristus, bekerja di kebun anggur Tuhan, dan menggembalakan domba Kristus, berhak untuk menerima dukungan terhadap apa yang sedang mereka kerjakan. Tetapi, sekali lagi, Paulus memilih untuk menanggalkan hal tersebut. (KSS)

Kamis, 24 Juli 2014
SEBUAH PENGANTAR TERHADAP 1 KORINTUS 9:1-14
1 KORINTUS 9:8-12A (BAGIAN KELIMA) 
Pada bagian ini, kita belajar mengenai bagaimana argumentasi Paulus beralih dengan sebuah acuan pada perintah ilahi. Deret argumentasi ini dapat dilihat dalam konteks kebudayaan Hellenistik (Hellenistic Culture). Deret argumen akan dimulai dengan sebuah argumentasi rasional diteruskan dengan argumen dari otoritas. Dalam hal ini, otoritas yang dimaksud adalah otoritas yang diakui baik oleh Paulus dan jemaat di Korintus, yaitu otoritas ilahi (divine authority). Karena itu, transisi pada ayat kedelapan, dapat dilihat dalam konteks kebudayaan Yunani.
Pada ayat kesembilan, Paulus kemudian memberikan analogi, yang diteruskan dengan pembelaan pada ayat kesepuluh. Kitab suci dengan jelas mengatakan, bahwa Tuhan melarang adanya pencegahan terhadap lembu untuk menikmati keuntungan dari kerjanya dalam mengirik gandum. Begitu pula dengan manusia. Lembu saja dibiarkan Tuhan untuk menikmati waktu untuk diberi makan setelah mereka bekerja, apalagi manusia. Demikian argumentasi dari Paulus. 
Paulus kemudian melanjutkan pada ayat 11-12a dengan sebuah terminologi “menabur dan menuai”. Ada dua hal yang perlu diperhatikan pada ayat 11 dan 12a. Pertama, terminologi “menabur dan menuai”. Kedua, berkaitan dengan “hal-hal rohani dan hal-hal duniawi”. Paulus dengan jelas, pada ayat 11, menempatkan hal-hal yang sifatnya rohani lebih tinggi dari hal yang sifatnya duniawi. Dengan berlandaskan pada prinsip seperti itu, apa yang hendak dikatakan Paulus pada ayat 11-12a dapat dibahasakan sebagai berikut: jika seseorang yang menabur secara rohani memiliki hak untuk mengharapkan hasil (manfaat) rohani, apalagi berkaitan dengan hak orang tersebut untuk menerima manfaat material yang secara natur lebih tidak penting. Artinya, jika untuk sesuatu yang lebih tinggi (seperti hal-hal rohani) saja, Paulus memiliki hak untuk itu; apalagi untuk sesuatu yang lebih rendah dari itu (hal-hal material)-seharusnya Paulus lebih berhak lagi. 
Dengan deretan argumentasi seperti yang sudah dilakukan Paulus, penekanan akan hak yang dimiliki oleh Paulus semakin besar kualitasnya. Ini menjadi penting, karena kita sudah melihat kontras antara hak yang begitu besar dan pilihan dari Paulus untuk menanggalkan hak yang dimilikinya tersebut. (KSS)

Jumat, 25 Juli 2014
SEBUAH PENGANTAR TERHADAP 1 KORINTUS 9:1-14
1 KORINTUS 9:12B-14. (BAGIAN KEENAM)
Pada renungan hari ini, kita akan belajar dari sebuah kontras antara hak Paulus yang begitu besar sebagai seorang rasul dan pilihannya untuk menanggalkan hak tersebut, demi kepentingan pemberitaan Injil. Dalam hal ini, kita perlu melihat sebuah pembahasan tentang: mengapa menerima bantuan dari jemaat, baik berupa makanan dan dana, dapat menjadi sebuah penghalang (stumbling block) terhadap pemberitaan Injil.
Kita dapat melihat beberapa kemungkinan. Salah satu yang paling besar kemungkinannya adalah sebagai berikut: orang-orang yang sudah mendengar mengenai Injil (potential converts) bisa saja tidak jadi untuk percaya-meski mereka sudah mendengar Injil-karena ada prakondisi yang sepertinya harus mereka lakukan: mendukung misionaris seperti Paulus dalam hal dana. Ini yang hendak dihindarkan oleh Paulus. Paulus hendak meniadakan impresi ataupun kesan yang menunjukkan bahwa ia memberitakan Injil hanya untuk mendapatkan dukungan, dalam hal kebutuhan hidup. Pertimbangan Paulus ini membuat ia harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. 
Paulus menanggalkan haknya dalam menerima dukungan dana ataupun makanan agar tidak menjadi batu sandungan bagi mereka yang belum percaya (potential converts). Dari sini kita dapat melihat betapa Paulus, demi pemberitaan Injil, rela untuk bekerja lebih keras dalam menanggung segala sesuatu. Dengan pembahasaan sejak ayat pertama hingga ayat keduabelas ini, kita dapat melihat dan membahasakan pernyataan Paulus dengan dua poin:
  • Paulus, sebagai seorang rasul, memiliki hak untuk didukung secara materi. Hal ini berlandaskan pada sebuah kenyataan, bahwa sesuatu yang sifatnya rohani lebih tinggi dari yang materi. Untuk sesuatu yang sifatnya rohani saja, Paulus memiliki hak untuk hal tersebut. Apalagi untuk sesuatu yang sifatnya materi. Tentu saja, Paulus memiliki hak untuk itu.
  • Meski memiliki hak tersebut, Paulus tidak mengutamakan hak tersebut sebagai sesuatu yang ia kejar. Ia justru menanggalkan hak tersebut. Karena, Paulus tidak mau, hak tersebut justru menjadi batu sandungan bagi mereka yang belum percaya kepada Tuhan.

Mari belajar dari bagaimana Paulus hidup!!! (KSS)

Sabtu, 26 Juli 2014
SEBUAH REFLEKSI TERHADAP KEHIDUPAN PAULUS SEBAGAI SEORANG RASUL
1 KORINTUS 9:1-14 
Sepanjang satu minggu, kita telah melihat bagaimana Paulus memberikan deret argumentasi untuk menunjukkan betapapun ia memiliki hak yang besar untuk bisa memperoleh dukungan secara materi, ia memilih untuk tidak menggunakan hal tersebut. Argumentasi Paulus menunjukkan secara jelas, kontras antara hak yang begitu besar dari seorang rasul dan kesukarelaan dari dirinya untuk menanggalkan hak tersebut. Seperti yang sudah kita bahas sebelumnya, ketika seseorang memiliki hak yang begitu besar dalam otoritasnya, tetapi ia memilih untuk menanggalkan hak tersebut, agar tidak menjadi batu sandungan, implikasinya akan sangat besar bagi jemaat Korintus. Paulus telah menunjukkan teladan yang jelas dan ia ingin agar jemaat di Korintus juga memikirkan dan mengikuti teladan Paulus. Hak hendaknya tidak dipertahankan, jikalau hal tersebut justru membawa kepada sebuah kerangka batu sandungan. 
Seringkali kita memilih untuk mempertahankan hak yang kita miliki, karena kita merasa tidak nyaman jikalau hak kita dicabut. Tentu saja, kita perlu melihat “hak” di sini sebagai sesuatu yang berkaitan dengan apa yang dikatakan oleh Paulus. Kita perlu mengaitkannya dengan keberadaan pelayanan kita, baik sebagai seorang yang terlibat langsung di gereja ataupun tidak secara langsung. Apakah, karena status tertentu yang kita miliki, kita mengejar hak kita, tanpa memperhatikan apakah itu justru menjadi batu sandungan atau tidak.
Mari belajar dari Paulus. Dengan keberadaannya sebagai seorang rasul, Paulus tetap memilih untuk bekerja keras dalam kerasulannya untuk pemberitaan Injil yang ia lakukan. Ia tidak menganggap bahwa hak kerasulannya sebagai sesuatu yang perlu dipertahankan, karena ia melihat, jikalau hak kerasulannya itu justru menjadi sebuah batu sandungan, maka ia tidak akan mempertahankannya. Pembelajaran dari Paulus hendaknya mengingatkan kita untuk tetap melihat apakah segala sesuatu yang kita lakukan itu membawa berkat atau justru menjadi batu sandungan? Dalam hal ini, apakah hak yang kita miliki, akan kita terus kejar dan perjuangkan, meski itu semua hanya menjadi batu sandungan bagi mereka yang belum percaya? (KSS)

News 20 - 26 Juli 2014

Jadwal Gereja Sepanjang Minggu

Minggu, 20 Juli 2014
"Hak dan Kewajiban" (1 Korintus 9 : 1 - 14)
* Darmo Harapan (Pagi) dan Darmo Harapan (Sore) dilayani oleh Pdt. Budiono Djoeng.
* Gateway dilayani oleh Pdt. Susi Raswati.
* Koblen Tengah, Bromo (Pagi), dan Bromo (Sore) dilayani oleh Pdt. Timotius Hogiono.

KEBAKTIAN REMAJA
* Jl. Raya Darmo Harapan PF-1/Pk. 09.00 - Oleh : Pdt. Menahem L. Soetedja. 
* Jl. Raya Arjuna 75-A (Bromo)/Pk. 15.30 - Oleh : Pdt. Susi Raswati.

KEBAKTIAN UMUM, 27 Juli 2014
"Memenangkan Jiwa" (1 Korintus 9 : 15 - 27) - Persembahan Pembangunan
* Darmo Harapan (Pagi) dan Gateway dilayani oleh Pdt. Timotius Hogiono.
* Koblen Tengah, Bromo (Pagi), dan Bromo (Sore) dilayani oleh Pdt. Susi Raswati.
Darmo Harapan (Sore) dilayani oleh Pnt. Ir. Andy Sutanto.

Senin, 21 Juli 2014
PERSEKUTUAN DOA RUMAH TANGGA
* PERMATA BROMO - Kel. Bp/Ibu Robby Untoro, Jl. Embong Malang 78 H - Pk. 18.00.
* PERMATA DARMO HARAPAN dan GATEWAY - Kel. Bp/Ibu Albert Dabi Dabi, Jl. Taman Pondok Jati BB-2 Sepanjang Sidoarjo - Pk. 18.00.

Selasa, 22 Juli 2014
KEBAKTIAN KAUM WANITA
* Jl. Raya Darmo Harapan PF-1/Pk. 16.00 - Oleh : Sdri. Wanda E.H. Siahaan.

PENDALAMAN ALKITABda 
Galatia 5 : 16 - 26
* Jl. Raya Darmo Harapan PF-1/Pk. 18.30 - 20.00 Oleh : Pdm. Rian Waruwu.

Rabu, 23 Juli 2014
KEBAKTIAN KAUM WANITA
* Jl. Raya Arjuna 75 A (Bromo)/Pk. 16.00 - Oleh : Pdm. Rian Waruwu.
* Ruko Gateway F-22/Pk. 18.00 - Oleh : Pdm. Juni K. Telaumbanua.

PERSEKUTUAN DOA MALAM
Jl. Raya Arjuna 75A (Bromo) - Pk.19.00 - Oleh : Pdt. Timotius Hogiono.

Kamis, 24 Juli 2014
KEBAKTIAN PENYEGARAN ROHANI
* Jl. Raya Darmo Harapan PF-1 (Pk. 18.30 WIB) dilayani oleh : Ev. Sigit Poerbandoro.

SABTU, 26 Juli 2014
KEBAKTIAN KAUM MUDA
* Jl. Raya Darmo Harapan PF-1/Pk.17.00 Oleh : Pdt. Timotius Hogiono.
* Jl. Raya Arjuna 75A (Bromo)/Pk.17.30 Oleh : Pdt. Susi Raswati.
* Ruko Gateway F-22/Pk.18.00 Oleh : dr. Purnama Nugraha (Surabaya).
-----------------------------------------------------------------------------------
TEMPAT PEMBINAAN IMAN (TPI)
* TPI Tengger Kandangan - Jl. Raya Tengger Kandangan 137 - Minggu (Pk. 08.00 WIB) Sekolah Minggu, (Pk. 09.00 WIB) Pra Remaja - Jumat (Pk. 18.45 WIB).
* TPI KEDUNGASEM - Jl. Wisma Kedung Asem O-5 (Jumat, Pk. 17.00 WIB - Sekolah Minggu) dan Jl. Wisma Kedung Asem D-20 (Jumat, Pk. 19.00 WIB - Umum).
* TPI WIYUNG - Jumat, 25 Juli 2014 - Kel. Ibu Bambang, Jl. Wisma Lidah Kulon XB-98 Surabaya (Pk.19.00 WIB).

DOA PAGI
Senin - Sabtu (Pk. 05.30 - 06.15)

PERSEKUTUAN DOA USIAWAN
Kamis (Pk. 09.00 - 11.00)
Jl. Raya Darmo Harapan PF-1 dan Jl. Raya Arjuna 75-A

LATIHAN PADUAN SUARA GEREJAWI
* PS. Bromo - Minggu (Pk. 10.30 WIB) - Jl. Raya Arjuna 75-A.
* PS. Darmo Harapan - Kamis (Pk. 11.00 dan 20.00 WIB) dan Sabtu (Pk. 19.00 WIB) - Jl. Raya Darmo Harapan PF-1.
* PS. Koblen Tengah - Jum'at (Pk. 19.00 WIB) - Jl. Raya Arjuna 75-A.

LATIHAN MUSIK GEREJAWI
* Koblen Tengah - Minggu (Pk. 09.00 WIB) - Jl. Koblen Tengah 22 A.
* Darmo Harapan - Sabtu (Pk. 19.30 WIB) - Jl. Darmo Harapan PF-1.
* Praise and Worship - Rabu (Pk. 19.00 WIB) - Jl. Raya Darmo Harapan PF-1.
* Bromo - Kamis (Pk. 19.00 WIB) - Jl. Raya Arjuna 75-A.

KATEKISASI
Bagi Jemaat yang belum dibaptis dapat mengikuti pelajaran Katekisasi.
* Jl. Raya Darmo Harapan PF-1 - Sabtu (Pk. 16.30 WIB) dilayani oleh Pdt. Menahem L. Soetedja.
* Jl. Koblen Tengah 22 A - Minggu (Pk. 08.30 WIB) dilayani oleh Pdt. Susi Raswati.
* Ruko Gateway Kav. F-22 - Minggu (Pk. 11.30 WIB) dilayani oleh Pdt. Timotius Hogiono.

POKOK DOA
* Retreat Pemuda-Remaja dan Camp Sekolah Minggu 31 Juli - 02 Agustus 2014 di Bukit Doa Immanuel.
* Kesetiaan jemaat Gereja Isa Almasih Surabaya.
* Anggota jemaat yang dalam pergumulan, kesulitan dan sakit.
* Gereja-gereja Tuhan di Indonesia.
* Bangsa dan Negara Indonesia.

Mimbar Gereja u/Warta 20 Juli 2014

GIA Sby (Darmo Harapan Pagi)
Minggu, 13 Juli 2014
Oleh: Pdt. Menahem Lazuardi Soetedja

KEBEBASAN KRISTEN
(1 Korintus 8:1-13)

Dalam 1 Korintus 8:1-13 tentang pengetahuan sejati yang berangkat dengan memperlihatkan keadaan jemaat di korintus yang merupakan suatu jemaat terletak di kota metropolitan dengan berbagai macam aktifitas yang ada di dalam kemajuannya pada waktu itu dan juga jemaat yang datang dari berbagai macam latar belakang, baik dari latar belakang dari kepercayaan sebelumnya atau sukunya. Surat Korintus ini sangat relevan dalam kehidupan kita karena kehidupan jemaat korintus ini tidak jauh berbeda dengan kehidupan kita, seperti halnya merasa kelompoknya saling benar lalu timbulnya perpecahan, keadaan di mana merasa budaya penuntutan, dll. Dalam 1 korintus 8 ini memperlihatkan adanya problem di jemaat Korintus, di mana sebelum jemaat korintus percaya Tuhan mereka hidup seenaknya seperti berbicara tentang makanan daging, adanya penyembahan berhala ketika mereka mempersembahkan daging kepada berhala pemahaman mereka ada allah lain atau kuasa lain yang ada di dalam daging tersebut. Berangkat dari pemahaman inilah akhirnya jemaat Korintus ketika sudah menjadi pengikut Kristus, di dalam imannya yang belum bertumbuh secara dewasa mereka beranggapan ketika mereka makan daging itu bahwa mereka menyembah kepada ilah atau berhala itu ada di dalam Tubuhnya karena ia makan daging. Tetapi ada satu kelompok yang mengatakan bahwa pemahaman itu salah karena ketika kita sudah dimerdekakan hanya ada satu Allah, pemahaman kelompok ini benar tetapi tindakan dari kelompok ini mereka makan di kuil itu dan mengolok-olok kelompok jemaat yang belum mengerti pemahaman dengan benar sehingga hal ini memberikan suatu batu sandungan bagi kelompok yang belum memahami.Ayat 1 berbicara tentang kasih dan pengetahuan harus dicapainya. Ini Paulus menunjukkan seseorang yang tidak betul-betul merasakan kasih Kristus di atas kayu salib maka orang itu tidak mengalami kristus di dalam hidupnya, orang boleh tahu pengetahuan Alkitab begitu pintar tetapi tidak mengalami di dalam hati. Maka orang itu sesungguhnya tidak tahu apa-apa, itu hanya sombong dengan diluar kristus. Untuk itu kita harus memiliki pengetahuan sejati yang sungguh-sungguh berkenan kepadaNya:
  1. Dapat kita lihat dalam kelompok korintus yang sudah paham akan pengetahuan tentang Allah tetapi memberikan batu sandungan (3). Dapat kita lihat dalam ayat yang ke 3, kita tidak bisa mengasihi Allah kalau kita belum mengalami kasih Allah dalam hidup kita. Kita harus mengasihi Allah dengan cara harus mengalami kasih Allah baru itu akan memampukan kita untuk mengasihi Allah. pengetahuan inilah yang menjadi dasar untuk kita dapat bertumbuh di dalam pengetahuan yang sejati. Sehingga makanan itu tidak membawa kita kepada yang benar, kita dikasihi Allah bukan karena makan sesuatu tetapi karena kasihnya.
  2. Dapat kita lihat dari kelompok korintus yang masih memahami dari latar belakangnya dapat dilihat dalam ayat 4-6. Paulus menekankan bahwa orang yang lemah kerohaniannya dan pengetahuan kerohaniannya harus didik dan diajar dengan baik. Sehingga Paulus mengajarkan ketritunggal Allah kepada jemaat korintus untuk mereka memahami pengetahuan dengan benar akan Allah.  Dalam ayat 4-6 ini berbicara kepada orang-orang yang masih terikat dengan cara berpikir mereka yang lama, dan merekah harus diingatkan bahwa kita adalah ciptaan yang baru jadi tidak ada Allah lain hanya ada satu Allah yang esa. Karena Dia kita hidup. Maka ketika kita makan, kita tidak perlu takut ada roh-roh di dalamnya karena hidup kita sudah memiliki menjadi miliki kristus sudah dikuduskan, disucikan, di benarkan. Ini yang ingin diajarkan kepada orang-orang yang masih memiliki kepercayaan yang lama

Diringkas oleh: Sdri. Wanda Eunike H. Siahaan