Renungan Harian 15 - 20 Juli 2013

RENUNGAN SEPANJANG MINGGU

Senin, 15 Juli 2013
STATUS DIIKUTI KONDISI (Roma 8:1-8)
Anda dinyatakan tidak bersalah, Anda bebas!" Apa arti perkataan itu bagi Anda bila Anda sebelumnya didakwa dan diancam hukuman mati? Perkataan seperti itulah yang tampaknya ditujukan kepada orang percaya (1). Bebas dari hukuman memang sangat berarti, tetapi tidak terlalu berguna apabila orang yang bersangkutan tidak mengalami perubahan lain. Allah tidak hanya membenarkan orang-orang yang percaya kepada- Nya. Ia juga melepaskan orang beriman dari perbudakan dosa membelit dan menghasilkan maut (26, 3). Kuasa dosa yang memperbudak manusia telah dipatahkan dan pemerintahan Allah dalam hidup orang percaya telah dimulai.
Fakta itu membuat orang percaya memiliki status dan kondisi baru. Orang beriman kini hidup menurut Roh (3-4). Kekuatan terdalam yang menggerakkan sikap dan perilaku orang beriman bukan lagi sifat dosa, tetapi sifat baru dari Roh Allah. Orang percaya hidup secara aktif dengan takluk kepada hukum Allah, mencari hal-hal yang berkenan kepada Allah, dan tidak lagi menginginkan sesuatu yang bertentangan dengan kehendak Allah. Karakter adalah bukti bahwa seseorang sungguh sudah diperbarui Roh.
Berbeda dengan orang yang tanpa Kristus hidup menurut daging. Akibat dari hidup mengikuti dorongan dosa adalah maut karena selalu bertentangan dengan Allah. Sifat dosa muncul bukan hanya karena pengaruh lingkungan atau godaan hidup, tetapi karena memang itulah yang mengendalikan hidupnya. Orang yang hidup menurut daging adalah lawan Allah karena tidak tunduk pada hukum Allah (6-8). Kita hidup menurut daging sampai Yesus menawarkan keselamatan. Saat kita terima tawaran-Nya, kita jadi pengikut-Nya, maka kita harus memusatkan hidup pada Allah.
Ingatlah: Kita harus menomorsatukan kehendak Allah dalam setiap pilihan yang kita ambil. Ini tidak akan selalu mudah. Bergantunglah pada Roh Kudus agar kita hidup menurut Roh bukan menurut daging.

Selasa, 16 Juli 2013
HIDUP DIPIMPIN ROH ALLAH (Maleakhi 1:6)
Yesus pernah mengkritik tajam beberapa pemuka agama Yahudi karena tidak memercayai Dia, padahal Alkitab menyaksikan Dia. Yesus berkata, kamu adalah anak-anak pembunuh dan pendusta karena bapamu, Iblis adalah pembunuh manusia dan pendusta (Yoh 8:44-47). Ngeri sekali dituding seperti itu. Akan tetapi, memang benar. Saat kita hidup di dalam dosa, kita dikuasai oleh roh-roh jahat. Perbuatan-perbuatan kita dikendalikan oleh Iblis sebagai majikan jahat kita. Hanya ketika kita dibebaskan oleh kuasa Roh Allah, kita tidak lagi dikendalikan oleh Iblis. Kita sekarang bisa disebut anak-anak Allah.
Kita yang percaya kepada Yesus disebut anak-anak Allah. Roh Kudus memerdekakan kita dari belenggu dosa dan kematian (2). Roh Kudus memimpin hidup kita (14). Dia bekerja di dalam hati dan pikiran kita. Dialah yang memampukan kita tidak lagi hidup menurut keinginan daging (9), melainkan menurut keinginan Roh yang menghasilkan damai sejahtera sejati (6). Roh Kuduslah yang menolong kita untuk yakin bahwa kita memang anak-anak Allah (16) dan memberanikan diri kita untuk memanggil Allah sebagai Bapa (15). Sebagai anak-anak Allah kita memiliki warisan surgawi yang disediakan untuk kita kelak di surga. Di dunia ini kita dapat mencicipinya, sementara masih mengalami berbagai penderitaan demi Kristus. Akan tetapi kelak di surga, kita menikmatinya secara penuh bersama Kristus (17).
Apa tanggung jawab kita? Hidup sesuai dengan kuasa kehidupan yang Roh Kudus telah berikan dalam hidup kita. Kita sudah dimerdekakan dari dosa, maka hidup kita tidak boleh menyerah terhadap godaan dosa. Mari kita menjaga kesucian hidup kita. Kita memiliki akses langsung kepada Allah Bapa, maka kita harus memelihara persekutuan intim dengan-Nya, memanggil-Nya dengan mesra, ya Abba, ya Bapa! Bersekutulah dengan Alllah lewat merenungkan firman-Nya dan berdoa.Kita telah memiliki kepastian keselamatan, maka apa pun masalah yang kita hadapi dalam hidup ini, kita tidak boleh bimbang bahwa kitalah pewaris segala janji Allah. Hiduplah sebagai anak-anak Allah.

Rabu, 17 Juli 2013
HIDUP DIPIMPIN ROH (Roma 8:1-17)
Mungkin Anda pernah mengikuti seminar-seminar untuk melatih pikiran. Para ahli mengklaim bahwa orang dapat hidup lebih baik, lebih sehat, lebih berhasil, jika pikiran kita positif. Pola berpikir orang-orang yang sukses dipelajari agar dapat ditiru, dan sukses mereka juga dialami. Banyak juga yang bahkan bersemangat belajar cara mengendalikan pikiran orang lain.
Tampaknya Paulus juga berbicara tentang pengendalian pikiran dalam Roma 8. Kata “keinginan” dalam bagian ini diterjemahkan dari kata Yunani phronema, yang berarti cara pikir atau pikiran. Namun, Paulus tidak mendorong jemaat Roma untuk mengikuti pola pikir mereka sendiri atau orang tertentu. Menurutnya, keinginan daging atau pikiran manusia tidak dapat diandalkan (ayat 6-8). Manusia hanya bisa berkenan pada Allah ketika melakukan keinginan Roh atau pikiran Allah (ayat 5, 13). Dan hal itu berarti hanya Roh Allah sendiri yang dapat mengendalikan pikiran manusia untuk hidup seturut kehendak-Nya.
Pernahkah dua skenario berikut kita alami? Keduanya tampak serupa, tetapi tidak sama. Kita melatih diri berpikir positif dengan metode tertentu, lalu berdoa mohon Tuhan memberkati kita dalam melakukannya. Atau, kita mengakui ketidakberdayaan kita, bersyukur atas kehadiran Roh Kudus, dan mohon pengarahan-Nya. Yang pertama mengandalkan diri sendiri dan minta Tuhan mengikuti. Yang kedua menempatkan diri dalam kesiapan dipimpin oleh Roh Allah, karena percaya bahwa Dia adalah Tuhan yang sungguh hidup, dan sadar bahwa hanya Dialah yang bisa menuntun kita memikirkan kehendak-Nya. Manakah yang lebih mewakili keyakinan dan sikap kita. (HAN)
HIDUP DIPIMPIN OLEH ROH TUHAN BERARTI MEMPERSILAKAN DIA MENGGANTI PIKIRAN-PIKIRAN KITA DENGAN PIKIRAN-PIKIRAN-NYA.

Kamis, 18 Juli 2013
TEKUN BEKERJA (Rut 2:1-7)
Bekerja sebagai regu pemadam kebakaran itu unik. Menurut Dr. Terence Keane, seorang pengamat perilaku, hanya 5% waktu mereka dipakai untuk memadamkan api. Sisanya, 95% waktu dipakai untuk menunggu. Ini membuat banyak pemadam kebakaran kerap merasa bosan, sehingga mereka disarankan agar melakukan pekerjaan lain untuk mengisi waktu, tetapi tetap siaga. Orang yang tidak bekerja akan merasa hidupnya tak bermakna. Tak bersemangat. Sebaliknya, kesibukan bekerja akan meningkatkan vitalitas hidup!
Rut dan mertuanya tiba di Israel tanpa membawa apa pun. Melarat. Fakta ini mengharuskan Rut segera berjuang mencari makan agar mereka berdua bisa tetap hidup. Rut tidak suka berpangku tangan, apalagi meminta-minta sambil menunggu belas kasihan orang. Rut lebih suka bekerja. Maka, ia mohon diperkenankan memungut sisa bulir-bulir jelai yang berceceran. Pekerjaan kasar ini ia tekuni dari pagi sampai sore. Melelahkan. Namun, Rut bekerja dengan tekun. "Seketika pun ia tidak berhenti," karena didorong oleh rasa tanggung jawabnya. Rut bekerja keras melakukan yang terbaik, meski pekerjaannya sangat tidak menyenangkan. Dan, Tuhan memberkati karyanya.
Mungkin pekerjaan Anda lebih nyaman daripada Rut. Sudahkah Anda bekerja segiat dia: melakukan yang terbaik? Ataukah kita bermalas-malasan dan bekerja ala kadarnya? Ingatlah bahwa setiap pekerjaan adalah anugerah Tuhan. Berapa pun upah yang Anda terima, pekerjaan membuat kita merasa diri berharga. Pekerjaan membuat kita mampu mandiri. Jika dilakukan dengan giat dan penuh dedikasi, pekerjaan akan membawa kemuliaan besar bagi Tuhan. (JTI)
JANGAN BEKERJA ALA KADARNYA BEKERJALAH SEOLAH TUHANLAH BOS ANDA

Jumat, 19 Juli 2013
SISTEM SHRIKE (Efesus 6:10-18)
Olahraga berburu kuno menggunakan bantuan burung elang terlatih untuk melakukan perburuan binatang liar. Namun, saat "pemangsa terdidik" itu dibiarkan terbang, kerap kali ia terbang terlalu tinggi sehingga hilang dari pandangan mata. Karena itu, pemburu kerap membawa seekor shrike [sejenis burung kecil berparuh bengkok] di sangkar. Dengan memandang gerakan aneh pada burung kecil itu, si pemburu selalu dapat mengetahui di mana burung elangnya berada. Itu karena shrike secara naluriah takut pada sang pemangsa sehingga ia memiringkan kepalanya dengan tatapan mata yang terus mengawasi ke mana sang pemangsa terbang.
Orang-orang kristiani membutuhkan tatapan mata penuh kewaspadaan sama seperti shrike untuk mendeteksi musuh rohani mereka. Lawan kita, si Iblis, "berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya" (1Petrus 5:8). Menurut Rasul Petrus, kita bertanggung jawab untuk sadar dan berjaga-jaga. Dengan kata lain, kita harus senantiasa waspada.
Sungguh menyenangkan bila Allah memiliki sirene raksasa untuk memperingatkan kita terhadap serangan Iblis. Namun, bukan demikian cara kerja-Nya. Sebaliknya, kita harus membaca Alkitab secara teratur, merenungkan kebenaran di dalamnya, memelihara sikap tekun berdoa sepanjang hari, dan dipenuhi dengan Roh Kudus. Hanya dengan demikian kita menjadi peka terhadap serangan yang dilancarkan oleh roh jahat, dan kita akan dipersenjatai dengan anugerah untuk menghadapinya.
Apakah "sistem shrike" rohani Anda sudah bekerja?  (MRD)
ROH YANG ADA DI DALAM KAMU, LEBIH BESAR  DARIPADA ROH YANG ADA DI DALAM DUNIA  1Yohanes 4:4

Sabtu, 20 Juli 2013
HIDUP SEBAGAI ANAK TUHAN (Roma 8:1-17)
Tidak ada hukuman!" Bayangkan bila ketiga kata itu diucapkan oleh seorang hakim kepada terdakwa yang diancam hukuman mati. Tentu dia akan kegirangan karena punya kesempatan menghirup udara lebih lama lagi.
Seperti si terdakwa itulah posisi manusia ketika berdosa. Karena berdosa, tak ada satu hal pun yang mampu dilakukan manusia untuk menyenangkan Allah. Seluruh kecenderungannya tertuju pada dosa (ayat 5). Memang ada orang yang baik, tetapi kebaikan manusia berselubung dosa dan akan berujung maut (ayat 6). Orang Israel sendiri berusaha keras untuk hidup benar berdasarkan Hukum Taurat. Namun hukum bersifat menuntut maka ketika tuntutan tidak dipenuhi, manusia akan berdosa. Ketidakmampuan orang memenuhi tuntutan Taurat membuat Allah bertindak. Ia mengirimkan Putra-Nya untuk menyelamatkan manusia dari dominasi dosa. Dengan demikian, manusia dibebaskan dari hukuman dosa (ayat 1-4). Bukankah kebenaran ini menggembirakan?
Namun tidak berhenti sampai di situ. Pembenaran merupakan dasar dan titik awal pengudusan. Dan setelah menerima anugerah keselamatan orang harus bertumbuh dalam kasih karunia menuju keserupaan dengan Kristus. Maka sebuah perubahan radikal dituntut dari orang yang percaya Yesus, yaitu perubahan pola pikir, motivasi, dan cara hidup yang sesuai kehendak Tuhan. Untuk itu Allah mengaruniakan Roh Kudus kepada orang yang telah diselamatkan. Roh ber-diam dalam diri orang itu dan memimpin dia untuk melakukan kehendak Allah (ayat 14). Maka tak ada alasan bagi orang percaya untuk berjalan menurut daging karena orang percaya telah "diadopsi" menjadi anak Allah (ayat 16). Anak yang diadopsi telah sepenuhnya menjadi hak orang tua yang mengadopsi dia dan hidup sepenuhnya mengikuti hidup orangtua itu, dan akan diperhitungkan sebagai ahli waris.
Begitu jugalah ketika orang menjadi Kristen. Ia beroleh hak istimewa serta tanggung jawab sebagai anak dalam keluarga Allah. Maka marilah hidup sebagai anak-anak Allah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar