Renungan Harian 19 - 24 Desember 2011

RENUNGAN SEPANJANG MINGGU

Senin, 19 Desember 2011
PERSEKUTUAN DALAM PENGINJILAN. (Filipi 1:1-5)

Kualitas apa dalam gereja kita membuat kita bersyukur? Karena warganya banyak? Karena gedung dan fasilitasnya megah dan lengkap? Karena programnya OK dan partisipasi jemaatnya tinggi? Apakah ukuran Anda akan kesuksesan sebuah gereja? Perhatikan hal-hal dalam gereja di Filipi yang membuat Paulus bersyukur (ayat 3)! Paulus mengenal gereja itu sebab ia sendiri yang mendirikannya (Kis. 16). Di situ ada anak-anak Tuhan yang setia dan dedikatif seperti Lidia, kepala penjara, dll. Mereka pasti loyal kepada Paulus dan kepada Tuhan.
Namun, Paulus mengucap syukur bukan karena keadaan eksternal gereja itu. Apalagi, keadaan eksternal gereja di Filipi juga gereja-gereja di Asia Kecil dan Eropa pada abad-abad permulaan Kristen pasti tidak dapat dibandingkan dengan gereja-gereja di kota-kota besar di Indonesia. Paulus mengucap syukur karena persekutuan warga gereja di Filipi dalam penginjilan dari sejak gereja ini baru berdiri sampai saat Paulus menulis surat ini (ayat 5). Paulus mengucap syukur bukan saja karena mereka berpegang teguh kepada iman mula-mula dan tetap setia bertumbuh dalam iman tersebut, tetapi juga karena semangat mereka untuk terlibat dalam pelayanan rasul Paulus.
Pelajaran apa yang dapat kita tarik tentang kemajuan gereja dan kemajuan penginjilan? Pertama, pendiri (pemimpin) gereja selalu memperhatikan gereja ini bahkan saat ia jauh dan tidak dapat hadir bersama mereka. Ia terus bersekutu menaruh gereja itu dalam doa-doanya, bahkan ketika ia sendiri dalam kesusahan dipenjarakan. Kedua, sejak awal gereja itu sudah diarahkan untuk menjadi gereja yang berperan serta melayani dalam berbagai bentuk pelayanan, bukan hanya menerima berkat dan pelayanan. Gereja yang pemimpin dan warganya terfokus melayani Injil Kristus akan menjadi gereja yang sukses di mata Allah.
Camkanlah: Jangan menilai gereja sukses bila ukurannya duniawi. Gereja sukses jika setia menginjili dan bertumbuh dalam iman.

Selasa, 20 Desember 2011
DI HATIKU ADA KAMU (Filipi 1:6-8)
Kadar persekutuan di sebagian besar gereja masa kini sering terasa dangkal. Hanya sedikit warga gereja yang berbakti bersama, saling kenal atau bersahabat mendalam. Lebih sedikit lagi yang memiliki kasih menyala-nyala untuk saling melayani, mendoakan, mendukung pemimpinnya dengan doa dan tenaga. Ini beda sekali dari kondisi gereja di Filipi dan hubungan Paulus dengan para warga gereja ini. Apakah kondisi mereka terlalu ideal atau suatu realitas yang menantang kita untuk berubah?
Hubungan mesra Paulus dan gereja di Filipi terjadi karena Yesus Kristus. Yesus Kristus bukan saja menjadikan mereka bagian dari keluarga Allah atas dasar karya penyelamatan-Nya (ayat 6), tetapi juga membuat mereka menjadi rekan sepelayanan (ayat 7). Persekutuan mesra itu terjadi bukan karena dasar-dasar persamaan yang manusiawi sifatnya tetapi semata adalah akibat dari keberadaan mereka yang telah menjadi satu dengan dan di dalam Kristus. Persatuan rohani ini tidak diterima begitu saja baik oleh Paulus maupun oleh warga gereja di Filipi. Mereka secara aktif memupuk sikap dan melakukan tindakan-tindakan yang membuat kenyataan rohani indah itu bukan sekadar impian kosong tetapi terwujud nyata.
Pertama, dari pihak Paulus terpancar kuat kehangatan kasih kepada orang percaya yang ia layani itu (ayat 7). "Kamu ada di dalam hatiku," betapa mesra perasaan Paulus terhadap mereka sebab mereka semua adalah sesama penerima kasih karunia Allah (ayat 7b). Jarak dan penjara tidak dapat merenggangkan hubungan yang dibakar oleh rindu yang dalam (ayat 8). Kedua, di pihak warga gereja pun tumbuh kasih mesra dan keikutsertaan melayani yang setimpal. Mereka tidak saja menikmati pelayanan Paulus tetapi bersukacita terlibat mendukung Paulus dalam suka-duka pelayanannya demi Injil.
Tekadku: Melawan arus pendangkalan hubungan yang melanda dunia ini dengan aktif mendoakan dan membuka diri bagi sesama saudaraku seiman.

Rabu, 21 Desember 2011
BERTUMBUH MENUJU KESEMPURNAAN (Filipi 1:9-11)
Banyak orang memulai sesuatu dengan baik, tetapi di tengah jalan mulai tersendat sampai pada akhirnya mandek. Demikian juga banyak orang Kristen memulai imannya dengan semangat berkobar-kobar, tetapi di tengah jalan ketika tantangan dan kesulitan menerpa, iman itu mulai terseok-seok bahkan pada akhirnya terhenti total. Lebih baik tidak memulai sesuatu bila kemudian tidak ada kesungguhan untuk menuntaskannya. Bagaimana kiat menghindari kemandekan iman itu?
Paulus mengenali bahaya berhenti bertumbuh. Oleh karena itu ia terus menerus mendoakan jemaat Filipi agar terus bertumbuh. Kiat untuk luput dari kemandekan bertumbuh adalah terus bertumbuh tanpa henti! Pertama, tenaga yang mendorong pertumbuhan iman adalah kasih kepada Tuhan dan sesama. Paulus mendoakan agar jemaat Filipi bertumbuh dalam hal itu (ayat 9a). Kedua, kasih bukan semata soal emosi tetapi soal kebenaran. Artinya, kasih sejati adalah kasih dalam kebenaran. Itu sebabnya Paulus berdoa agar mereka tumbuh dalam pengetahuan dan pengertian yang benar dan yang baik (ayat 9). Ketiga, pertumbuhan sejati tidak bisa lepas dari kekudusan. Hakikat pertumbuhan iman adalah bertumbuh di dalam Dia dan serupa Dia. Tumbuh dalam kasih dan dalam kebenaran berarti tumbuh dalam pengenalan akan Allah. Semakin akrab hubungan orang dengan Allah, semakin orang itu akan diubahkan oleh pancaran kemuliaan-Nya menjadi makin sekudus semulia Dia.
Dengan kata lain, tiga hal hakiki penangkal kemandekan rohani adalah: kobarkan kasih kepada Allah dan sesama, kenali firman secara mendalam oleh pertolongan Roh, hiduplah serasi dengan sifat kudus Allah dalam keseharian kita. Niscaya, kehidupan rohani kita akan mengalami dinamika yang menggairahkan.
Renungkan: Iman yang bertumbuh tidak hanya merenungkan dengan takjub kasih Allah. Iman yang tumbuh ialah yang aktif mengasihi, menggali firman penuh gairah, mencintai Allah dalam tindakan kudus.

Kamis, 22 Desember 2011
KASIH VERSI NATAL (1 Korintus 13:1-8)
Seorang penulis memarafrasekan 1 Korintus 13 untuk menjelang momen Natal, demikian: "Jika saya menghias rumah begitu sempurna, dengan rangkaian lampu dan bola-bola, tetapi tidak menun-jukkan kasih, maka saya hanya pendekor ruangan. Jika saya bersusah payah membuat kue Natal, menyiapkan hidangan Natal istimewa, tetapi tidak menunjukkan kasih, maka saya ini sekadar koki yang bekerja keras. Jika saya menyanyi di panti-panti dan memberi sumbangan Natal, tetapi tidak melakukannya dengan kasih, maka itu tak ada gunanya sama sekali.
"Kasih membuat seseorang berhenti memasak, agar ia dapat memeluk anaknya. Kasih mengesampingkan pekerjaan mendekor rumah agar ia dapat mencium suaminya. Kasih tetap sabar, meski seseorang sedang sibuk dan lelah. Kasih tidak cemburu kepada tetangga yang telah menata keramik dan taplak bertema Natal. Kasih tidak menghardik anak-anak agar tidak ribut, tetapi justru mensyukuri keberadaan mereka. Kasih tidak hanya memberi kepada mereka yang dapat membalas, tetapi justru bersukacita memberi kepada mereka yang tak mampu membalas. Kasih menanggung segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, menahan segala sesuatu. Kasih tak pernah gagal. Video games akan berlalu, kalung mutiara akan hilang, klub olahraga akan berakhir, tetapi kasih tak berkesudahan."
Masa Natal adalah puncak kegembiraan, sekaligus puncak kesibukan bagi hampir setiap umat kristiani. Namun, jangan sampai kita kehilangan kasih, agar dengannya kita mampu bersikap benar dan turut menghadirkan damai di bumi. (AW)
SEMPURNAKAN KEINDAHAN NATAL DENGAN MEMBUBUHKAN KASIH PADA SETIAP KESIBUKAN DAN PERAYAAN

Jumat, 23 Desember 2011
PERAYAAN YANG PENUH SUKACITA (Matius 1:18-25)
Saat Allah menunjukkan kebaikan-Nya, Dia senang bila kita menanggapinya dengan sukacita. Sebagai contoh, saat Allah mengembalikan bangsa Israel dari pembuangan, Dia meminta mereka mengadakan sebuah perayaan untuk memperingati pembangunan kembali Bait Allah dan tembok-tembok Yerusalem (Nehemia 8). Dan mereka benar-benar merayakannya!
Jika Allah menghendaki bangsa Israel bergembira karena kebaikan-Nya, mungkinkah Dia menghukum kita bila kita merayakan Natal dengan antusias? Bukankah salah satu pesan malaikat kepada para gembala adalah "kesukaan besar"? (Lukas 2:10).
Memang benar Alkitab tidak meminta kita merayakan hari kelahiran Yesus. Kita bahkan tidak tahu tanggal kelahiran-Nya yang pasti, banyak hal mengenai masa itu berlatar belakang penyembahan berhala. Namun tidaklah salah untuk merayakannya, asalkan Kristus tetap menempati tempat yang terpenting dalam hidup kita. Kita tidak lagi memberhalakan tumbuh-tumbuhan tertentu yang biasa dipakai sebagai hiasan Natal seperti halnya kita juga tidak menghubungkan hari Minggu dan Senin dengan hari-hari penyembahan dewa matahari dan bulan. Sekalipun orang-orang tak percaya merayakan hari itu untuk tujuan lain, bukan berarti kita tidak dapat menikmati perayaan itu.
Tempatkan Kristus di tempat yang terutama dalam hati Anda. Rayakan kelahiran-Nya. Nyanyikan lagu-lagu yang riang. Berkumpullah dan bersukacitalah dengan keluarga. Jadikanlah waktu belanja sebagai saat untuk mengingat kebaikan Allah. Bila kita mengasihi Yesus, Dia pun memberkati perayaan kita. (HVL)
KITA DAPAT MENIKMATI NATAL SEBAB KITA MENGENAL SUKACITA DALAM KRISTUS

Sabtu, 24 Desember 2011
SELAMAT HARI NATAL! (Yohanes 3:13-18)
Saat berjalan memasuki gereja pada pagi Paskah tahun yang lalu, saya berpapasan dengan seorang teman saya dan menyapanya, "Selamat Natal!" Namun, setelah menyadari kesalahan saya, saya segera mengoreksi diri sendiri. "Maksud saya, Selamat Paskah!"
"Kita tidak dapat merayakan yang satu tanpa merayakan yang lainnya," jawabnya dengan tersenyum.
Benar sekali! Tanpa Natal, tidak akan ada Paskah. Dan tanpa kebangkitan, hari ini hanyalah hari biasa. Bahkan, bisa jadi kita tidak akan berada di gereja.
Natal dan Paskah merupakan perayaan yang paling menggembirakan bagi umat kristiani. Pada hari Natal, kita merayakan penjelmaan Allah (Allah mengambil rupa manusia dan datang ke dunia). "Karena Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal ..." (Yohanes 3:16).
Pada hari Paskah, kita merayakan kebangkitan Yesus. "Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit," kata malaikat (Lukas 24:6). Sejak awal zaman, kedua hari ini berhubungan erat dalam rencana besar Bapa. Yesus lahir untuk mati bagi dosa-dosa kita dan untuk mengalahkan maut agar kita dapat hidup.
Manakah yang lebih penting? Natal kelahiran bayi Yesus? Atau Paskah kematian dan kebangkitan Anak Allah? Keduanya sangat penting dan dua-duanya merupakan bukti nyata kasih Bapa bagi kita.
Selamat Natal! Dan Selamat Paskah!. (CHK)
NATAL DAN PASKAH MERUPAKAN DUA BAB DARI BUKU YANG SAMA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar