RENUNGAN SEPANJANG MINGGU
Senin, 20 Mei 2013
PENEKANAN PENTAKOSTA (Kisah Para Rasul 2:1-13)
Pentakosta pada zaman Perjanjian Baru adalah hari turunnya Roh Kudus pada hari ke-50 setelah Paskah (kebangkitan Yesus). Pentakosta Perjanjian Lama, yaitu hari ke-50 setelah Paskah Israel (Ul 16:1). Mereka memperingati pemberian 10 Hukum Tuhan dan perayaan syukur karena panen gandum (Ul 16:10; Kel 34:22). Pada hari itu orang Israel tidak boleh bekerja (Im 23:21; Bil 28:26). Pentakosta Perjanjian Lama menjadi Pentakosta Perjanjian Baru karena apa yang terjadi dalam perikop hari ini.
Pertama, janji Tuhan digenapi, yaitu pemberian Roh Kudus (Kis 1:4, 5, 8). Roh Kudus turun dan memenuhi umat-Nya (4). Bukan hanya rasul-rasul yang menerima Roh Kudus, semua orang percaya juga menerima Roh Kudus.
Kedua, penekanan dari Pentakosta adalah pemberitaan Injil. Tidak sedikit gereja atau hamba Tuhan yang memaknai Pentakosta dengan bahasa roh. Padahal Kisah Para Rasul 1:8 menegaskan bahwa Roh Kudus diberikan supaya mereka memiliki kuasa untuk menjadi saksi Kristus. Roh Kudus yang menyebabkan para rasul itu bisa berbicara dalam bahasa-bahasa asing, bertujuan supaya para pendatang dapat mendengar berita Injil mengenai perbuatan besar yang dilakukan Allah (11). Setelah mereka mendengar Injil dan kembali ke negara masing-masing, mereka menyebarkan Injil yang telah mereka dengar.
Ketiga, dalam memberitakan Injil kita harus siap terhadap reaksi negatif pendengar (13). Ada sebagian yang bukan saja menolak Injil, tetapi juga mengejek orang yang memberitakan Injil.
Saat memperingati Pentakosta kini, kita tidak lagi menantikan Roh Kudus datang, tetapi mengucap syukur atas kehadiran-Nya dalam hidup kita. Dia hadir untuk membimbing kita dalam memenuhi panggilan kita, yaitu memberitakan Injil. Maukah kita taat pada panggilan-Nya dan dengan kuat kuasa-Nya pergi memberitakan Injil?
Selasa, 21 Mei 2013
ABRAHAM DIBENARKAN OLEH IMAN (Roma 4:1-12)
Untuk memperkuat argumentasinya bahwa baik orang Yahudi maupun orang bukan Yahudi, keduanya dibenarkan bukan melalui melakukan Taurat melainkan melalui percaya saja, Paulus mengutip contoh nenek moyang pertama orang Yahudi, Abraham.
Catatan Taurat sendiri menegaskan bahwa Abraham dibenarkan oleh Tuhan bukan karena melakukan Taurat melainkan karena percaya (ayat 3; Kej 15:6). Pertama, Abraham tidak melakukan tindakan apa pun yang membuat ia layak menerima janji Allah mendapat keturunan yang sebanyak bintang di langit (Kej 15:5). Namun ia menerima penggenapan janji itu kemudian hari karena iman! Dengan cara yang serupa Daud mendapatkan pengampunan dosa dari dosa kejinya, berzina dan membunuh, sebagai kasih karunia Allah atasnya (Rm 4:6-8).
Kedua, Abraham menerima janji itu sebelum ia disunat, jauh sebelum Taurat diberikan kepada Israel. Sunat bukan menjadi syarat ketaatannya melainkan sebagai tanda bahwa ia beriman (ayat 11). Ketiga, karena itu, contoh Abraham ini menjadi dasar untuk semua orang, baik Yahudi maupun bukan Yahudi, bahwa imanlah yang menjadi dasar seseorang diperkenan Allah. Itu sebabnya Abraham, sesuai dengan janji Allah baginya, disebut sebagai bapak semua bangsa, bukan hanya bapak bangsa Israel. Setiap orang dari bangsa apa pun, yang percaya kepada Allah, mengalami dibenarkan dengan cara yang sama dialami Abraham.
Kita patut mengucap syukur kepada Allah di dalam Kristus karena kita sekarang adalah orang-orang benar karena kasih karunia Allah yang kita terima melalui iman. Oleh karena itu, kita harus membuktikan keberimanan kita itu dan menyatakan syukur kita melalui ketaatan pada firman-Nya.
Renungkan: Iman Abraham Bukan Sekadar Di Mulut Melainkan Diwujudkan Dengan Memberi Diri Disunat. Apa Bukti Kita Sungguh Beriman?
Rabu, 22 Mei 2013
PEMBENARAN, KASIH KARUNIA, IMAN (Roma 4:1-15)
Untuk memperkuat argumentasi mengenai pembenaran yang hanya didapat dengan kasih karunia oleh iman, Paulus menjadikan Abraham dan Daud sebagai contoh. Keduanya adalah orang Yahudi dan merupakan tokoh yang sangat dihormati orang Israel.
Israel tahu perjalanan iman Abraham, bapak leluhur mereka (ayat 1). Kisah hidup Abraham memperlihatkan berbagai tin-dakan yang dia lakukan sebagai respons terhadap janji, karya, maupun perintah Allah. Maka Abraham disebut bapak orang beriman. Walau demikian Abraham tidak memiliki dasar untuk bermegah karena ia dibenarkan oleh iman, bukan oleh tindakan (ayat 2-5). Tindakannya lahir dari imannya kepada Allah. Maka jelas bahwa pembenaran yang dialami Abraham sama sekali bukan hasil perbuatan baik, tetapi karena anugerah Allah. Abraham dapat diibaratkan sebagai orang yang tidak bekerja, tetapi dapat upah. Selain itu Paulus menjelaskan bahwa Abraham dibenarkan saat ia belum disunat. Baru empat belas tahun kemudian Abraham disunat (Kej 17:24-26). Sunat adalah tanda iman Abraham. Jelas bahwa sama seperti perbuatan baik, sunat bukanlah syarat agar orang dapat menikmati janji-janji Allah (ayat 10-11). Imanlah yang menjadi dasar pemberian janji kepada Abraham bahwa ia akan memiliki dunia. Bukan Hukum Taurat (ayat 13-15).
Paulus juga menjadikan Daud sebagai referensi. Jika Abraham mewakili masa patriark, Daud mewakili masa kerajaan. Jika Abraham hidup sebelum pemberlakuan Taurat, Daud hidup di bawah Taurat. Karya Daud yang dikutip Paulus menyatakan bahwa orang yang dibenarkan Allah adalah orang yang diberkati (ayat 6-8).
Disadari atau tidak, orang zaman sekarang pun masih banyak yang mengandalkan perbuatan baik agar berkenan di mata Allah. Perbuatan baik dalam hubungan dengan orang lain maupun dalam bentuk berbagai ritual agama. Bila anggapan ini pun masih ada dalam benak kita, kiranya penjelasan Paulus membuka pikiran kita.
Kamis, 23 Mei 2013
TERLALU MUDAH (Roma 4:1-8)
Saya membaca tentang adonan kue instan yang gagal dipasarkan. Padahal petunjuknya menyebutkan bahwa yang harus dilakukan hanyalah menambahkan air dan memanggangnya. Perusahaan itu tak habis mengerti mengapa produk itu tidak laku. Dari hasil penelitian, mereka mendapati bahwa konsumen merasa tidak yakin karena adonan itu hanya menggunakan air. Orang-orang menganggapnya terlalu mudah. Jadi, pihak perusahaan mengubah petunjuk membuat kue tersebut, yaitu dengan menambahkan sebutir telur ke dalam adonan sebagai tambahan air. Ide ini berhasil. Penjualan produk itu pun melonjak drastis.
Kisah itu mengingatkan saya tentang reaksi sebagian orang terhadap rancangan keselamatan. Bagi mereka, hal itu kedengarannya terlalu mudah dan sederhana untuk dipercaya, meski Alkitab mengatakan, "Karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; ... [itu] pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu" (Efesus 2:8,9). Mereka merasa ada hal lain yang harus dilakukan, sesuatu yang harus ditambahkan pada "resep" keselamatan Allah. Mereka pikir mereka harus melakukan perbuatan baik untuk mendapatkan kemurahan Allah dan hidup kekal. Namun, dengan jelas Alkitab menyatakan bahwa kita diselamatkan "bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya" (Titus 3:5).
Tak seperti pabrik adonan kue itu, Allah tidak mengganti "formula"- Nya untuk membuat keselamatan lebih laku di pasaran. Injil yang kita nyatakan harus bebas dari perbuatan, meski mungkin kedengarannya terlalu mudah. (RDH)
Jumat, 24 Mei 2013
PEKERJA BERHATI HAMBA (Markus 9: 33-37)
Saya pernah merasa sedih ketika rekan saya harus keluar dari pekerjaannya karena prestasinya semakin hari semakin turun, dalam hal ini dia dikatakan belum bisa membantu menaikkan profit perusahaan, padahal dia adalah seorang yang tekun bekerja dan jujur. Atasan saya tidak pernah memberikan bimbingan dan motivasi kepada rekan saya, tuntutan yang keras seperti ini pun hampir dirasakan di semua perusahaan. Atasan menganggap pekerjanya adalah orang-orang yang sudah profesional.
Murid-murid Yesus memperdebatkan siapa yang terbesar dari antara mereka, ironis sekali jikalau mereka masih memahami Yesus datang ke dunia untuk memberi kekuasaan kepada mereka. Konsep raja secara politis masih lekat dalam pikiran mereka. Hal ini pun beda dengan konsep Yesus, dimana orang yang sukses adalah orang yang mau melayani (ay.35). murid-murid Yesus masih mencari kehormatan bagi dirinya dan melupakan bahwa mereka pun adalah partner Allah dalam dunia ini untuk melakukan pekerjaanNya, mereka harus memiliki hati yang melayani dan tidak memikirkan keuntungan apa yang akan didapatkan saat menjadi pengikut Kristus. Yesus mengkontraskan antara kedudukan tinggi dengan keadaan menjadi hamba yang rela turun kebawah.
Apakah kita sudah menjadi hamba bagi rekan-rekan kita yang lain? hendaklah yang kuat menanggung yang lemah. Bantulah kekurangan mereka, berikan bimbingan dan nasehat untuk bekerja dengan baik, toh kita pun bekerja dengan tujuan untuk kemuliaan Tuhan. Jangan anggap rekan kerjamu sebagai saingan dalam pekerjaan, bekerjalah maksimal dan saling membantu. Jika kita berpikir akan rugi, berarti motivasi kita yang perlu diuji dulu, percayakah kita bahwa Tuhan akan mencurahkan berkatNya dan mencukup setiap kebutuhan anak-anakNya? Tuhan sudah melayani kita, marilah kita pun juga melayani rekan kerja kita yang memerlukan bantuan. (Yuniar)
JADILAH HAMBA BAGI SESAMU DAN JANGAN JADIKAN MEREKA SAINGANMU
Sabtu, 25 Mei 2013
ABRAHAM SEBAGAI MODEL IMAN (Roma 4:1-25)
Orang Yahudi sangat patuh kepada Taurat! Bagi mereka, mengikuti semua isi Taurat adalah jaminan keselamatan. Namun Paulus berkata, tidak ada seorang pun yang dapat selamat karena melakukan Taurat (3:20). Keselamatan hanyalah kasih karunia Tuhan melalui iman (3:27-28).
Paulus memberikan argumen melalui figur yang sangat diagungkan orang Yahudi yaitu, Abraham. Abraham adalah bapa leluhur mereka, secara jasmani (1). Bagi mereka, karena Abraham mengikuti semua perintah Tuhan (hukum Taurat), ia selamat. Paulus menunjukkan bahwa Abraham mendapat keselamatan dan pembenaran dari Allah bukan karena melakukan semua kehendak Tuhan, melainkan karena dia percaya akan setiap perkataan Allah (2-3). Karena iman, Abraham rela meninggalkan sanak keluarganya, kampung halamannya, kemewahan hidupnya menuju tanah yang akan diberikan Tuhan pada-Nya (lih. Kej 12:1, 4). Dengan iman yang teguh, Abraham sabar menantikan janji Tuhan melalui keturunan yang menjadikan Abraham sebagai bapa semua bangsa (17-19). Keteguhan iman Abraham inilah yang menjadikan dirinya menerima kebenaran dan keselamatan dari Tuhan tersebut. Iman Abraham ini juga mendapat penegasan dari keturunannya Daud, seorang figur Raja yang sangat disanjung oleh orang Israel (6-8). Abraham menjadi model dibenarkan oleh iman (16). Sehingga setiap orang, Yahudi atau nonYahudi yang percaya seperti Abraham percaya akan dibenarkan oleh iman mereka kepada Tuhan Yesus (23-25).
Kita semua adalah keturunan Abraham sekaligus pewaris janji keselamatan. Adakah kita memiliki iman yang teguh kepada Tuhan di tengah begitu banyak cobaan, godaan, tantangan dan himpitan yang melanda kehidupan kita? Abraham berhasil mengatasinya dengan iman yang teguh dan bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan. Marilah kita meneladaninya. Kita yang telah dibenarkan dengan kasih karunia Allah dalam Yesus Kristus harus membuktikannya melalui percaya kita yang teguh kepada Tuhan dalam menjalani hidup kita sehari-hari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar