Renungan Harian 06-11 Mei 2013

RENUNGAN SEPANJANG MINGGU


Senin, 06 Mei 2013
NGERI DAN DAHSYATNYA DOSA (Roma 3:9-20)
Dari pemaparan panorama kondisi manusia yang kita telaah beberapa hari terakhir kita telah melihat betapa mengerikannya dosa itu dan betapa kuasanya hadir di mana-mana dalam hidup kita sehari-hari di dunia ini. Paulus menyadari bahwa ketika kita bicara tentang orang jahat dan yang hidup amoral, tentang orang yang legalistik dan orang yang menggampangkan anugerah Allah, kita mungkin merasa diri aman dari semua tantangan itu. Kita mungkin merasa tidak terlalu ekstrem kanan maupun kiri. "Yang penting toh saya saat teduh setiap hari, beribadah dan melayani secukupnya, tidak usah macam-macam, " mungkin itu yang kita pikirkan. Benarkah ada situasi yang aman dari bahaya-bahaya yang telah kita lihat dalam hari-hari terakhir ini?
Dalam perikop yang puitis ini Paulus menjawab "Tidak!" dengan tegas. Tak ada seorang pun yang bisa cukup aman dari kuasa dosa yang hadir di mana-mana. Kenyataannya, tantangan dan cobaan itu bukan saja hadir di sekitar kita, juga di dalam diri kita. Pikiran, perbuatan, perkataan kita; seluruh keberadaan kita telah tercemar oleh natur manusia berdosa. Kecenderungan alami kita bukanlah untuk taat kehendak Allah tetapi berontak dan lari dari dekapan kasih-Nya. Jika Allah membiarkan manusia sendirian, kita akan saling menghancurkan dan membinasakan sebab "rasa takut kepada Allah tidak ada" dalam diri kita.
Apakah dengan Allah menyodorkan diri-Nya kepada kita kita lantas menjadi penurut dan setia kepada-Nya? Tidak juga. Bahkan setelah kita mengenal Kitab Suci dan kebenaran Allah yang terkandung di dalamnya, kita tetap membandel dan berontak. Hukum Allah bukannya membimbing manusia kembali kepada Penciptanya malahan membuat manusia semakin jauh terjatuh ke dalam dosa, dulu kita tidak tahu dan kita berontak, sekarang kita tahu banyak dan semakin canggih memberontak. Pengalaman hidup kita telah membuktikannya: hukum agama apa pun, tidak memadai untuk membawa manusia kepada Allah. Kita membutuhkan solusi non-agamis dari Allah. Hal itu hanya didapat oleh karena anugerah Allah.

Selasa, 07 Mei 2013
TAURAT DAN INJIL (Roma 3:9-20)
Tidak ada seorang pun yang dapat menyjatakan diri benar di hadapan Allah. Bukan berarti bahwa manusia tidak pernah melakukan yang benar. Namun kebenaran yang dilakukan manusia berdosa tidak dapat meraih perkenan Allah. Rasul Paulus menegaskan berulang-ulang bahwa semua orang telah berdosa (ayat 10-12). Perhatikan pengulangan kata "tidak ada" dan "semua" yang menegaskan bahwa semua orang telah tercemar dosa. Bukan saja secara umum, tetapi secara individu juga. Paulus juga menggambarkan bahwa dari ujung rambut sampai ujung kaki manusia penuh dosa (ayat 13-15). Mulai dari kerongkongan, lidah, bibir, mulut, sampai kaki. Hati yang dicemari dosa ternyata mempengaruhi selu-ruh anggota tubuh manusia hingga tercemar juga. Ini memperlihatkan bahwa manusia, sebagai individu, juga berdosa dan tidak dapat menyatakan diri layak berhadapan dengan Allah. Tak hanya sampai di situ. Gambaran keberdosaan manusia itu dilanjutkan Paulus dalam ayat 16-18 dengan klimaks ketiadaan rasa takut akan Allah (ayat 18).
Taurat yang dibanggakan oleh orang Yahudi pun ternyata tidak membuat mereka hidup benar. Taurat sebagai standar kebenaran justru memperlihatkan bahwa tak satu orang pun yang dapat memenuhi Hukum Taurat secara sempurna sehingga dapat disebut benar di hadapan Allah.
Bila begitu sulit menjalankan hidup yang berkenan di mata Allah, bagaimana manusia dapat lepas dari kebinasaan kekal? Hanya dengan Injil! Ya, hanya Injillah yang diperlukan orang berdosa yang hidup di bawah murka Allah agar dapat mencapai jalan menuju Allah. Bila Taurat memperlihatkan kegagalan manusia mencapai standar kebenaran Allah, maka Injil memberi jalan pada kasih karunia Allah melalui Yesus Kristus. Hanya dengan iman kepada Kristus, manusia beroleh kasih karunia Allah yang memungkinkan dia dibenarkan dan beroleh hidup kekal. Maka tiada jalan lain selain percaya. Bagikan juga berita sukacita ini agar orang lain beroleh kasih karunia yang ajaib itu.

Rabu, 08 Mei 2013
SEMUA MANUSIA BERDOSA (Roma 3:9-20)
Akhirnya Paulus menyimpulkan kondisi manusia berdosa dan menunjukkan bahwa baik orang Yahudi maupun orang nonYahudi, mereka berada bersama-sama di bawah kuasa dosa (ayat 9) dan dalam keadaan terhukum (ayat 19).
Paulus mengutip beberapa bagian Perjanjian Lama yang merefleksikan pengakuan para orang suci Perjanjian Lama akan keberdosaan manusia. Pertama, orientasi orang berdosa bukan pada Allah (ayat 11). Akal budi mereka menolak mengakui Allah sehingga mereka hidup untuk diri mereka sendiri semata-mata. Pernyataan Paulus yang mengutip Mazmur 14:1-3 dan 53:2-4 ini begitu keras bagi orang Yahudi, namun benar! Penolakan terhadap Allah tidak selalu mengambil bentuk konfrontatif, seringkali berwujud kepada sikap masa bodoh terhadap firman Allah. Bahkan bisa juga dengan cara memutarbalikkan firman Allah untuk membenarkan tingkah lakunya.
Kedua, akibat orientasi yang salah tersebut, mereka melakukan berbagai dosa dan kejahatan sosial tanpa merasa takut pembalasan Allah (Rm 3:12-18). Ini adalah akibat yang mengerikan yang sama diulas Paulus pada Roma 1:24-32, yaitu ketumpulan hati nurani untuk melihat kekejian hidup mereka dan ketidakpekaan sama sekali terhadap kesucian dan kemurkaan Allah (ayat 3:18).
Bahkan orang yang mengaku beragama dan bertuhan pun dalam kenyataannya bisa menjadi ateis praktis. Agama dan Tuhan tidak lebih hanya simbol status sosial karena di luar ritual-ritual tertentu yang penghayatannya dangkal bahkan kosong, hidupnya penuh dengan kemunafikan, kelicikan, dan rencana-rencana jahat. Orang yang mengaku Kristen pun harus memeriksa diri dengan jujur. Adakah hatinya benar-benar milik Tuhan atau hanya tubuhnya saja di gereja, pada hari minggu, sementara pikiran dan hatinya terus-menerus berdosa!

Kamis, 09 Mei 2013
FUNGSI KENAIKAN-NYA (Kisah Para Rasul 1:1-11)
Sewaktu kecil saya sangat menyukai cerita tentang kenaikan Yesus. Saya membayangkan bagaimana Dia dengan tangan terentang dan penuh keagungan perlahan-lahan naik ke angkasa. Saya bertanya-tanya dalam hati mengapa Dia naik ke surga dengan cara yang terlihat secara jasmani, mengapa Dia tidak menghilang begitu saja seperti yang Dia lakukan setelah kebangkitanNya. Saya juga bertanya-tanya di mana surga itu dan apa yang Yesus lakukan di sana.
Mengapa Yesus naik dengan cara yang dapat dilihat oleh mata? Mungkin untuk menunjukkan bahwa tugas-Nya di dunia sudah selesai, dan bahwa murid-murid-Nya sudah tidak dapat melihat-Nya lagi. Dia telah menebus dosa-dosa kita (Roma 5:8), mengalahkan Setan (Ibrani 2:14), dan mematahkan kuasa maut (Wahyu 1:18). Dia telah memberikan semua bukti dan juga perintah yang dibutuhkan para murid untuk hidup bagi Dia (Kisah Para Rasul 1:1-3).
Untuk apa Dia naik ke surga? Untuk mengaruniakan “pemberian-pemberian kepada manusia” (Efesus 4:8), untuk mengutus Roh Kudus (Kisah Para Rasul 2:33), untuk menjadi Pembela (Roma 8:34) dan Pengantara kita (1 Yohanes 2:1), dan untuk menjalankan peran-Nya sebagai Kepala jemaat (Efesus 1:20-23).
Di manakah surga itu? Dulu saya mengira surga berjuta-juta kilometer di luar angkasa. Namun kini saya bisa membayangkan surga itu dekat dengan kita sekalipun tak dapat dilacak. Saya tahu Yesus ada di sana, dan suatu hari nanti saya juga akan berada di sana. Hal ini membuat saya bersyukur dan bersukacita. Betapa bahagianya kita mempunyai Juru selamat yang telah naik ke surga!. (HVL)
KARYA YESUS TELAH DIGENAPI BAGI KITA. KINI ROH-NYA BEKERJA DALAM DIRI KITA

Jumat, 10 Mei 2013
PERPISAHAN (Lukas 24:36-53)
Suatu kali diadakan pesta perpisahan yang sungguh tak lazim. Yesus yang baru saja bangkit dari kubur berdiri di sana. Selain Dia berdiri pula para pengikut-Nya, yang mendengarkan khotbah-Nya seperti waktu-waktu sebelumnya. Saat itu Yesus berbicara tentang kedatangan Roh Kudus (Lukas 24:49), dan tentang tugas baru mereka untuk menjadi saksi-Nya.
Kemudian sesuatu yang aneh terjadi. Lukas mengatakan bahwa Yesus membawa murid-murid-Nya keluar kota sampai Betania (ayat 50), dan ketika memberkati mereka, Dia "terangkat ke surga" (ayat 51). Markus mengatakan, "terangkatlah Ia ke surga, lalu duduk di sebelah kanan Allah" (16:19).
Kenaikan Yesus ke surga memang menakjubkan. Namun apa yang terjadi kemudian juga luar biasa. Para murid tidak lagi bersedih walaupun Yesus sudah pergi, sebaliknya justru tujuan hidup mereka diperbarui. Mereka menyembah Dia (Lukas 24:52). Mereka kembali dengan sukacita ke Yerusalem, tempat mereka berdoa bersama-sama (Kisah Para Rasul 1:12-14). Kemudian setelah mereka semua menerima kuasa Roh Kudus (Kisah Para Rasul 2), mereka pun pergi dan berkhotbah di berbagai tempat (Markus 16:20).
Walaupun Yesus telah naik ke surga, Roh Kudus membuat kehadiran-Nya nyata bagi kita, sehingga kita pun dapat menyembah, berdoa, dan menjadi saksi-Nya seperti yang dilakukan para murid berabad-abad yang lalu. Inilah hal-hal terbaik yang dapat dilakukan untuk menanggapi apa yang telah Yesus kerjakan bagi kita: Menyembah. Berdoa. Bersaksi. (JDB)
YESUS HARUS PERGI AGAR ROH KUDUS DAPAT DATANG DAN TINGGAL DALAM DIRI KITA

Sabtu, 11 Mei 2013
BUKAN SEKADAR NAMA (Ibrani 1:1-4)
Dalam keseharian hidup berlaku kebenaran: nama bukan sekadar nama, melainkan ada "bobot" wibawanya. Para siswa yang sedang berkelahi akan spontan berhenti ketika nama Pak Hadi, Kepala Sekolah, disebut-sebut sedang mendekat ke arah mereka. Di bidang lain, konsumen juga lebih percaya pada produk yang sudah punya nama. Nama artis yang sedang "naik daun" identik dengan keuntungan besar di bisnis hiburan. Kebaktian Kebangunan Rohani sesak pengunjung karena dilayani oleh pengkhotbah ternama.
Ketika Yesus naik ke surga, ketika karya penebusan-Nya selesai, Dia menerima kembali apa yang semula menjadi milik-Nya, yaitu nama-Nya yang setara dengan Allah. Nama yang mulia kemuliaan yang rela ditanggalkan-Nya demi menyerupai kita, untuk menggenapi karya penebusan. Nama dengan wibawa tertinggi, penuh kuasa. Nama yang terindah. Yang menggetarkan seluruh alam dan segenap makhluk. Menekuk setiap lutut untuk menyembah dan mengakui kedaulatan-Nya. Nama di atas segala nama!
Sadarkah kita bahwa nama Tuhan sedahsyat dan semulia itu? Peringatan kenaikan Tuhan membangkitkan kesadaran kita kembali. Kesadaran yang membuat kita menyanyi memuliakan nama-Nya dengan lebih sungguh. Membuat kita melayani dengan tidak menonjolkan nama dan diri sendiri. Membuat kita tidak gentar akan nama-nama seram yang dekat dengan kuasa gelap. Membuat kita tidak lupa bahwa sementara kita bekerja, bergaul, dan berbicara, nama Yesus sedang kita pertaruhkan di depan semua orang. Sebab, bukankah kita ini surat Kristus yang terbuka, yang terbaca oleh orang-orang di sekitar kita?. (PAD)
TIDAK MUNGKIN MENGASIHI YESUS TANPA MENGHORMATI DAN MEMULIAKAN NAMA-NYA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar