Mimbar Gereja u/Warta 12-05-2013

GIA Sby (Koblen Tengah)
Minggu, 05 Mei 2013
Oleh:  Pdt. Timotius Hogiono

TIDAK ADA SEORANGPUN YANG MENCARI ALLAH
(Roma 3:9-20)

Didalam Surat  Roma 3:9-20, Rasul Paulus sedang membahas tentang keberdosaan Manusia.  Hal ini berarti semua bagian dari manusia sudah tercemar oleh dosa, sehingga manusia mengalami kerusakan total dihadapan Allah. Didalam tradisi Reformed, kita mengenal dengan istilah “Total Depravity” (Kerusakan total manusia yang berdosa). Didalam kondisi semacam itulah manusia yang berdosa tidak akan pernah bisa berhubungan dengan Allah yang maha kudus dan penuh dengan kesucian. Sebagai akibatnya manusia semakin cenderung melakukan perbuatan  dosa dan kejahatan didalam dirinya. Tidak ada seorangpun yang mencari Allah.
Mengapa didalam keberdosaan manusia, tidak ada seorangpun yang mencari Allah didalam hidupnya?  Ada beberapa alasan yang dapat kita perhatikan berkaitan dengan pembacaan nats Firman Tuhan ini:
1. Semua orang  ada dibawah kuasa dosa (ayat 9). Didalam ayat 9 ini, Rasul Paulus sedang melukiskan keadaan dari 2 suku bangsa, yaitu Kaum Yahudi dan Kaum Yunani. Orang Yahudi adalah bangsa pilihan, Umat Allah sendiri (Roma 2), sedang orang Yunani adalah bangsa non Yahudi. Didalam Alkitab mereka dikatakan bangsa penyembah berhala (Roma 1:18-32). Didalam ayat ini, Rasul Paulus mencoba bertanya dengan kalimat tanya “Jadi bagaimana”, kemudian disambung dengan kalimat “Adakah kita” (yang menunjuk kepada orang Yahudi yang memiliki kelebihan). Sebagai jawaban LAI menulis “Sama sekali tidak”. Dalam bagian ini Rasul Paulus sedang berbicara tentang penghakiman terakhir dari Allah, dan Allah tidak pernah memandang bulu (Roma 2:11). Orang Yahudi maupun orang Yunani bagi Paulus bukan 2 bangsa yang dia kenal secara kebetulan, tetapi 2 golongan bangsa ini mewakili seluruh umat manusia didalam dunia ini. Semua ada dibawah kuasa dosa, kuasa jahat yang menguasai seluruh manusia dan menjerumuskan manusia kedalam suatu kebinasaan yang kekal.
2. Semua orang tidak ada yang bersikap benar dan takut dihadapan Allah (ayat 10-18). Dalam ayat 10-18 ini, Rasul Paulus ingin melukiskan tentang suatu pengertian mengenai tabiat manusia yang berdosa dihadapan Allah. Ayat ini merupakan suatu sajak yang tersusun dari berbagai macam kutipan didalam Perjanjian Lama, yang diambil dari Kitab Mazmur. Kumpulan sajak ini dapat dibagi menjadi 3 bagian seperti berikut:

  • Ayat 10-12, menceritakan tentang kekurangan manusia. Ada kurang lebih 5 kali, pengulangan kata “tidak ada”.  Yang menegaskan bahwa tidak ada perkecualian sama sekali didalam diri manusia yang berdosa, banyak kekurangan dan kelemahan.
  • Ayat 13-14, menceritakan tentang perkataan manusia.  Didalam ayat ini Paulus menyebut dengan kata:  Kerongkongan, lidah, bibir, mulut.  Sehingga ada suatu kesan bahwa bagian dari anggota tubuh manusia ini menjadi alat dosa, dan dipakai sebagai senjata kelaliman manusia. Tekanan pada perkataan manusia ini juga ditulis oleh Yakobus didalam  Pasal 1:19; 1:26; 3:1-12.
  • Ayat 15-18, menceritakan tentang kelakuan manusia. Rasul Paulus menggambarkan bagaimana orang yang berdosa tersebut,  sama sekali tidak dapat mengerti bagaimana caranya untuk hidup secara damai dengan orang lain (ayat 17). Akar dari semuanya itu karena mereka tidak takut kepada Allah, sehingga keberadaan Allah tidak masuk dalam pertimbangan pikiran dan sikap manusia yang membawa mereka tidak pernah mencari Allah dalam hidupnya (ayat 18).

3. Semua orang telah jatuh dibawah hukuman Allah (ayat 19-20). Ayat 19-20, merupakan bagian terakhir dari eksposisi Paulus tentang keberdosaan manusia. Ayat ini juga bisa dilihat sebagai kesimpulan dari suatu tema besar tentang keberdosaan manusia yang dimulai dari Roma 1:18 sehingga dalam kalimat Firman Tuhan ini disimpulkan dengan kalimat “tersumbat setiap mulut dan seluruh dunia jatuh kebawah hukuman Allah (ayat 19). Dalam ayat 20 sebagai penutup, Paulus menyatakan dengan singkat apa yang dihasilkan dari Hukum Taurat dan apa yang tidak dapat dihasilkan dari Hukum Taurat.
Melalui Firman Allah ini biarlah membuat kita semakin mengerti dan menyadarkan kita tentang keberadaan dosa-dosa manusia, sehingga tidak ada seorangpun yang mencari Allah. Namun  kita patut bersyukur kepada Allah bahwasanya Allah yang penuh dengan kasih setia dan rahmat-Nya mencari kita orang-orang yang berdosa, untuk diampuni dan diselamatkan, semata-mata hanya oleh anugrah-Nya. Amin.

Diringkas oleh: Pdt. Susi Raswati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar