Renungan Harian 27 Februari - 03 Maret 2012

RENUNGAN SEPANJANG MINGGU

Senin, 27 Februari 2012
MENGIKUT YESUS SEPENUH HATI. (Lukas 14:25-35)

Setelah krismon melanda Indonesia tahun 1997, kita bisa melihat di mana-mana monumen kegagalan pembangunan. Misalnya, gedung seperempat atau setengah jadi yang ditinggal mangkrak oleh pemiliknya karena dana yang menciut gara-gara dolar membengkak. Ilustrasi seperti ini (lihat 28-30) dipakai oleh Yesus untuk mengajarkan bahwa mengikut Yesus harus penuh perhitungan.
Mengikut Yesus tidak boleh setengah-setengah, harus sepenuh hati. Kata-kata Tuhan Yesus bahwa seorang pengikut Yesus harus membenci orang tua, suami-istri, dan saudara-saudaranya (ayat 26), sebenarnya bermaksud menegaskan prioritas hati lebih kepada Yesus daripada kepada hal-hal lain, termasuk kepada dirinya sendiri.
Untuk itulah Yesus mengajukan dua perumpamaan yang menegaskan kesungguhan hati mengikut Dia. Seorang yang mau membangun menara (mungkin sekali menara pengawas kebun anggur) harus memperhitungkan anggarannya supaya jangan sampai hanya separuh jalan sudah defisit, akhirnya terbengkalai (ayat 28-29). Atau, seorang yang mau pergi berperang harus memperhitungkan kekuatan lawan dengan kekuatan pasukannya untuk memastikan kemenangannya (ayat 30-32). Kedua perumpamaan ini menyimpulkan satu hal, yaitu seseorang harus memperhitungkan sungguh-sungguh harga yang harus dibayar dalam mengikut Tuhan, baru dengan demikian ia layak disebut murid Tuhan (ayat 33).
Mengikut Tuhan kalau separuh hati adalah ibarat garam yang berubah menjadi tidak asin. Garam yang kehilangan rasa asin berarti kehilangan fungsinya. Demikian juga menjadi murid Tuhan yang setengah-setengah sama saja dengan tidak berfungsi apa-apa. Tidak ada gunanya selain dibuang! (ayat 34-35)
Untuk dilakukan: Anda sudah jalan sejauh ini sebagai anak Tuhan. Sekarang waktunya untuk memutuskan mau mengikut Dia sepenuh hati, dengan konsekuensi taat sepenuhnya, atau ...?

Selasa, 28 Februari 2012
SYARAT IKUT YESUS (Lukas 14:25-35)
Seorang tokoh masyarakat biasanya akan senang memiliki pengikut. Apalagi kalau ia berkarier di bidang politik. Banyaknya pengikut akan menunjang kemajuan kariernya.
Yesus saat itu diikuti banyak orang. Tetapi Ia tahu bahwa itu bukan karena mereka memiliki komitmen untuk mengikut Dia. Mungkin saja hanya karena Yesus sedang populer saat itu. Oleh karena itu Yesus berkata pada mereka bahwa jika mereka tidak "membenci" anggota keluarganya, bahkan dirinya sendiri, mereka tidak dapat menjadi murid-Nya (26). Yesus bukan bermaksud agar pengikut-Nya tidak menghargai keluarga mereka. Yang Ia maksudkan adalah tidak ada ikatan apapun, yang boleh melebihi kesetiaan dan ketaatan orang pada Yesus. Dialah yang harus menjadi nomor satu! Tidak ada tempat buat yang lain. Hanya jika Dia menjadi prioritas utama dalam hidup seseorang, barulah dia dapat menjadi murid Yesus. Itulah sebabnya mereka harus berpikir masak-masak, karena untuk itu harus ada keseriusan dan komitmen. Sebab mengikut Yesus bukan hanya bicara masalah sekarang, tetapi juga mencakup keputusan dalam hidup di masa depan. Oleh karena itu, jika orang tidak memiliki kesungguhan hati, sebaiknya jangan mulai! Jangan maju ke medan perang, jika tidak yakin akan menang.
Mengikut Tuhan Yesus memang punya konsekuensi. Mungkin kita harus mengambil keputusan yang sangat berbeda dengan dunia di sekitar kita, keluarga akan memusuhi kita, kita akan dikucilkan di lingkungan kita, atau tidak memperoleh keuntungan karena kejujuran kita. Kita memang harus sadari bahwa menjadi murid Tuhan berarti siap menempatkan Yesus di atas segala kepentingan pribadi, keluarga atau karier. Ikut Yesus berarti memikul salib yang bermakna mematikan keakuan dan keinginan pribadi (27). Hanya yang setia melakukan kehendak Tuhan dan teguh imanlah yang akan disebut murid Tuhan.
Camkan: "... karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar." (Filipi 2:12)

Rabu, 29 Februari 2012
KALKULASI DULU (Lukas 14:25-35)
Di dalam dunia bisnis, kalkulasi merupakan hal yang mutlak dilakukan. Orang harus berhitung dahulu, apakah bidang usaha yang akan dijalankan akan mendatangkan keuntungan setelah ia harus mengeluarkan modal sedemikian banyak.
Ternyata bukan bidang bisnis saja yang perlu kalkulasi. Mengikut Yesus pun perlu kalkulasi, karena ada harga yang harus dibayar! Mengikut Yesus mengharuskan orang mempersilakan Yesus menguasai seluruh "teritorial’ hidupnya. Menjadi murid Yesus menuntut orang menempatkan Yesus di atas kepentingan, kepemilikan (33), keluarga, maupun diri sendiri (26).Menjadi murid Yesus juga berarti pikul salib (27). Salib bicara mengenai penderitaan dan kesengsaraan. Tidak ada orang yang memikul salib sambil tersenyum dan melambaikan tangan.
Nyata bahwa menjadi murid Yesus bukanlah perkara remeh. Sebab itu Yesus menganjurkan orang untuk mengalkulasi terlebih dahulu semua konsekuensi yang harus dipikul bila orang ingin menjadi murid-Nya (28-32). Alangkah memalukan bila orang mau menjadi murid Kristus, tetapi tidak mampu menyelesaikan tugas sebagai pengikut Dia.
Lalu kenapa orang bisa gagal? Sebab ia menempatkan kepentingan, kepemilikan, keluarga, atau diri sendiri di atas Yesus. Yesus bukan lagi yang terutama di dalam hidupnya. Dan orang yang tidak teguh dalam komitmennya mengikut Kristus sama seperti orang yang membangun menara, tetapi tidak dapat menyelesaikannya karena ia tidak mengalkulasi terlebih dahulu. Atau seperti raja yang tidak menang perang karena tidak mengalkulasi jumlah prajuritnya dan prajurit lawan. Orang-orang semacam ini hanya akan menjadi bahan tertawaan pihak lain.
Maka ketika memutuskan untuk ikut Kristus, komitmen kita harus teguh sehingga kita tidak menjadi pecundang iman yang berhenti di tengah jalan karena menyerah pada situasi dan kondisi di sekitar kita. Jika demikian, kita sama saja dengan garam yang menjadi tawar (34-35). Tak ada gunanya! Maka teguhlah dalam komitmen dan setialah dalam iman agar kita dapat menyelesaikan tugas kita sampai akhir.

Kamis, 01 Maret 2012
SIAPA YANG BERTAKHTA? (Ulangan 6:1-15)
Menurut Oliver Reynolds, seorang pujangga Inggris, ada seorang lelaki tua yang mendirikan sebuah altar keluarga. Di situ ia membakar dupa untuk menghormati ukiran gambar Napoleon. Tatkala ditanya mengapa ia menyembah gambar itu sebagai ilah, lelaki itu menjawab bahwa ia akan menyembah apa saja.
Bayangkan bahwa ada orang yang mau menyembah lukisan jenderal dari Perancis itu! Bayangkan juga bahwa ada orang yang membakar-bakar dupa untuk menghormati gambar seorang manusia yang tidak mempunyai hubungan khusus dengan pemujanya! Itu adalah penyembahan berhala!
Tentu saja kita bukan penyembah berhala seperti itu. Tetapi apakah kita secara tidak langsung mengabaikan perintah Allah: "Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku"? (Keluaran 20:3). Kita tentu juga tidak akan menyembah lukisan manusia mana pun, walaupun orang itu sangat terkenal atau berkuasa. Namun siapakah yang sesungguhnya bertakhta di hati kita?
Apakah kita menempatkan orang yang kita kasihi di tempat yang paling istimewa dalam hati kita? Apakah orang tersebut kita kasihi lebih dari segalanya? Mungkin kita mendewakan uang. Atau mungkin pekerjaan merupakan prioritas utama kita.
Yesus berkata, "Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti" (Lukas 4:8). Benarkah hanya Dia satu-satunya yang kita sembah dan kita layani?
Luangkanlah waktu untuk bersekutu dengan Allah. Lalu, ujilah hati Anda. Pasti-kan bahwa Anda bukan penyembah berhala. (VCG)

Jumat, 02 Maret 2012
KONSEKUENSI SEBUAH KEPUTUSAN (Matius 8:18-22)
Aktivitas paling menyenangkan di keluarga kami adalah perbincangan sebelum tidur malam. Suatu kali si bungsu menceritakan keinginannya menjelajah dunia mencari beasiswa untuk sekolah di banyak tempat dan berkarier di banyak negara. Saya memang bangga dengan prestasinya. Namun, saya mengingatkannya pada konsekuensi cita-cita itu: ia harus belajar dan bekerja lebih keras supaya dapat meraih beasiswa dan mampu bersaing dengan tenaga kerja terdidik lainnya.
Tampilnya Yesus dengan pengajaran yang berkharisma, dengan kuasa ilahi untuk menyembuhkan, serta kepribadian-Nya yang hangat, mempesona begitu banyak orang. Lalu sesuatu yang tak lazim terjadi. Seorang ahli Taurat kaum yang "biasanya" memusuhi dan mencari kesalahan Yesus dengan penuh kekaguman menyapa Yesus sebagai "rabi" (guru besar). Bahkan, ia menyatakan kerinduan untuk ikut Yesus ke mana pun. Saat menanggapinya, Yesus seolah-olah berkata: "Sebelum mengikut Aku, sadarilah keputusanmu, sebab ada harga yang harus kaubayar."
Yesus tak ingin menggalang pengikut yang hanya terseret emosi sesaat. Semangatnya mudah berkobar, tetapi sebentar kemudian surut dan lenyap. Yesus mengingatkan bahwa mengikut Dia berarti menyangkal diri dan memikul salib (Matius 10:38), lebih mengutamakan Dia di atas kepentingan sendiri dan keluarga (Lukas 14:26), dan membagikan harta bagi orang miskin (Matius 19:21). Sanggupkah Anda memikul konsekuensi dari keputusan mengikut Dia? Jangan ambil keputusan karena emosi atau ambisi. Ambillah keputusan karena Anda menyadari bahwa Dia yang memanggil maka Dia akan memampukan Anda untuk setia mengiring dan melayani-Nya. (SST)
IKUTLAH YESUS BUKAN UNTUK MENCARI BERKAT TETAPI UNTUK MENJADI BERKAT

Sabtu, 03 Maret 2012
HARGA MENGIKUT KRISTUS  (Filipi 1:27-30)
Jika Tuhan telah berkehendak, tak ada kuasa lain yang dapat membatalkannya. Inilah yang terjadi pada Boris Yeltsin, tokoh garis keras, mantan Presiden Rusia yang terkenal dengan paham komunis yang anti-Tuhan. Sulit memercayai bahwa Yeltsin sangat berbeda kini, sebab ia telah bertobat dan percaya kepada Yesus. Pertobatannya menggemparkan seluruh Rusia. Atas pertobatannya itu ia berani membayar harga yang mahal, mengingat ia hidup di negara komunis yang berprinsip bahwa musuh terbesar manusia adalah agama dan kepercayaan kepada Tuhan. Tak sedikit cercaan dan kecaman yang harus ia terima ketika beribadah di gereja, karena banyak yang meragukan kesungguhan pertobatannya.
Setelah menerima Kristus, Yeltsin selalu berjuang untuk hidup dalam firman Tuhan sebagai satu-satunya sumber kebenaran. Karenanya ia tidak takut akan konsekuensi yang harus ia terima, meskipun sulit. Hari ini, Paulus mengingatkan supaya kita terus berjuang memiliki hidup yang berpadanan dengan Injil Kristus (ayat 27). Seperti Yeltsin, ada harga yang harus dibayar untuk hidup di dalam iman kita; baik berupa materi, waktu, tenaga, dan pikiran. Belum lagi apabila ada kritik, cercaan, dan kecaman dari orang-orang yang meragukan kesungguhan kita. Bahkan, sekalipun kita sedang mencoba melakukan sesuatu yang baik.
Menjadi orang kristiani tak selalu menjalani hidup yang indah, tanpa masalah, tanpa pergumulan. Perjalanan hidup kita bisa sarat dengan penderitaan dan harga yang harus dibayar untuk melakukan kehendak Tuhan (ayat 29). Yakinlah bahwa Tuhan tidak tinggal diam. Dia akan menolong dan menguatkan. (PK)
ADA HARGA YANG HARUS BERANI KITA BAYAR KETIKA KITA BERKOMITMEN UNTUK HIDUP BENAR

Tidak ada komentar:

Posting Komentar