Renungan Harian 02 - 07 Januari 2012

RENUNGAN SEPANJANG MINGGU

Senin, 02 Januari 2012
JIKA TUHAN MENGHENDAKI (Yakobus 4:13-17)

Hidup di dunia itu singkat. Kata pepatah Jawa, "urip mung mampir ngombe" [hidup itu hanya mampir minum]. Gambaran hidup manusia dalam Alkitab juga sama singkatnya. Seperti suatu giliran jaga malam, seperti mimpi, seperti bunga dan rumput, seperti angin dan bayangan (Mazmur 90:4-5; 103:15; 144:4). Bacaan hari ini melengkapinya. Seperti uap! Sebentar ada lalu lenyap (ayat 14).
Bagaimana harus menata hidup dalam waktu yang seperti "uap" ini? Rasul Yakobus menasihatkan agar umat percaya tak mengandalkan diri sendiri, tetapi memikirkan apa yang dikehendaki Tuhan (ayat 15-16). Kita melakukan ini dan itu "jika Tuhan menghendakinya ...." Ungkapan ini jelas bukan hanya bagian dari sopan santun agar seseorang terlihat rendah hati dan rohani atau alasan menghibur diri menghadapi berbagai ketidakpastian. Namun, merupakan ekspresi ketundukan pada kedaulatan Tuhan mengakui bahwa Dialah pemegang kendali atas hidup ini. Kehendak-Nya, isi hati-Nya penting bagi kita.
Dr. Michael Griffiths, dalam buku Ambillah Aku Melayani Engkau, berkata: "Kita punya satu hidup untuk ditempuh. Mungkin sudah kita lalui seperempat, sepertiga, setengah, bahkan mungkin lebih dari itu. Apa yang sudah kita lalui itu sudah lampau, dan takkan kembali lagi. Tetapi bagaimana dengan yang masih sisa? Apakah yang akan kita lakukan dengan itu?" Hidup itu singkat; tak terduga. Mari membuat perencanaan dalam kehidupan pribadi, keluarga, dan pekerjaan di awal tahun ini, dengan sungguh-sungguh mengakui kedaulatan Tuhan dan menundukkan diri pada kehendak-Nya. (ELS)
YA TUHAN, MESKI HIDUPKU SEPERTI UAP YANG MUDAH BERLALU. BIARLAH HADIRKU MEMBAWA AROMA HARUM DI HADAPAN-MU

Selasa, 03 Januari 2012
BERMEGAH DI DALAM TUHAN (2 Korintus 10:12-18)

Kita mungkin sering bermegah atas banyak hal dalam kehidupan kita. Misalnya bermegah atas hasil kerja yang memuaskan. Sebagai orang percaya, bolehkah kita bermegah? Apa yang Alkitab katakan tentang bermegah?
Sekelompok orang di Korintus ternyata memiliki kebiasaan untuk memegahkan diri mereka sendiri (12b). Bagi Paulus sikap mereka itu dapat menjadi ancaman bagi kemurnian iman jemaat Korintus. Oleh karena itu, Paulus merasa berkepentingan untuk mengoreksi kebiasaan mereka tersebut. Apakah itu berarti Paulus melarang orang memegahkan diri? Dalam teks yang kita baca ini, tidak ada kesan bahwa Paulus melarang orang bermegah. Yang dia koreksi adalah: Pertama, kemegahan yang berpusat pada diri sendiri (12b). Seolah-olah segala keberhasilan yang diperoleh adalah berkat kemampuan diri semata, tanpa campur tangan Tuhan. Kedua, kemegahan dalam ketidakjujuran (13-16). Sekelompok orang di Korintus bermegah atas keberadaan jemaat Korintus, seolah-olah merekalah yang telah berperan dalam membangun jemaat itu. Padahal tidak demikian. Paulus menegaskan bahwa bukan mereka yang telah membangun jemaat itu, tetapi dirinya dan timnyalah yang telah berjuang membangun jemaat Korintus.
Bermegah bukanlah suatu tindakan yang salah. Namun Paulus menegaskan kepada jemaat Korintus bahwa jika mereka bermegah, hendaklah mereka bermegah di dalam Tuhan (17). Maksudnya, kemegahan itu seharusnya tidak terlepas dari kesadaran bahwa keberhasilan yang dicapai adalah juga berkat campur tangan Tuhan. Kemegahan itu seharusnya juga merupakan kemegahan karena prestasi yang dihasilkan dari kerja keras, yang tetap menjunjung nilai-nilai kejujuran dan kebenaran. Jadi bukan keberhasilan oleh karena kebohongan dan manipulasi. Kiranya kita hanya bermegah karena kuat kuasa Tuhan di dalam diri kita.
Renungkan: Apakah aku bermegah dengan kesadaran bahwa semua prestasiku adalah karunia dari Tuhan?

Rabu, 04 Januari 2012
BAGI DIA (Mazmur 98)

Putri saya Julie, yang berumur 17 tahun dan teman kerjanya di toko serba ada bertemu untuk makan siang. Temannya itu mengajukan beberapa pertanyaan tentang kehidupan, dan dengan senang hati Julie berbicara tentang iman. Ketika mereka duduk dengan hidangan di atas meja, Julie menundukkan kepalanya untuk berterima kasih pada Tuhan atas makanan tersebut. Begitu selesai berdoa, temannya berkata, "Saya tidak berdoa. Apakah Allah akan membinasakan saya karena hal itu?"
Tanggapan orang tersebut menunjukkan bagaimana orang-orang memandang Allah. Banyak yang berpikir bahwa tindakan-tindakan saleh kita, seperti berdoa, menyanyi, beribadah dan membaca Kitab Suci dilakukan sebagai sarana pengamanan untuk menghindari hukuman Tuhan. Bila kita berpikir demikian, kita akan memiliki motivasi yang salah dalam melakukan sesuatu bagi Allah. Pemikiran semacam itu hanya membuat kita berdoa dan memuji Allah demi kepentingan atau perkenan pribadi.
Penyembahan kita kepada Tuhan tidak dilakukan untuk mendapatkan keuntungan. Namun, setiap pemikiran atau tindakan pengagungan kita harus keluar dari rasa hormat kita bagi Dia dan ke+6besaran-Nya. Hati dan suara kita harus dipenuhi dengan pujian seperti yang dinyatakan dalam Mazmur 98. Pernyataan rasa syukur kita adalah kurban bagi-Nya (Mazmur 116:17).
Jika kita mengarahkan perhatian kepada Allah pasti kita akan beruntung, tapi jangan biarkan keuntungan menjadi dasar motivasi kita. Menyembah Allah bukan demi kepentingan kita. Namun harus selalu bagi Dia. (JDB)
KITA TIDAK MEMUJI ALLAH UNTUK MENDAPATKAN KEUNTUNGAN DARI-NYA KITA TELAH MENDAPATKAN SEMUANYA ITU


Kamis, 05 Januari 2012
BUKAN HAK KITA (Yohanes 3:22-36)
Nama Tenzing Norgay tidaklah sepopuler Sir Edmund Hillary. Padahal, Norgay adalah orang yang mendampingi dan bersama Hillary menaklukkan Mount Everest. Ia adalah penduduk asli yang berprofesi sebagai pemandu jalan bagi Hillary. Setelah pendakian yang monumental itu, nama Hillary menjadi terkenal ke seluruh dunia. Ia pun diingat dan dikenang sebagai orang pertama yang menaklukkan Mount Everest. Kecewakah Norgay? Tidak. Dalam sebuah wawancara ia berkata, "Andai menjadi orang kedua yang menaklukkan Everest adalah hal yang memalukan, saya akan menanggungnya." Norgay sadar betul ia hanyalah pemandu. Tugas utama seorang pemandu adalah mengantar orang tiba di tempat tujuan. Apa yang dicapai setelah itu bukanlah "bagiannya".
Sama dengan sikap yang dihidupi oleh Yohanes Pembaptis. Yohanes sadar betul bahwa dirinya hanyalah seorang utusan; pembawa berita. Bukan berita itu sendiri. Tugasnya adalah membuka jalan bagi Sang Mesias (ayat 28). Kepada murid-muridnya yang bertanya, ia menjawab, "Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil" (ayat 30).
Begitulah prinsip dasar pelayanan kristiani: menjadikan Tuhan, yang kita junjung dan layani, semakin dimuliakan dan diingat. Pelayanan bukan untuk "membesarkan" nama kita, sebab kita ini hanyalah alat; entah sebagai pendeta, guru Sekolah Minggu, aktivis gereja, atau apa pun. Justru kalau karena pelayanan kita, orang malah lebih mengingat dan mengagumi kita, pasti ada yang salah. Sebab itu berarti kita telah mengambil apa yang bukan hak kita. (AYA)
TUJUAN PELAYANAN ADALAH MENJADIKAN TUHAN NOMOR SATU BIARLAH KITA TETAP DI BELAKANG"

Jumat, 06 Januari 2012
KESAKSIAN YANG BAIK (Ibrani 11:17-40)
Daftar yang panjang sering kali membuat kita bosan, namun tidak demikian dengan daftar dalam Ibrani 11. Disana terdapat daftar orang- orang percaya dalam Perjanjian Lama dan segala prestasi mereka yang mengagumkan. Namun, penulis menyertakan kalimat "karena iman" sebagai bagian yang harus ditekankan, bukan popularitas orang-orang itu. Melalui iman, orang-orang percaya ini memberikan kesaksian yang baik (ayat 39), tetapi apakah kesaksian mereka selalu berdampak baik?
Dalam ayat 33-35, penulis menyoroti mereka yang dengan iman telah menaklukkan kerajaan-kerajaan, menutup mulut singa-singa, dan luput dari mata pedang. Kemudian ia menyebut tentang "orang-orang lain," yaitu mereka yang disiksa dan dibunuh, yang tidak diselamatkan dari kematian (ayat 35-38). Apakah itu terjadi karena kesaksian mereka buruk? Tidak! Ayat 39 mengatakan bahwa "mereka semua," baik yang dilepaskan dari siksaan maupun yang tidak, sama-sama telah memberi kesaksian yang baik, karena mereka semua bertindak dalam iman.
Saya yakin mereka semua telah memohon pertolongan Tuhan. Sebagian dari mereka menerima pembebasan. Namun sisanya menerima jawaban yang juga diterima Paulus saat ia memohon agar "duri dalam daging" yang dialaminya dicabut: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna" (2 Korintus 12:9).
Bersemangatlah! Bila Anda bertindak dalam iman dan dalam kuat kuasa Allah, berarti Anda sedang memberikan kesaksian yang baik di hadapan- Nya, apa pun akibatnya. (JEY)
DALAM KESAKSIAN YANG BAIK ALLAH MENUNTUT KESETIAAN

Sabtu, 07 Januari 2012
MENGATASI PERUBAHAN (Ratapan 3:19-27)
eorang teman saya telah belajar dan berlatih selama bertahun-tahun untuk melakukan penerjemahan Alkitab. Ketika sampai di negara tempat ia ditugaskan, ia menulis tentang pengalamannya pada tahun-tahun sebelumnya: "Kunci untuk bertahan dalam kehidupan yang terus-menerus berubah adalah: bersiap menghadapi hal-hal yang tak terduga, tetap waspada, dan di atas segalanya, selalu ingat setiap hari bahwa Allah mengendalikan segala sesuatu, bahkan ketika keadaan tampaknya menunjukkan hal yang sebaliknya."
Sepuluh hari kemudian, tulisannya menjadi seperti nubuat yang terpenuhi, karena di negara tersebut pecah perang saudara dan dia terpaksa harus pergi.
Kita tahu bagaimana rasanya "hampir mencapai tujuan" tetapi tiba-tiba suatu perubahan mengacaukan segalanya, dan kita merasa hidup menjadi tak terkendali.
Mungkin itulah yang pernah dirasakan Nabi Yeremia ketika sebuah perubahan tiba-tiba menghancurkan bangsa Israel. Raja Nebukadnezar dari Babel menaklukkan Yerusalem, memindahkan rakyat, dan menghancurkan kota itu menjadi puing-puing. Namun Yeremia yakin akan kesetiaan dan pengendalian Allah, ketika menulis "Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!" (Ratapan 3:22-23).
Hari ini, kita akan mampu menghadapi perubahan yang tak terduga sekalipun, karena Allah yang setia tetap mengendalikan jalan hidup kita [DCM]
DALAM DUNIA YANG BERUBAH-UBAH KITA SELALU DAPAT BERGANTUNG PADA ALLAH YANG TAK PERNAH BERUBAH

0 komentar:

Poskan Komentar