Renungan Harian 31 Oktober - 05 November 2011

RENUNGAN SEPANJANG MINGGU

Senin, 31 Oktober 2011
HAMBA ATAU ORANG MERDEKA?(Galatia 4:21-31)

Tak seorang pun yang bangga menjadi hamba karena seorang hamba tidak memiliki hak apa pun untuk hidupnya sendiri. Semua orang ingin merdeka. Orang Yahudi membanggakan kemerdekaan mereka sebagai keturunan lahiriah Abraham. Namun, Paulus justru menunjukkan bahwa tidak semua anak-anak lahiriah Abraham adalah orang-orang merdeka sejati!
Paulus memakai ilustrasi Hagar dan Sara untuk menunjukkan dua macam kehidupan (ayat 22-26). Keduanya memang melahirkan anak-anak bagi Abraham, namun status mereka berbeda. Hagar melambangkan hidup perhambaan. Memang ia melahirkan anak pertama bagi Abraham menurut urutan waktu. Namun, Hagar tetap seorang hamba yang statusnya tidak pernah diubah menjadi istri. Jadi, keturunannya pun tidak akan mewarisi janji Allah bagi Abraham. Hagar melambangkan gunung Sinai, yaitu orang-orang yang hidup di luar anugerah keselamatan, yaitu mereka yang hidupnya menggantungkan diri pada usaha sendiri (=melakukan Taurat). Hagar melambangkan Yerusalem duniawi (ayat 25). Sara melambangkan hidup oleh kasih karunia. Ia mandul, namun oleh anugerah Allah ia menjadi ibu bagi anak-anak perjanjian. Sara melambangkan Yerusalem surgawi, yaitu tempat anugerah Allah dicurahkan (ayat 26-27). Jadi, anak-anak yang lahir dari Sara adalah ahli waris janji-janji Allah semata-mata oleh karena anugerah-Nya (ayat 28). Tidak mengherankan kalau anak-anak Tuhan akan selalu mendapat aniaya dan dengki dari anak-anak hamba yang tidak mendapat hak (ayat 29-30).
Mengandalkan apa pun yang disejajar dengan karya penyelamatan Kristus berakibat pada perhambaan. Orang Kristen menjalankan perintah-perintah Allah bukan sebagai hamba, melainkan sebagai orang merdeka. Ketaatan hamba terpaksa, ketaatan orang merdeka adalah ucapan syukur.
Renungkan: Orang yang sudah dimerdekakan dalam Kristus, namun berpaling lagi kepada perhambaan dosa, menginjak-injak dan menghina Kristus yang telah menebusnya.

Selasa, 01 November 2011
ANAK MERDEKA ATAU ANAK HAMBA? (Galatia 4:21-31)
Dalam upaya menjelaskan kepada jemaat Galatia bahwa keselamatan itu ada karena iman kepada Yesus, Paulus memakai banyak ilustrasi dari Perjanjian Lama. Kali ini perbandingan antara Sara dan Hagar. Dua-duanya adalah istri Abraham dan dua-duanya melahirkan putra-putra bagi Abraham. Namun keduanya berbeda secara status.
Hagar adalah hamba Sara, yang diberikan Sara kepada Abraham agar melahirkan putra bagi Abraham. Namun walau Hagar melahirkan Ismael bagi Abraham, status Hagar tetaplah hamba, bukan istri resmi.Sebaliknya Sara adalah istri resmi Abraham dan yang pada akhirnya akan melahirkan Ishak, putra tunggal Abraham dari Sara (Kej. 22:2a).
Paulus memakai kedua wanita yang ada dalam sejarah Israel itu untuk menunjukkan ironi dalam pandangan orang Yahudi yang menuntut Taurat sebagai syarat keselamatan. Orang Yahudi adalah keturunan Abraham lewat Sara, tetapi mereka lupa bahwa Ishak ada karena pilihan dan anugerah Allah, bukan karena tindakan Abraham melakukan Taurat. Ishak adalah anak karena janji. Bila orang Yahudi memaksa untuk melakukan Taurat sebagai cara untuk menjadi umat pilihan, itu berarti mereka diperbudak oleh dosa. Mereka jadi seperti putra seorang hamba yang tidak menerima anugerah Allah karena memilih hidup di luar anugerah tersebut. Sebaliknya, Ismael adalah anak menurut daging. Artinya Ismael lahir karena keinginan manusia mendapatkan "berkat." Dan setiap usaha manusia untuk mendapatkan sesuatu di luar anugerah Allah sesungguhnya merupakan perhambaan dosa! Maka hanya ada satu cara untuk merdeka dari dosa, yaitu percaya kepada Tuhan Yesus!
Paulus berkata kepada jemaat Galatia bahwa mereka adalah anak-anak merdeka, bukan anak-anak hamba wanita. Oleh karena itu jangan mau diperhamba dengan membebani diri dengan tuntutan Taurat. Anak-anak merdeka akan melakukan Taurat bukan sebagai tuntutan, tetapi sebagai cara hidup yang sesuai dengan kemerdekaan yang mereka peroleh dari Kristus! Bagaimana menurut Anda, apakah Anda putra Sara atau putra Hagar?

Rabu, 02 November 2011
POLUSI SUARA (Kolose 3:1-11)
Kata-kata tak senonoh dan ungkapan yang kasar kini semakin biasa diucapkan dalam acara-acara utama televisi. Banyak penulis dan produser tampaknya semakin sering melanggar batas ketentuan yang diizinkan masyarakat tentang penggunaan kata-kata yang tidak bermoral dan bersifat menyerang.
Perkataan yang tak senonoh dan kasar adalah jenis polusi suara yang paling buruk. Selain menghujat Allah, kata-kata kotor juga merendahkan manusia. Percakapan yang diakhiri dengan kutukan, sumpah serapah, dan ungkapan-ungkapan kotor serta kasar, mengaburkan keindahan ide-ide yang luhur. Kata-kata yang bersifat mengutuk dapat membangkitkan amarah dan merusak hubungan kita dengan sesama. Kata- kata tersebut dapat menimbulkan sakit hati yang berkepanjangan dalam diri orang-orang yang peka terhadap perlakuan kasar secara lisan.
Perkataan yang tidak baik membuat keadaan di sekitar menjadi tak bermoral dan tidak rohani, sehingga merusak pikiran dan cara hidup yang kudus. Suara yang memekakkan telinga dapat meredam suara Roh Allah. Itulah sebabnya firman Allah menyatakan dengan jelas jenis perkataan yang tidak boleh keluar dari bibir para pengikut Yesus (Kolose 3:8), dan sekaligus jenis perkataan yang seharusnya menjadi ciri khas kita (4:6).
Berabad-abad yang lalu pemazmur mempersembahkan sebuah doa yang akan membuat kita lebih bijaksana: "Awasilah mulutku, ya TUHAN, berjagalah pada pintu bibirku" (Mazmur 141:3). Doa semacam itu sangat kita butuhkan pada masa-masa sekarang ini. (DDH)
PERKATAAN YANG TIDAK SENONOH MEMALUKAN SI PENGUCAP SERTA MERENDAHKAN SI PENDENGAR

Kamis, 03 November 2011
ALLAH TIDAK PUNYA ORANG PENTING (Amsal 8:1-14)
Saya menjadi salah seorang pembicara pada sebuah retret keluarga di Kanada. Pada suatu sore ketika saya bersama istri mengunjungi sepasang suami istri yang memimpin pelayanan anak-anak, tiba-tiba putra remaja mereka memasuki ruangan dan duduk. Di tengah percakapan tersebut anak itu bertanya kepada saya, "Apakah Anda juga salah satu orang penting di sini?"
Untuk sesaat saya tak dapat berkata apa-apa. Anak-anak muda cenderung tidak suka basa-basi dan langsung menuju pokok persoalan. "Yah," saya menjawab, "Sebagian orang di sini mungkin berpikir demikian, tetapi kamu dan saya tahu yang sebenarnya."
Allah tidak mempunyai orang-orang penting. Namun "dunia kekristenan" telah menciptakan sendiri orang-orang penting itu dan banyak orang memuji para pembicara dan musisi bernama besar. Sebagian orang di ladang pelayanan mulai mempercayai sanjungan yang berlebihan tentang mereka dan merasa diri mereka lebih daripada yang lain. Namun, ketika keangkuhan hadir, maka rasa malu dan cemooh pasti akan mengikuti (Amsal 11:2). Sebaliknya, orang-orang yang rendah hati akan menerima pujian (29:23). Orang-orang yang benar-benar menyadari kebesaran Allah membenci segala bentuk keangkuhan dalam diri mereka (8:13).
Sudah sepantasnya kita menunjukkan pujian dan hormat kepada hamba Allah, tetapi adalah kurang bijaksana jika kita menyebut diri kita atau orang lain sebagai "orang-orang penting milik Allah."
Tuhan, tolonglah kami untuk membenci keangkuhan yang berdosa sebagaimana Engkau juga membencinya. (DJD)
TATKALA KEANGKUHAN MELIPUTI DIRI KITA TIADA TEMPAT BAGI KEBIJAKSANAAN

Jumat, 04 November 2011
BILA ALLAH TERASA JAUH  (Ratapan 3:1-26)

Dalam pelayanan selama lima dekade, saya telah banyak berbicara dengan orang yang bermasalah karena Allah terasa jauh. Mereka tidak merasakan bahwa Dia peduli dengan kebutuhan-kebutuhan mereka secara pribadi, sehingga mereka pun mengalami kesukaran dalam berdoa.
Kadang-kadang alasannya cepat ditemukan dosa yang belum diakui, dendam, kesombongan, ketergantungan pada sesuatu dan hal-hal semacam itu. Tetapi bila alasannya bukan dosa dan orang tersebut hidup dalam penyerahan kepada Yesus sebagai Tuhannya setiap hari, membaca Alkitab, berdoa dengan sungguh-sungguh, nasihat paling baik yang dapat saya berikan adalah, "Katakanlah kepada Allah persoalan Anda dan tetaplah memelihara hubungan yang harmonis dengan Allah."
Alkitab memaparkan orang-orang yang menghadapi persoalan yang sama. Nabi Yeremia mengalami saat-saat ketika Allah tampak seperti musuh baginya (Ratapan 3:1-18). Dengan menggunakan bahasa kiasan, ia menggambarkan kepedihannya terhadap Allah yang "tidak mendengarkan doaku" (ayat 8). Ia merasa seolah Allah memburunya (ayat 10-12). Tetapi ketika ia menyatakan perasaannya, Yeremia melihat secercah sinar yang menerangi kegelapan dan memulihkan harapannya kepada Tuhan (ayat 21-26).
Jika Allah terasa jauh dari Anda, meskipun Anda mempercayai Dia dan berusaha melakukan kehendak-Nya, janganlah putus asa. Katakanlah pada-Nya. Dan tetaplah melakukan kebenaran. Terang pasti akan menembus kegelapan. Dan bila hal itu terjadi, Anda akan mengalami hal yang jauh lebih baik dari saat ini [HVL]
JIKA ANDA BERADA DI DALAM KEGELAPAN YANG AMAT PEKAT TETAPLAH BERJALAN MENUJU TERANG

Sabtu, 05 November 2011
IMAN YANG DIKEHENDAKI ALLAH (Pengkhotbah 3:16-4:3)
Tatkala bersaksi tentang Kristus, saya sering mendengar tanggapan berikut: "Saya baik-baik saja kok, iman saya cukup kuat." Namun dari perbincangan tampak bahwa yang sesungguhnya mereka miliki adalah iman terhadap iman. Iman sejati yang menyelamatkan hanya didasarkan pada kebenaran Firman Allah.
Billy Graham memperjelas hal ini dalam suatu wawancara di TV. Ia menanti-nantikan kematian karena ingin bersama dengan Yesus. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa keyakinannya itu didasarkan pada apa yang dikatakan Alkitab tentang pengurbanan Kristus serta kebangkitan-Nya. Si pewawancara, yang belum menerima Kristus dan mengaku takut akan kematian, berkata, "Anda tidak takut karena Anda mengetahui sesuatu yang tidak saya ketahui."
Pengkhotbah 3:16-4:3 mengungkapkan tentang kebutuhan akan iman yang dikehendaki Allah. Perikop ini menggambarkan sisi kehidupan yang tidak menyenangkan: ketidakadilan di mana-mana dan kematian yang tak dapat dihindari (3:16;18-21). Di sini diungkap bahwa orang-orang yang tidak percaya, yang tidak punya alasan untuk berharap, berpikir bahwa orang-orang yang belum lahir lebih beruntung daripada orang-orang yang hidup saat ini (3:22-4:3). Namun perikop ini juga menunjukkan keyakinan orang percaya bahwa pada akhirnya Allah akan mengadili segala sesuatu (3:17).
Iman yang diajarkan dalam Alkitab berpusat pada Kristus kematian, penguburan, dan kebangkitan-Nya (1Korintus 15:3-4). Hanya iman yang demikian yang dapat membawa kita pada keselamatan dan kedamaian. Dan, iman tersebut memberi kita keyakinan bahwa kita akan menikmati hidup kekal di surga. (HVL)
AGAR DAPAT LEPAS DARI SEGALA KETAKUTAN BERIMANLAH KEPADA KRISTUS

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar