RENUNGAN SEPANJANG MINGGU
Senin, 02 Februari 2015
LEBIH SAYANG TUHAN (Kejadian 22:1-19)
Suatu kali, anak kami yang berumur tiga tahun mengalami demam tinggi sampai mengigau. Maka, saya peluk dia kemudian kami ajak berdoa bersama. Hati kecil saya berdoa kepada Tuhan dengan berkata, “Biar saya saja yang mengalami sakit seperti ini, jangan anak saya.” Perasaan itu muncul karena rasa kasih sayang saya kepada anak pertama yang Tuhan anugerahkan bagi kami. Rasa sayang yang tentu juga dimiliki oleh kebanyakan orangtua.
Tuhan pun melihat rasa sayang yang begitu besar dalam diri Abraham kepada anak tunggalnya, Ishak (ayat 2). Abraham begitu sayang kepada Ishak sebab sekian lama ia menantikan anak ini dari Tuhan. Rasa sayang ini kemudian Tuhan uji, yaitu dengan meminta Abraham mempersembahkan Ishak sebagai korban bakaran kepada Tuhan (ayat 2). Bagaimana respons Abraham? Kasihnya yang besar kepada Ishak tentu memunculkan pergulatan batin yang berat. Namun, melihat tindakan iman yang ia lakukan (ayat 8-10) serta tanggapan Tuhan yang berkata: “dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku” (ayat 12, 16) menunjukkan bahwa Abraham lebih sayang kepada Tuhan. Kasihnya kepada Tuhan jauh melebihi kasihnya kepada Ishak. Kasihnya mengutamakan Dia yang berkuasa memberi dan mengambil (lihat Ayub 1:21).
Saat-saat ini, adakah hal-hal dalam kehidupan kita yang dapat mengalihkan kasih kita dari Tuhan? Pekerjaan, keluarga, harta, hobi, atau hal lain yang lekat di hati. Tuhan berkuasa memberi dan mengambil semua itu. Yang Dia minta, kita menjadikanNya yang terutama, dan mulailah hari ini.
UTAMAKAN TUHAN LEBIH DARI SEGALANYA. SEBAB DIA LAYAK MENDAPAT KESELURUHAN HIDUP KITA.
Selasa, 03 Februari 2015
UJIAN IMAN (Kejadian 22:1-14)
Ketika masih kanak-kanak, saya tidak suka dengan kisah Abraham yang pergi ke Gunung Moria untuk mengorbankan putranya, Ishak. Mengapa Allah menyuruh Abraham melakukan hal itu? Saya juga anak tunggal dalam keluarga, dan saya tidak ingin hal semacam itu terjadi pada saya! Orangtua saya berkata bahwa saat itu Allah sedang menguji iman Abraham. Dan, ia berhasil melewati ujian itu. Bahkan, ketika pisau sudah tergenggam di tangannya, Abraham masih mempercayai Allah (Kejadian 22:8-10). Ia telah belajar bahwa Allah dapat dipercaya.
Membuat pernyataan iman adalah hal yang mudah. Ujian yang sebenarnya adalah ketika Allah meminta kita untuk mempertaruhkan milik kita yang paling berharga. Bagi Abraham, masalahnya adalah mengenai ketaatan. Pada masa kini, seorang wanita karier bergaji tinggi dipecat karena menolak meninggalkan standar imannya. Dan, seorang pendeta diusir dari gerejanya karena menaati Firman Allah yang menyuruhnya berbicara tentang rasisme di tengah jemaatnya.
Bukankah seharusnya orang-orang tersebut mendapat penghargaan karena mereka telah melakukan hal yang benar? Ujian iman yang terberat sesungguhnya adalah ketika kita merasa Tuhan tidak menghargai kesetiaan kita.
Mungkin saat ini Anda sedang diminta untuk mengembalikan kepada Allah sesuatu yang menurut perasaan Anda telah diberikan-Nya bagi Anda. Belajarlah untuk melihat bahwa ujian ini adalah suatu peluang untuk menyatakan iman Anda kepada Pribadi yang selalu memegang janji-Nya itu bahkan ketika Anda tidak dapat memahaminya sekalipun
IMAN ADALAH KEMAMPUAN UNTUK MELIHAT ALLAH DALAM KEGELAPAN
Rabu, 04 Februari 2015
KASIH BAPA (Kejadian 22:1-14)
Dalam otobiografinya, seorang tokoh terkenal dalam dunia pertelevisian menulis, "Jika Bapa surgawi penuh kasih, mengapa Dia tidak turun dan menggantikan Anak-Nya di Kalvari?" Perkataan itu menyatakan betapa dangkalnya pemahaman penulis itu tentang kasih seorang bapa yang baik di dunia ini dan betapa dalamnya kasih yang dinyatakan dalam Trinitas yang kudus.
Renungkanlah kasih seorang bapa di dunia ini terhadap anaknya. Dalam Kejadian 22 tertulis bagaimana Allah meminta Abraham untuk mengorbankan putranya, Ishak. Kita bisa membayangkan betapa menderita hatinya tatkala ia dan anaknya naik ke atas gunung. Tentunya Abraham berharap kalau saja ia diizinkan untuk menggantikan Ishak.
Saya adalah seorang ayah dan kakek. Dalam situasi yang serupa, jika boleh memilih, saya pun akan memilih mati untuk menggantikan anak atau cucu saya. Kasih kita sebagai para ayah yang ada di dunia mencerminkan kasih Bapa surgawi kepada Anak-Nya dan juga kepada kita. Karena hubungan- Nya yang dekat dengan Bapa-Nya, Yesus dapat berkata, "Aku dan Bapa adalah satu" (Yohanes 10:30). Alkitab menyatakan bahwa "Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus" (2 Korintus 5:19). Jadi, tak perlu diragukan lagi bahwa Bapa pun turut merasakan penderitaan Anak-Nya di Kalvari.
Betapa indahnya ketika kita mengetahui bahwa kita mempunyai Bapa yang penuh kasih di surga. Dan, karena Yesus telah mati di kayu salib bagi kita, maka kita dapat diampuni dan mengalami kasih Bapa.
KASIH BAPA TIDAK TERBATAS
Kamis, 05 Februari 2015
SISI ISHAK (Kejadian 22:1-19)
Saat merenungkan pengorbanan Ishak oleh Abraham, tak ayal perhatian kita terfokus pada kebesaran dan kerelaan hati Abraham untuk mempersembahkan anak tunggalnya sebagai wujud ketaatan pada Allah. Sisi Ishak nyaris tak pernah dibicarakan, padahal sisi ini menawarkan pelajaran yang tak kalah berharga.
Ketika itu Ishak sudah cukup besar sehingga Abraham menyuruhnya memikul kayu untuk korban bakaran (ayat 6). Saya membayangkan ia cukup kuat untuk melawan Abraham yang berusia seratus tahun lebih tua darinya. Ketika Abraham hendak mengikatnya, bisa saja ia memberontak dan melarikan diri. Nyatanya, Ishak pasrah (ayat 9). Ia membiarkan dirinya diletakkan di atas mezbah, siap dikorbankan. Ia memercayai kehendak baik ayahnya, dan juga memercayai kehendak baik Allah yang disembah oleh ayahnya. Ia tampaknya mengerti bahwa apa pun yang terjadi pada dirinya, semuanya itu berlangsung demi suatu kebaikan. Di sini Ishak menjadi simbol Kristus yang berserah pada kehendak Bapa-Nya.
Sikap Ishak meneladankan penyerahan diri yang total. Penyerahan diri semacam itu berangkat dari pengertian bahwa Allah itu selalu baik dan tidak mungkin mencelakakan kita. Meskipun kita harus melewati pengorbanan yang menyakitkan, pada akhirnya rencana Allah bagi kehidupan kita senantiasa mendatangkan damai sejahtera. Sosok Ishak mewakili iman seperti seorang anak kecil, yang menandai orang-orang yang akan masuk ke dalam Kerajaan Allah (Matius 18:3).
Sebagai anak-Nya, siapkah kita juga "diikat dan dikorbankan" dengan tetap memercayai hati-Nya?
KESEDIAAN KITA UNTUK BERKORBAN BAGI ALLAH MENUNJUKKAN SEDALAM APA IMAN KITA KEPADA-NYA
Jumat, 06 Februari 2015
PUNCAK KEHIDUPAN (Kejadian 22:1-14)
Hati Abraham pasti sangat terpukul saat berdiri di atas Gunung Moria bersama anaknya, Ishak. Ia telah mempersembahkan banyak korban sepanjang hidupnya, tetapi korban yang satu ini sungguh berbeda. Kali ini, Allah meminta Abraham untuk mempersembahkan anaknya, anak perjanjian, di atas mezbah. Namun demikian Abraham tetap mempercayai kasih dan integritas Allah.
Ketika Abraham sudah bersiap hendak menyembelih Ishak, seorang malaikat menghentikannya dan menyediakan seekor domba jantan sebagai ganti Ishak. Abraham telah berserah penuh kepada Tuhan, maka Ishak, putranya, dikembalikan kepadanya.
Penyerahan diri yang total ini diilustrasikan dalam dunia binatang. Ketika dua ekor serigala berkelahi mempertahankan batas wilayah, konflik tersebut berakhir dengan cara yang tidak lazim. Saat salah seekor serigala menyadari bahwa ia tidak mungkin menang, ia mengisyaratkan sebuah tanda bahwa ia menyerah dengan mendekatkan bagian bawah lehernya ke taring musuhnya. Namun, dengan alasan yang tak dapat dijelaskan, si pemenang tidak membunuhnya. Sebaliknya, ia membiarkan hewan yang ditaklukkan itu pergi dengan bebas.
Kita harus bersedia mempersembahkan sesuatu yang paling berharga bagi kita kepada Kristus. Dia menginginkan lebih dari sekadar waktu luang dan harta milik kita yang tersisa; Dia ingin menjadi Tuhan atas segalanya dalam hidup kita. Saat kita bersedia melepaskan apa yang paling kita kasihi, maka kita akan merasakan kebebasan karena berserah kepadaNya. Penyerahan diri adalah rahasia untuk mencapai puncak kehidupan!. (MRDII)
IZINKAN ALLAH MEMILIKI HIDUP ANDA; DIA MAMPU MELAKUKAN LEBIH BANYAK HAL DALAM HIDUP ANDA DIBANDINGKAN ANDA SENDIRISabtu, 07 Februari 2015
BERJUANG UNTUK HIDUP (Efesus 2:4-10)
Seorang nenek tua renta duduk di atas tikar kotor dan jelek, di sebuah pasar yang becek dan bau. Ia tidak peduli dengan kotoran ayam di sekitarnya, bau kambing yang menyengat di hidungnya. Ia duduk di sana sambil tak henti berteriak menawarkan dagangannya kepada orang-orang yang lewat. Peluh dan lelah tak dihiraukannya demi sesuap nasi, agar ia dapat melanjutkan hidup. Itulah gambaran sebuah perjuangan hidup. Banyak orang rela bekerja keras siang malam hanya untuk memperjuangkan hidup yang lebih baik. Terkadang bahkan waktu untuk keluarga pun dikorbankan. Padahal yang mereka perjuangkan adalah hidup jasmani yang akan berakhir saat mereka mati kelak.
Jika hidup yang sementara saja perlu diperjuangkan, bagaimana dengan hidup kekal? Alkitab memberi tahu kita bahwa hidup yang kekal tidak dapat diperoleh hanya dengan perjuangan dan kerja keras, karena harganya terlalu mahal dan tak mungkin dapat kita beli (ayat 8). Oleh karena itu, Allah berinisiatif untuk memberikannya secara cuma-cuma kepada manusia. Cuma-cuma bukan berarti diobral atau murahan, melainkan hanya karena kekayaan rahmat Allah saja.
Lalu apakah tugas kita? Tidak ada, selain merespons rahmat Allah yang besar itu. Dan respons yang Allah harapkan dari setiap kita, tentu saja, adalah bahwa kita membuka hati demi menerima hadiah hidup kekal tersebut di dalam Kristus. Dan biarlah hati kita melimpah dengan ucapan syukur atas karunia Allah yang memperkenankan kita masuk dalam kekekalan yang indah bersama-Nya kelak (RY)
BERJUANGLAH LEBIH UNTUK KEHIDUPAN YANG TAKKAN BERAKHIR
Tidak ada komentar:
Posting Komentar