RENUNGAN SEPANJANG MINGGU
Senin, 06 Februari 2012
APRESIASI DIRI DAN KARUNIA (1 Korintus 2:6-16)
Yesus pernah berkata, jangan berikan mutiara kepada babi (Mat. 7:6). Babi jantan tidak akan makin tertarik kepada betinanya bila ia berkalungkan mutiara. Si jantan, karena kebabiannya, tidak akan pernah mampu menghargai dan mengapresiasi mutiara sebagaimana kita manusia memaknainya.
Jelas, jemaat Korintus bukan sekumpulan babi. Sejak awal surat, Paulus menyebut mereka sebagai orang yang telah dikuduskan dan dipanggil menjadi orang-orang kudus (ayat 1:2). Kepada mereka hikmat keselamatan Allah telah dinyatakan (ayat 10); hikmat tentang karya keselamatan Allah yang tersembunyi bahkan bagi para penguasa, tetapi yang disediakan Allah bagi kemuliaan mereka yang percaya seperti jemaat Korintus (ayat 7). Mereka pun telah menerima Roh-Nya (ayat 12), yang dalam analogi kemanusiaan, bahkan tahu hal-hal terdalam dari Allah (ayat 10-11). Luar biasa. Apa lagi yang kurang?
Atas dasar jati diri ini Paulus hendak menampilkan seperti apa itu manusia rohani: pertama, ia adalah seperti Paulus dan rekan sekerjanya, mengajar dan berkata-kata berdasarkan hikmat dan Roh Allah (ayat 6,13). Kedua, ia juga memahami hal-hal rohani, dan menilai segala sesuatu berdasarkan hikmat Allah, tanpa dinilai orang lain (ayat 14-15). Ketiga, ia tidaklah seperti manusia duniawi (Yun. psukhikos) yang tidak menerima hikmat dari Roh Allah, menganggapnya sebagai kebodohan, dan tidak dapat memahaminya (ayat 14). Singkatnya, manusia rohani dapat mengapresiasi hikmat dan penyertaan Roh Allah melalui hidupnya.
Jemaat Korintus, bersama semua yang berseru kepada nama Yesus Kristus seperti kita kini (ayat 1:2) punya untaian indah mutiara karunia ilahi. Sekarang, tinggal bagaimana kita mengapresiasinya.
Renungkan: Merasa ada yang kurang dari hidup Anda? Kadang, hal terpenting yang kurang justru adalah apresiasi dan respons yang nyata dalam hidup kita atas karunia-karunia-Nya yang besar itu.
Selasa, 07 Februari 2012
KEKHAWATIRAN (Mazmur 91:9-16)
Saya tahu bahwa tidak seharusnya saya cemas, tetapi saya agak mengkhawatirkan sesuatu saat ini. Mungkin ini karena adanya situasi baru dalam keluarga kami. Bila melihat sekeliling, saya merasa agak gelisah. Ketahuilah, istri saya dan saya baru-baru ini mengetahui bahwa kami akan menjadi kakek dan nenek. Hal ini membuat saya berpikir tentang dunia tempat cucu kami dibesarkan nanti.
Tahun 2024 kelak, cucu kami itu akan lulus sekolah menengah. Mungkinkah biaya sekolah di perguruan tinggi akan sebesar Rp 900.000.000,00 per tahun saat itu? Jika minyak masih ada, mungkinkah harga bensin jadi Rp 58.500,00 per liter? Mungkinkah moral dan etika sudah ketinggalan zaman? Dan, apa gereja masih berpengaruh?
Masa depan bisa menjadi sesuatu yang menakutkan. Sesuatu yang belum diketahui dapat mencekam, terutama ketika hal yang diketahui saat ini diliputi begitu banyak perjuangan. Itulah sebabnya, kita harus memercayai janji Allah.
Apa pun situasi yang akan dihadapi cucu-cucu kita, mereka dapat bergantung pada janji pertolongan Allah tak peduli persoalan apa yang akan meliputi dunia ini. Allah berfirman, "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau" (Ibrani 13:5). Yesus berkata, "Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman" (Matius 28:20).
Janji-janji agung itulah yang dapat kita andalkan tatkala kita mulai merasa khawatir, entah tentang masa depan kita sendiri atau masa depan generasi selanjutnya. (JDB)
Cemas akan urusan dan masalah masa depan Hanya akan mendatangkan derita dan sengsara; Tuhan meminta kita tidak cemas dan tertekan Hari esok kita ada dalam tangan-Nya. (Sper)
KITA MUNGKIN TAK TAHU APA YANG AKAN TERJADI DI MASA DEPAN NAMUN KITA DAPAT MEMERCAYAI DIA YANG MENGENDALIKAN MASA DEPAN
Rabu, 08 Februari 2012
BERDOA DAN BERENCANA (Nehemia 1:1-2:8)
Seorang wanita yang baru saja menjanda ingin tetap tinggal di rumah, tempat ia dan suaminya membesarkan anak-anak mereka. Karena tinggal sendiri, ia pun membeli bel alarm rumah. Tetapi sekarang, ia merasa dirinya munafik ketika berdoa memohon perlindungan. Sebetulnya ia tak perlu merasa bersalah. Dalam Alkitab, perencanaan yang bijaksana dan kebergantungan kepada Allah berjalan seirama.
Nehemia memberi kita sebuah ilustrasi alkitabiah tentang cara memadukan rencana dan doa. Nehemia adalah seorang Yahudi yang hidup jauh dari kampung halamannya, dan bekerja sebagai juru minuman raja Persia. Setelah bangsa Israel ditawan selama 70 tahun, Syrus, raja Persia yang pertama, mengizinkan sejumlah orang Yahudi untuk kembali ke kampung halaman mereka. Kemudian, Ezra juga membawa lebih banyak lagi orang Yahudi untuk kembali ke Yerusalem dan membangun Bait Suci. Namun, dalam pasal pertama kitab Nehemia, kita membaca bahwa para tawanan yang kembali justru mengalami masa yang sukar, dan tembok-tembok kebesaran Yerusalem pun tinggal puing-puing (ayat 3).
Nehemia menangis, berpuasa, dan berdoa ketika ia mendengar penderitaan orang-orang Yahudi yang telah kembali ke Yerusalem dari pembuangan. Akan tetapi ia juga bertindak, membuat perencanaan yang matang serta mengambil risiko tinggi dengan meminta izin raja untuk membantu orang-orang Yahudi itu.
Begitu juga saat kita dengan rendah hati bergantung kepada Allah, kita juga perlu melakukan apa yang mampu kita kerjakan dengan bijaksana. Jadi, berdoa dan berencanalah! [HVL]
RENCANA TERBAIK DIMULAI DAN DIAKHIRI BERSAMA ALLAH
Kamis, 09 Februari 2012
BISA KARENA KUASA (1 Korintus 4:14-2)
Apa yang kita pikirkan ketika membaca kisah tokoh-tokoh Alkitab seperti Musa, Petrus, Elia, dan Gideon? Pastilah kita terkagum-kagum pada mereka. Mereka adalah orang-orang yang melakukan hal-hal luar biasa untuk Tuhan. Biasanya kisah mereka kerap diangkat oleh guru- guru Sekolah Minggu untuk menggambarkan betapa hebatnya kuasa Tuhan lewat orang yang dipakai oleh-Nya. Padahal jika kita membaca lagi di dalam Alkitab, kita akan menemukan bahwa sesungguhnya mereka ini adalah orang-orang biasa; seperti kita. Lalu apa yang membuat mereka tampak berbeda? Salah satunya karena mereka mengandalkan kuasa Tuhan.
Paulus menegur jemaat di Korintus supaya mereka tahu bahwa pekerjaan Tuhan tidak bergantung pada hebatnya sebuah pelayanan dilakukan, tetapi pada kuasa yang menyertai pelayanan itu. Ini berkaitan dengan dikirimnya Timotius, sang hamba Tuhan yang masih muda. Dibandingkan para pendahulunya, seperti Kefas dan Apolos-bahkan dibanding beberapa jemaat Korintus yang memiliki berbagai karunia, mungkin Timotius bukanlah siapa-siapa. Itulah yang membuat mereka menjadi sombong serta meremehkan Timotius. Dan, Paulus mengingatkan mereka supaya tetap menghormati Timotius, karena pelayanannya pun berdasarkan kuasa Tuhan.
Ketika kita terjun ke dalam pelayanan, janganlah merasa rendah diri karena kita tidak dapat melakukan hal yang hebat seperti orang-orang yang memiliki kemampuan khusus. Lakukanlah pelayanan sesuai dengan kemampuan unik kita. Penting juga untuk melatih diri, mengembangkan diri di bidang masing-masing, dengan tetap bersandar pada Tuhan, agar kuasa Tuhan bekerja melalui kita. (RY)
MELAYANI DENGAN MENGANDALKAN KUASA TUHAN AKAN MEMBERI DAMPAK LUAR BIASA
Jumat, 10 Februari 2012
ALLAH, GURU KITA (Ulangan 8:1-3)
Seorang guru yang baik tidak akan mendidik secara sembarangan. Ia akan mengemas pendidikannya dengan metode serta evaluasi yang tepat sesuai tujuan yang ditentukan. Lebih plus lagi bila ia kreatif dan mampu memikat hati naradidik dengan memerhatikan konteks hidup mereka. Sulit memang. Itu sebabnya guru yang baik termasuk langka. Lalu jika kemudian kita berpikir tentang Allah ... apakah Allah adalah guru yang baik?
Tentu saja! Bacaan kita berisi nasihat agar umat melakukan firman yang didengar (ayat 1). Ada tujuan pembelajaran di situ: "Supaya kamu hidup ..."; bahkan juga ujian dan metode pembelajarannya: setiap kita perlu mengingat pengalaman kita berjalan bersama Tuhan (ayat 2). Lalu, ada pula evaluasi: bagaimana sikap hati kita pada akhirnya-agar kita mengalami kepenuhan hidup-yakni saat kita menyadari bahwa kita bisa hidup dengan mengandalkan Allah dan firman-Nya saja (ayat 2,3).
Allah mendidik umat di padang gurun agar karakter mereka semakin matang. Padang gurun menjadi lokasi terbaik untuk belajar dalam hidup beriman, agar manusia lebih bergantung pada Allah ketimbang pada roti. Roti adalah simbol dari apa yang kita anggap kebutuhan dasar hidup. Namun dengan roti saja-tanpa Allah-umat akan mati dan tidak "lulus ujian" Allah.
Sudahkah kita mengikuti "kelas-Nya" dengan baik? Kelak, kita akan menghadapi "kelulusan final" saat kita meninggal, namun dalam tiap-tiap hari ada "tes-tes kecil" yang penting untuk kita menangkan. Bila Allah sedang mendidik Anda, bersyukurlah. Sebab melaluinya Anda akan semakin matang dan berbuah!. (DKL)
BILA ALLAH MENDIDIK KITA DIA MAU KITA MENDENGAR DAN MENURUT SEPERTI SEORANG MURID
Sabtu, 11 Februari 2012
KEKUATAN DALAM KELEMAHAN (Ibrani 11:30-40)
Seorang pria yang penuh keyakinan dan percaya diri berkata kepada saya, "Rahasia keberhasilan saya hanyalah melakukan apa saja yang dapat saya lakukan, dan semuanya berjalan mulus!" Pasti ia belum pernah menghadapi masa-masa sulit seperti yang pernah saya alami. Hidup saya hancur dan segala sesuatu menjadi "tidak mungkin." Mencoba melakukan "apa saja yang dapat saya lakukan" menjadi mustahil. Satu-satunya pengharapan saya adalah menemukan sumber kekuatan yang melampaui kekuatan saya.
Lalu Allah mulai mengajar saya untuk bergantung kepada-Nya hari demi hari. Secara bertahap saya mulai merasakan apa yang diuraikan oleh penulis Ibrani 11:34 yaitu, "mereka...telah beroleh kekuatan dalam kelemahan." Dengan segera kesaksian Rasul Paulus menjadi kesaksian saya, "Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku" (Filipi 4:13).
Selanjutnya, bersandar kepada Allah menjadi gaya hidup saya. Allah mengajarkan bahwa Dia ingin memberi saya kepercayaan untuk melakukan pekerjaan-Nya dan akan memampukan saya. Sementara saya terus belajar bersandar kepada-Nya, beberapa pelayanan yang secara manusia tampaknya tak mungkin dilakukan mulai terbuka untuk saya. Tantangan-tantangan tersebut mengingatkan saya akan perkataan ini, "Lebih mudah mengerjakan sesuatu yang tidak mungkin bersama Allah daripada sesuatu yang mungkin tanpa Dia."
Apakah Anda merasa lemah? Jika ya, mulailah bersandar pada Allah dan Firman-Nya dan jangan bersandar pada kekuatan Anda sendiri. Apabila Anda melakukannya, maka kelemahan Anda akan membentuk, dan bukan menghancurkan Anda. (JEY)
UNTUK MENGALAMI KEKUATAN ALLAH KITA HARUS MENGAKUI KELEMAHAN KITA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar