Mimbar Gereja u/warta 05 Februari 2012

GIA Sby (Darmo Harapan sore)
Minggu, 29 Januari 2012
Oleh:  Pnt. Ir. Lindra Hariyanto


IMAN YANG SEJATI
(Yohanes 14:29-31)

Apa itu iman yang sejati? Apakah itu sesuatu yang hanya memikirkan kepentingan diri sendiri yaitu kalau aku percaya Tuhan Yesus nanti mati masuk surga sehingga Tuhan Yesus hanya sebagai sarana, pembantu untuk bisa masuk Surga,tentunya bukan seperti itu.
Iman sejati tidak pernah lepas dengan obyek iman yaitu Siapa yang di percayai?
Untuk itu mari kita melihat iman yang sejati dalam tiga ayat ini:
  1. Iman yang sejati adalah Iman yang tidak takluk pada realita hidup (ayat 28-29). Tuhan Yesus berkata kepada para murid bahwa Dia akan pergi tetapi para murid tidak menginginkan kalau Tuhan Yesus pergi untuk menderita mati tersalib demi menebus umat manusia. Kenapa? Karena ada pola pikir atau cara pandang yang berbeda antara Tuhan Yesus dan para murid. Matius 16:15-17 Yesus bertanya kepada para murid, menurut kamu siapaka Aku ini lalu ada yang menjawab Nabi,Yesaya,elia dll,tetapi Petrus menjawab Engkau adalah Mesias anak Allah yang hidup. saat Tuhan berkata akan pergi untuk mati disalib dan bangkit pada hari yang ketiga, Petrus tidak mempercayai dan tidak mungkin hal itu terjadi. Karena bagi Petrus seseorang yang sukses adalah kalau Tuhan Yesus menjadi penguasa kerajaan Roma menggantikan Kaisar Agustinus, mengalahkan Pilatus, Herodes dan menjadi Raja orang Israel, ternyata harus mati. sehingga hal ini menjadi suatu realita yang tidak cocok dengan keadaan iman mereka. Namun Tuhan menghendaki untuk mereka tetap percaya kepada Tuhan. Ilustrasi: ada seorang aktor dari Hongkong yang menikah dengan seorang penginjil yang akhirnya aktor ini menjadi penginjil. Setelah satu minggu menikah dan masih dalam suasana honeymoon ternyata sang suami merasakan ada benjolan kecil dihidungnya yang makin lama makin besar  bahkan tenggorokan saluran hidungnya terkena kanker. Keadaan ini semakin lama semakin parah, tubuh mengecil namun hidung dan kepalanya semakin besar. Dengan Keadaan seperti ini tentunya teman,kerabat dan keluarga pasti akan meninggalkannya,apalagi mertuanya tidak mau terima menantu seperti ini,tetapi justru dengan keadaan seperti itu istrinya berkata bahwa ia semakin mencintai suaminya. Disaat seperti itu,si aktor yang jadi penginjil ini tidak lagi melihat penderitaannya atau orang-orang yang meninggalkannya namun justru dia teringat dengan pujian aku melayangkan mataku ke gunung-gunung dari manakah pertolonganku, Pertolonganku ialah dari Tuhan. Realita yang ada yang mungkin bisa membuat keluarga ini meninggalkan Tuhan namun justru keluarga atau pasangan ini tetap setia dan percaya kepada Kristus walau bukan kesembuhan yang didapat tetapi kematian yang diterima. lewat peristiwa ini ada perubahan besar terjadi, keluarganya satu persatu boleh percaya kepada Kristus.
  2. Iman yang sejati adalah iman yang tidak takluk kepada penguasa dunia (ayat 30). Siapa penguasa dunia ini yaitu iblis dan cara-cara iblis. Saat Tuhan Yesus di salib, para Farisi, ahli Taurat, imam-imam kepala, penatua-penatua  semua merasa Yesus hanya bisa di beli dengan 30 keping perak habis perkara, Kekristenan sudah lenyap, penghalang-penghalang orang–orang Yahudi lenyap hanya dengan 30 keping perak. Bagi orang dunia tidak mungkin Yesus disalibkan dan itu bukan Yesus tapi Yudas. Dunia berfikir seperti itu namun bagi Yesus itu adalah misi yang tepat untuk menjalankan misi Bapa. Bagi Yesus sukses adalah Aku rela menaati perintah Bapa untuk mati sebagai penebus umat manusia. Jelas ini berbeda dengan dunia dan seharusnya Kekristenan harus menjadi garam dan terang dunia. Kekristenan harus menaklukkan diri kepada Kristus bukan pada dunia.
  3. Iman yang sejati adalah Iman yang mengasihi Kristus dan melakukan segala sesuatu yang diperintahkanNya (ayat 31). Dalam ayat 23-24 Barangsiapa mengasihi aku, ia akan menuruti Firmanku. Iman yang sejati tidak pernah lepas dengan mengasihi Tuhan dan menaati FirmanNya maukah kita mengasihi Tuhan dan mentaati FirmanNya. 
Milikilah iman yang sejati Kiranya Tuhan memberkati Amin.
 
Diringkas oleh: Pdm. Anik Sulistyowati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar