RENUNGAN SEPANJANG MINGGU
Senin, 16 Januari 2011
TAKJUB AKAN HIKMAT ALLAH (Roma 11:25-36)
Kapan terakhir kali Anda memuji Allah dari hati yang takjub terhadap-Nya? Sesering apa Anda memuji Tuhan karena ketakjuban? Bagaimana biasanya Anda berespons terhadap masalah-masalah teologis yang sulit?
Perikop ini akhir bagian pertama surat Roma (ps. 1-11) yang membahas tentang tindakan penyelamatan Allah terhadap manusia yang binasa. Bagian ini menyelesaikan masalah pelik tentang pemilihan dan anugerah (ps. 9-11); juga tentang penyelamatan Israel yang sudah menolak Kristus. Injil adalah rahasia Allah. Keselamatan yang Allah singkapkan itu memang di luar jangkauan pengertian manusia (25). Di hadapan pemaparan rahasia Allah itu, kita akan dibuat takjub bahwa Allah sanggup menaklukkan kekerasan dan kegelapan hati untuk akhirnya justru menjadi bagian dari penggenapan rencana keselamatan-Nya. Ini tampak di dalam tiga unsur kebenaran rahasia Injil sehubungan dengan masalah pelik dalam pasal 9-11 ini.
Pertama, kekerasan hati Israel menyebabkan bangsa-bangsa yang tadinya tidak termasuk umat Allah boleh mengalami pilihan dan anugerah Allah juga (25). Kedua, meski Israel menyeterui Kristus, Allah setia dan tetap memperhitungkan mereka sebagai kekasih-Nya (28). Ketiga, atas dasar kesetiaan Allah, Ia memelihara mereka dan menyiapkan mereka agar sesudah waktu untuk bangsa-bangsa asal kafir mengenal Kristus genap (25b), mereka akhirnya diselamatkan juga (26). Ketidaktaatan Israel menjadi batu loncatan bagi Allah menunjukkan kemurahan-Nya bagi bangsa-bangsa bukan Yahudi. Kemurahan-Nya kepada orang-orang bukan Yahudi menaklukkan kekerasan hati Israel sehingga bangsa itu kelak akhirnya diselamatkan karena mengakui Mesias yang sama, yaitu Yesus Kristus.
Bersyukur: Keselamatan yang kita terima itu lahir dari hikmat, pengetahuan, keputusan, pikiran, kemurahan Allah yang tak terselami. Ia sungguh Pencipta, Pemelihara, Penyelamat yang ajaib dan patut kita puji selama-lamanya.
Selasa, 17 Januari 2011
TAK TERSELAMI, HIKMAT DAN KUASA ALLAH (Roma 11:25-36)Pernahkah Anda merenungkan keadaan Anda sebelum mengenal Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat? Sesudah Anda masuk dalam anugerah penyelamatan itu, bagaimana kesan Anda tentang jalan Allah yang menyelamatkan?
Dalam perenungannya yang dalam dan luas, Paulus sanggup melihat ke masa depan. Yaitu pengharapan bahwa melalui ketidaktaatan Israel untuk sesaat, dimungkinkan terjadinya penyelamatan sejumlah besar orang dari bangsa-bangsa bukan pilihan Allah (ayat 25). Suatu hal yang sangat tidak mungkin untuk diimpikan. Bayangkan, bagaimana mungkin orang Siro-Feniki, orang Etiopia, orang Romawi, orang Yunani, orang Barbar di Eropa, orang Cina, orang Arab, orang Meksiko, orang Tonga, orang Jawa, orang Batak, orang Melayu, orang Papua, orang Maluku, ... dan masih ratusan bahkan ribuan lagi banyaknya suku dan bahasa dari penjuru bumi ini, akhirnya mengenal Allah yang sejati. Kita termasuk di antaranya yang berasal dari nenek-moyang dan kehidupan yang menaati kekuatan-kekuatan kejahatan, akhirnya mengalami pencerahan hati di dalam Yesus Kristus! Haleluyah!
Lebih ajaib dari itu, Israel yang telah terbuang dari keterpilihannya karena penolakan akan sang Mesias, pun akhirnya dipulihkan kembali (ayat 26-27). Dalam cara dan waktu-Nya sendiri, Allah sedang dan akan terus mengerjakan anugerah-Nya yang menegur, mengoreksi, meyakinkan sampai akhirnya orang Israel pun akan menerima Yesus sebagai Juruselamat dan Tuhan mereka. Dengan demikian, genaplah suatu umat yang Allah rencanakan bagi-Nya, yaitu gereja-Nya sejati, umat pilihan-Nya sejati, Israel yang sejati! Di dalam kekayaan hikmat dan kuasa-Nya, oleh anugerah-Nya yang dahsyat itu, terciptalah umat pilihan yang sejak kekal telah Ia rancang dan kasihi! Oh betapa tinggi, dalam, lebar dan luas kasih Kristus; betapa tak terselami hikmat dan kuasa Injil!
Anda dan saya sedang menjadi bagian dari pewujud-nyataan hikmat serta kuasa yang dahsyat itu, yaitu bila kita ambil bagian menyaksikan Injil Kristus kepada sesama kita!
Rabu, 18 Januari 2011
PUJIAN BAGI TUHAN (KISAH PARA RASUL 16:25-34)Bagaimana Paulus dan Silas dapat bernyanyi di tengah situasi buruk yang menimpa mereka? Mereka berada di sebuah kota asing. Mereka mempertaruhkan hidup mereka untuk mewartakan kabar tentang Kristus kepada orang-orang yang membenci dan menentang pesan yang mereka bawakan. Orang-orang yang egois telah menyebarkan kebohongan tentang pekerjaan mereka dan menghendaki agar mereka ditangkap. Pejabat kota memerintahkan agar mereka dipukuli dan dimasukkan ke dalam penjara.
Dalam kondisi seperti inilah Paulus dan Silas menyanyikan puji-pujian. Bagaimana kita dapat menjelaskan hal ini? Jawabannya sudah jelas. Mereka dapat bernyanyi dalam kegelapan karena mereka sedang melakukan apa yang dikehendaki Allah.
Nyanyian tengah malam yang dikumandangkan oleh kedua orang tersebut mengingatkan saya pada burung bulbul. Para pengamat burung luar biasa ini merasa heran mengapa burung ini terus bernyanyi setelah matahari terbenam. Sementara burung-burung lain satu per satu mulai terdiam, namun irama kicauannya masih saja terdengar. Kegelapan tidak meredam nyanyiannya. Burung bulbul bernyanyi di waktu malam karena Allah telah merancangnya sedemikian rupa.
Apabila kita berjalan bersama Tuhan, kita akan dapat bernyanyi di tengah-tengah permasalahan sekalipun. Kita tidak akan dilemahkan oleh keadaan di sekitar kita. Kita akan mengalami sukacita dalam melakukan apa yang dikehendaki oleh Juruselamat kita. Dan sukacita kita yang terbesar adalah mengenal Allah dan menyanyikan pujian tentang-Nya, bahkan dalam kegelapan sekalipun MRDII
ADA PUJIAN DI TENGAH KEGELAPAN BAGI ORANG YANG BERJALAN DALAM TERANG
Kamis, 19 Januari 2011
MENYANYI BAGI TUHAN (Mazmur 30)Penderitaan adalah bagaikan orang asing yang mencurigakan, yang mengetuk pintu rumah Anda. Mau tidak mau Anda harus mengizinkannya masuk karena ia terus-menerus mengetuk pintu dan tidak mau pergi.
Anda merasa yakin bahwa tidak ada seorang pun yang melihat kesedihan Anda dan Anda merasa kesepian, tetapi Allah melihat kesedihan yang tengah Anda rasakan dan Dia mengerti. Setiap malam aku menggenangi tempat tidurku, dengan air mataku aku membanjiri ranjangku, keluh Daud di dalam Mazmur 6:7. Tuhan telah mendengar tangisku (ayat 9). Sengsaraku Engkaulah yang menghitung-hitung, air mataku Kautaruh ke dalam kirbat-Mu. Bukankah semuanya telah Kaudaftarkan? (56:9). Walaupun sepanjang malam ada tangisan, itu tidak akan berlangsung selamanya, karena menjelang pagi terdengar sorak-sorai (30:6).
Seperti halnya Daud, kita ingat bahwa kasih dan kebaikan hati Allah akan berlangsung selama seumur hidup kita. Dia telah berjanji tidak akan meninggalkan maupun membiarkan kita. Manakala kasih Allah masuk ke dalam pikiran kita, kepedihan hati dan ketakutan kita akan lenyap. Ratapan kita akan diubah menjadi tarian, pakaian kabung dan derita kita akan dilepaskan, dan kita pun diikat dengan sukacita. Kita dapat bangkit untuk menyambut hari sambil menyerukan puji-pujian karena belas kasihan, tuntunan, dan perlindungan yang telah diberikan-Nya. Kita bersukacita di dalam nama-Nya yang kudus (30:12,13).
Bagaimanapun keadaan kita, marilah kita menyanyi bagi Tuhan sekali lagi!. (DHR)
PUJI-PUJIAN ADALAH SUARA JIWA YANG TERBEBASKAN
Jumat, 20 Januari 2011
BEKERJA BAGI ALLAH (Mazmur 92)Sebuah ungkapan mengatakan bahwa: "Jika masa tua tidak menjadi pikiran, maka masa tua tidak menjadi masalah."
John Kelley dahulu pasti memegang pepatah tersebut. Kelley yang meninggal tahun 2004 dalam usia 96 tahun, telah mengikuti 58 kali lari Maraton Boston (42 kilometer setiap kalinya) termasuk yang terakhir pada tahun 1992 ketika ia berumur 84 tahun.
Penampilan Kelley yang tak terlupakan merupakan teladan bagi kita agar kita tetap aktif selama kita masih mampu. Begitu banyak orang yang berusia paruh baya yang mulai mengistirahatkan tubuhnya. Orang kristiani juga sering meninggalkan pelayanan kepada Yesus dengan cara yang sama.
Kita masing-masing memiliki tanggung jawab kepada Allah selama Dia memberi kita kekuatan tubuh dan mental, untuk bekerja sepenuh hati "seperti untuk Tuhan" (Kolose 3:23). Kita tidak pernah dipanggil untuk meninggalkan kehidupan dan berlayar pulang ke surga.
Sang pemazmur mengatakan bahwa orang benar "pada masa tua pun mereka masih berbuah" (Mazmur 92:15). Bagi orang yang masih kuat secara fisik, itu artinya mereka harus terus melayani secara aktif. Bagi mereka yang tidak dapat lagi bekerja, hal itu berarti mereka sebaiknya aktif dalam doa dan dalam pelayanan yang tenang.
Pastikanlah bahwa masa tua tidak menghentikan kita untuk senantiasa menghasilkan buah. Kita perlu terus bergerak untuk Allah . (JDB)
AGAR AWET MUDA TERUSLAH BERBUAH
Sabtu, 21 Januari 2011
BAGI KEPENTINGAN TUHAN (Yohanes 9:1-7)Nick Vujicic, dilahirkan dengan cacat langka yang disebut tetra-amelia. Ia tak punya lengan mulai dari bahu, dan hanya memiliki satu kaki kecil dengan dua jari yang tumbuh dari paha kirinya. Di luar kekurangan itu, Vujicic sangat sehat. Namun, ketika sudah bersekolah, tak urung ke-kurangan fisiknya menjadi pusat olokan. Ia sampai memohon agar Tuhan menumbuhkan tangan dan kakinya. Namun, kondisi tak berubah. Ia pun depresi. Pada usia 8 tahun, ia pernah mencoba bunuh diri.
Pada waktu Tuhan yang tepat, ia dimampukan untuk memandang hidupnya secara baru: dalam kondisinya itu, Tuhan justru dapat memakainya menjadi inspirasi bagi banyak orang. Maka, ia menyerahkan hidup untuk melayani Tuhan di banyak negara. "Jika saya dapat memercayai Tuhan dalam keadaan saya, Anda pun dapat memercayai Tuhan dalam keadaan Anda, " simpulnya. Tuhan pun memampukannya meraih banyak pencapaian-bahkan dalam beberapa hal ia lebih baik daripada orang normal.
Vujicic memercayai rencana Tuhan yang baik baginya. Bahwa hidup bukan demi kepentingannya pribadi, melainkan kepentingan Tuhan. Apa pun kondisinya, ia dapat melayani Tuhan dengan cara dan kesempatan terbaik yang ia miliki. Pekerjaan Allah pun dinyatakan di dalam dia. Seperti yang Tuhan kerjakan dalam hidup Bartimeus yang buta sejak lahir. Tuhan dimuliakan lewat hidupnya. Kini giliran kita. Tujuan hidup kita pun bukan demi kenyamanan atau kesuksesan pribadi kita. Akan tetapi, untuk kemuliaan-Nya. Pandanglah hidup secara demikian. Maka, tak ada hidup yang tak berguna. Sebaliknya, setiap hidup dapat menjadi alat berharga bagi kemuliaan-Nya yang kekal. (AW)
SETIAP HIDUP PASTI BERGUNA BILA DIBERIKAN MENJADI TEMPAT TUHAN BERKARYA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar