Renungan Harian 09 - 14 Januari 2012

RENUNGAN SEPANJANG MINGGU

Senin, 09 Januari 2011
RESPONS ATAS PENDERITAAN (1 Petrus 3:13-22)

Banyak orang yang berpendapat bahwa jika kita hidup sesuai dengan prinsip-prinsip Alkitab, maka kita akan mengalami hidup yang penuh dengan sukacita dan bebas dari segala kesulitan. Pendeknya kita akan memiliki sebuah hidup yang berbahagia.
Petrus berkata bahwa berbuat baik memang berdampak baik bagi kita dan dapat menghindarkan kita dari berbagai dampak yang akan muncul apabila kita berlaku tidak baik (13). Namun tidak semua hal bisa dihindarkan meskipun kita telah berlaku baik. Ada kalanya kita akan mengalami penderitaan justru karena kita memilih untuk tetap berdiri tegak di atas kebenaran (14). Bagi Petrus, penderitaan karena kebenaran jauh lebih baik daripada penderitaan yang harus dialami karena orang berbuat jahat (17).
Menderita karena kebenaran adalah sebuah berkat. Sukacita tidak serta merta terhenti ketika penderitaan karena kebenaran harus dialami. Sukacita yang dimaksud bukanlah semacam perasaan yang menyenangkan, tetapi sukacita karena tahu bahwa kita telah melakukan sesuatu yang diperkenan Tuhan. Memang bisa saja terjadi bahwa penderitaan yang terjadi karena berbuat baik merupakan kehendak Tuhan (17). Maka hal yang perlu kita ingat adalah bahwa dunia ini telah membuat Kristus menderita padahal Dia hidup sesuai kehendak Allah. Oleh karena itu selalu ada kemungkinan bagi para pengikut Kristus untuk menanggung penderitaan karena kebenaran. Dan penderitaan semacam itu mengidentifikasi kedekatan kita dengan Tuhan kita.
Petrus juga mengingatkan pembacanya untuk tidak takut terhadap ancaman manusia, sebaliknya mereka perlu menjadikan penderitaan sebagai sebuah kesempatan untuk menyatakan kebenaran Injil (15-16).
Bila kita harus mengalami penderitaan karena berdiri di atas kebenaran, bagaimana respons awal kita? Mengeluh atau justru bersyukur karena itu berarti kita dianggap layak untuk itu? Kiranya surat Petrus ini mengingatkan kita senantiasa untuk merespons dengan tepat setiap penderitaan yang hadir karena kita berpihak pada kebenaran.

Selasa, 10 Januari 2011
MENDERITA KARENA KEBENARAN. (1 Petrus 3:8-17)

Tidak ada seorang pun yang ingin hidup susah. Tetapi, seringkali penderitaan memang tidak dapat dihindari. Ketika hal ini terjadi maka nasihat Petrus dalam bagian ini patut diperhatikan.
Dalam nas ini, Petrus secara khusus mengingatkan jemaat untuk memelihara hidup mereka di dalam kasih dan perdamaian dengan semua orang sekalipun jemaat tidak diperlakukan dengan baik oleh mereka (ayat 8-9), karena memang itulah yang dikehendaki Allah bagi umat-Nya (ayat 10-12). Memang orang yang berbuat baik tidak seharusnya menderita (ayat 13). Akan tetapi, Petrus mengingatkan jemaat bahwa sekalipun mereka telah melakukan apa yang benar dan baik sesuai dengan kehendak Allah, namun tetap harus mengalami penderitaan, maka hal ini bukanlah hukuman dari Allah, melainkan sebuah kesempatan yang diberikan oleh Allah untuk memurnikan iman mereka (band. 1:7-9). Lalu bagaimana jemaat harus bersikap menghadapi penderitaan itu? Pertama, jemaat harus berbahagia dan bukan takut atau gentar (ayat 14). Mengapa? Sebab jika jemaat menderita karena kebenaran dan bukan karena telah berbuat kejahatan, maka penderitaan ini merupakan suatu pengorbanan yang diperkenan Allah. Bukankah tidak ada hal yang lebih indah selain hidup dalam perkenan Allah? Kedua, jemaat harus tunduk kepada otoritas Kristus sebagai Tuhan yang "memegang" hidupnya bahkan menguasai kehidupan semua orang sehingga jemaat dapat memercayakan diri ke dalam tangan-Nya. Ketiga, jemaat harus siap memberi jawaban kepada semua orang tentang pengharapan iman Kristen yakni pekerjaan yang sedang Allah genapi dalam hidup umat-Nya melalui penderitaan.
Ada suatu janji Tuhan yang indah bagi umat-Nya yang sedang mengalami penderitaan yaitu Dia yang telah berkenan mengizinkan kita mengalami penderitaan tidak akan pernah berhenti menopang, memberi kekuatan dan menghibur kita. Allah yang mengizinkan anak-anak-Nya menderita, tidak hanya menonton, tetapi turut menanggung penderitaan itu.
Renungkan: Jika Tuhan menghendaki kita menderita karena berbuat sesuai firman-Nya, bagaimana respons kita?

Rabu, 11 Januari 2011
RESPONS YANG TEPAT (Matius 7:24-29)

Mengapa kita harus merespons pengajaran Tuhan Yesus dengan menerima dan melakukannya? Pertama, karena Dia berotoritas untuk menuntut hidup kita sesuai dengan kehendak-Nya. Kedua, adalah sikap yang bodoh kalau kita mengabaikan firman-Nya, entah karena kita menganggap diri kita lebih pintar daripada Dia, atau ada alternatif pengajaran yang lebih kita percayai.
Khotbah di bukit adalah ajaran Yesus yang menyarikan hakikat kehidupan anak Tuhan sejati. Dasar pengajaran Yesus adalah karakter dan sifat Allah yang sudah dinyatakan lewat Taurat dan seluruh Perjanjian Lama. Di dalam Injil Yohanes, Yesus menyatakan bahwa pengajaran-Nya berasal dari Allah Bapa (Yoh. 7:16). Oleh karena itu, pengajaran Yesus memiliki otoritas tertinggi untuk diterima dan dilakukan oleh setiap anak Tuhan. Otoritas Yesus pun diteguhkan melalui tindakan-Nya yang selaras dengan ajaran-Nya. Hal ini tidak dimiliki oleh pengajar-pengajar lain.
Karena ajaran Yesus bersumber pada Allah, maka pasti benar langgeng. Bodohlah kita kalau menolak taat dan melakukannya. Ilustrasi Yesus yang sangat gamblang. Ajaran Yesus bagaikan fondasi bagi rumah rohani yang akan kita bangun. Beranikah kita mempertaruhkan bangunan hidup kita pada fondasi yang bukan hanya belum teruji, tetapi yang fana karena buatan manusia semata, atau yang akan dihancurkan karena buatan kuasa lain yang bukan Tuhan? Jangan konyol menyerahkan masa depan hidup Anda pada sesuatu yang bukan dari Tuhan, yang tidak pasti, yang suatu saat akan dimusnahkan bersama dengan dunia ini.
Mari kita bersama ambil tekad. Tidak boleh ada fondasi apa pun yang menjadi dasar bangunan rohani kita selain Yesus dan firman-Nya. Mungkin selama ini Anda hidup mengandalkan kata-kata bijak orang dunia, pengalaman orang lain yang terlihat arif, bahkan teknologi super canggih. Berhenti bersandar pada semuanya itu. Baca firman Tuhan dan terapkan dalam hidup Anda, mulai sekarang!

Kamis, 12 Januari 2011
SIAP DITERPA BADAI? (Matius 7:24-29)

Ucapan Yesus ini mengakhiri khotbah-Nya di bukit yang ditujukan untuk para murid-Nya. Dengan tekanan serius kini Yesus mengingatkan mereka bahwa hidup tiap orang suatu saat kelak akan diterpa badai. Badai itu akan sedemikian dahsyat dan pasti berakibat kekal. Badai itu akan membongkar kenyataan fondasi hidup macam apakah yang telah seseorang pakai untuk membangun kehidupannya.
Hanya ada dua macam fondasi hidup. Fondasi batu karang teguh adalah sikap dan praktik hidup saat demi saat mematutkan hidup sesuai firman (ayat 24). Orang sedemikian disebut Tuhan bijaksana sebab kehidupan taat firman membuatnya tahan terpaan badai. Fondasi pasir adalah sikap dan praktik hidup yang mendengar firman dan ajaran Yesus, tetapi tidak melakukannya (ayat 26). Orang seperti itu bodoh sebab rumah kehidupannya pasti akan tersapu bersih oleh terpaan badai dan banjir dahsyat (ayat 27). Apakah badai dan banjir itu? Mengacu ke konteks sebelum ini, pastilah yang Tuhan maksudkan dengan badai itu adalah hari penghakiman akhir. Dengan ucapan-Nya yang penuh kuasa itu, Yesus mendesak para pendengar-Nya untuk merespons Dia dengan ketaatan dan kesetiaan agar luput dari penghukuman itu.
Dari dulu sampai kini tidak ada penganjur agama mana pun seberani dan seberdaulat Yesus memaparkan soal hidup kekal dan tuntutan untuk percaya dan taat kepada-Nya sebagai syarat masuk hidup kekal. Ketika Yesus mengakhiri pengajaran-Nya, banyak orang mengakui kuasa kata-kata Yesus itu (ayat 28-29). Akan tetapi, yang Tuhan tuntut terus menerus sampai zaman ini juga, bukan saja mengagumi Dia melainkan mengikut dan menaati Dia. Dia tidak hanya menyampaikan klaim kosong sebab kelahiran, kehidupan, kematian, dan kebangkitan-Nya menunjukkan bahwa Ia memang kelak akan menghakimi dan menentukan nasib kekal kita.
Ingat: Hidup yang singkat ini hanya awal dari hidup kelak. Bagaimana keadaan hidup kita kelak dalam kekekalan tergantung pada pilihan kita di hadapan Yesus.

Jumat, 13 Januari 2011
DASAR YANG KOKOH (Matius 7:21-27)

Sebagai orang kristiani, kita dapat ditenggelamkan oleh urusan-urusan duniawi sehingga kita menggeser keyakinan, dari kepada Yesus Kristus menjadi pada kemampuan pikiran kita sendiri. Kemudian terjadilah peristiwa yang mengguncang dasar yang telah kita bangun.
Phillip E. Johnson, seorang pengacara berbakat sekaligus pembicara utama Intelligent Design Movement, terkena serangan stroke dan kemungkinan akan kambuh kembali. Ia sangat dihantui oleh berbagai pikiran menakutkan selama hari-hari pertama setelah serangan stroke itu. Akibatnya, ia sangat tersentuh ketika seorang teman datang mengunjunginya dan menyanyikan pujian, "Pada Kristus, dasar yang teguh, aku berdiri dasar lainnya adalah pasir yang menenggelamkan."
Johnson menulis, "Apakah yang menjadi dasar kokoh tempat saya berdiri? Saya selalu membanggakan diri karena kemandirian saya, dan mengandalkan otak saya. Namun, diri dan otak saya ternyata merupakan "landasan yang rapuh". Sejak dulu saya adalah seorang kristiani, bahkan seorang kristiani yang bergairah menurut ukuran dunia saya. Namun, sekarang semua kabut telah tersapu bersih, sehingga Kebenaran semakin tampak jelas bagi saya." Ia bertekad untuk menempatkan Yesus sebagai pusat hidupnya, dan ia pun menjadi orang yang berbeda.
Betapa seringnya kita mengandalkan kecerdasan dan akal, namun akhirnya kita mendapati bahwa semuanya itu adalah landasan yang rapuh. Janganlah kita lupa bahwa Yesus adalah satu-satunya dasar kebenaran yang kokoh, yang selalu dapat kita andalkan. (HVL)
BANGUNLAH HIDUP ANDA DI ATAS DASAR YANG KOKOH YAITU YESUS KRISTUS

Sabtu, 14 Januari 2011
IMAN PADA KRISTUS (Kolose 2:1-10)

Sebagian orang kristiani berusaha untuk terus mempertahankan kehidupan rohani mereka berada "di puncak". Hubungan mereka dengan Tuhan didasarkan pada perasaan mereka saat "di puncak". Untuk itulah mereka mengikuti konferensi, seminar, dan pemahaman Alkitab, demi mempertahankan perasaan mereka itu.
Mengacu pada kehidupannya mula-mula sebagai orang kristiani, penulis Creath Davis berkata, "Saya merasa iman saya menjadi lemah jika sesuatu yang mengagumkan tidak terjadi. Akibatnya, saya kehilangan banyak pengalaman indah, karena saya berada di lembah, dan harus menanti untuk kembali berada di puncak."
Apakah obat penawar yang efektif bagi iman yang berpusat pada perasaan belaka? Menurut Rasul Paulus di dalam Kolose 2, berpusat pada Kristus adalah jawabannya. Setelah menerima Kristus Yesus dengan iman, kita diperintahkan untuk terus "hidup tetap di dalam Dia" dengan iman (ayat 6) melalui naik-turunnya kehidupan. Dengan hidup di dalam persekutuan yang erat dengan Dia setiap hari, kita akan "berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia," dan "bertambah teguh dalam iman" (ayat 7). Kita bertumbuh dengan mantap menuju kedewasaan saat kita berpusat pada Kristus serta apa yang telah dilakukan-Nya bagi kita, dan bukan pada perasaan kita.
Berada di puncak kehidupan rohani bisa jadi bermanfaat. Namun sesungguhnya tidak ada yang lebih menguntungkan daripada kehidupan iman yang terus menerus berpusat pada Kristus. (JY)
IMAN YANG SEJATI TIDAK MENGANDALKAN PERASAAN

Tidak ada komentar:

Posting Komentar