GIA Sby (Darmo Harapan sore)
Minggu, 08 Januari 2012
Oleh: Pdt. Benijanto Sugihono
Minggu, 08 Januari 2012
Oleh: Pdt. Benijanto Sugihono
KRISTUS SEBAGAI DASAR IMAN KITA
(Matius 7:24-27; Lukas 6:48-49)
(Matius 7:24-27; Lukas 6:48-49)
Menaklukkan diri kepada Kristus itulah yang Allah kehendaki bagi setiap umatNya, hal ini termanifestasi melalui ketaatan, kesetiaan orang percaya kepadaNya. Dalam pembacaan Firman Tuhan saat ini maka ada dua bentuk bangunan yang masing-masing memiliki pondasi yang berbeda. Dasar atau pondasi masing-masing bangunan tersebut sangat penting. Mengapa? Karena pondasi masing-masing bangunan tersebut menentukan kekuatan masing-masing bangunan tersebut. Demikian juga halnya dengan iman, apakah iman kita itu di bangun atas dasar yang benar yaitu kepada Yesus Kristus dan FirmanNya ataukah sebaliknya iman kita itu dibangun atas dasar lahiriah yang sifatnya sementara. Oleh karena itu Alkitab telah memberitahukan dengan jelas hal itu kepada kita bahwa :
- Iman yang dibangun atas dasar yang salah. Iman yang dibangun atas dasar yang tidak benar yaitu iman yang dibangun atas dasar lahiriah yang sifatnya sementara misalnya: iman yang dibangun atas dasar kekayaan, status sosial dsb. Orang yang membangun imannya pada dasar yang tidak benar maka Firman Tuhan mengatakan bahwa orang seperti itu digambarkan seperti orang yang membangun rumahnya diatas pasir. Dimana turunlah hujan, datanglah banjir, lalu angin melanda maka rumah itu roboh. Itulah gambaran kehidupan orang yang membangun imannya pada dasar yang salah. Ketika badai kehidupan datang menerpa maka mudah mengalami kerusakan bahkan kehancuran.
- Iman yang dibangun atas dasar yang benar. Iman yang dibangun atas dasar yang benar yaitu iman yang dibangun dalam Yesus Kristus dan firmanNya. Alkitab mengatakan bahwa pondasi yang benar dan kuat adalah orang yang meletakkan iman dan pengharapan kepada Yesus Kristus sekaligus yang melakukan perintahNya dengan penuh ketaatan dan kesetiaan terus-menerus untuk mengasihi Tuhan. Dan orang yang meletakkan dasar imannya pada Yesus Kristus adalah orang yang bijaksana. Mengapa demikian? Karena saat badai dan taufan menerpa kehidupannya maka kehidupannya tidak akan mudah rubuh tetapi tetap berdiri kokoh (Matius 7;24-25), bahkan dalam menghadapi tantangan dalam hidup ini tidak mudah menyerah ataupun putus asa. Karena orang percaya tahu bahwa Allah pasti menyertai dan memelihara anak-anakNya.
Diringkas oleh: Pdm. Anugrah Laia
0 komentar:
Poskan Komentar