Renungan Harian 11-16 April 2011

RENUNGAN SEPANJANG MINGGU

Senin, 11 April 2011
MURID DAN HARTANYA (Lukas 12:13-21)

Sebagai Kristen, kita semua adalah murid Yesus. Kita bukan murid-muridnya Fransiskus dari Asisi yang dengan sengaja hidup dalam kemiskinan, walaupun banyak yang dapat dan layak kita pelajari darinya. Akan tetapi, kini, seperti juga dulu, pertanyaan ini masih terus relevan untuk ditanyakan: bagaimana sikap seorang murid terhadap harta kekayaan?
Sebenarnya, nas bacaan hari ini dan kemarin (juga nas besok) dipersatukan oleh satu pokok pikiran, yaitu aplikasi doktrin kemahakuasaan Allah, yang berkuasa atas seekor burung pipit dan juga atas jiwa manusia (ayat 5,20, 23-24) dalam bidang-bidang kehidupan. Dalam nas ini, kita melihat bagaimana Yesus memanfaatkan pertanyaan seorang Yahudi (ayat 13) sebagai batu loncatan untuk mengaplikasikan kemahakuasaan Allah di dalam sikap seseorang terhadap kekayaan dan harta milik.
Melalui perumpamaan pada ayat 16-21 Yesus ingin menyampaikan bahwa kepenuhan hidup manusia tidak terletak pada kelimpahan harta yang dimilikinya; tidak “tergantung” pada kekayaan seseorang. Mereka yang menyandarkan kebahagiaan serta kepenuhan makna hidupnya pada kekayaan dan bukan kepada Tuhan adalah orang-orang bodoh (ayat 20, bdk. 8:14), karena pertama, kekayaan tidak memperpanjang umur Tuhanlah yang menentukannya dan kedua, dengan demikian seseorang justru tidak menjadi kaya di hadapan Allah (bdk. a.l. Luk. 1:53, 6:24, 21:1-4 dll.). Peringatan ini penting untuk kita camkan, Kristen di Indonesia, karena sikap terhadap kekayaan seringkali justru menjadi batu sandungan bagi kesaksian kita sebagai murid Kristus.
Renungkan: Jangan biarkan harta membodohi Anda! Biarlah kemuliaan Tuhan melalui kehidupan dan pekerjaan Anda menjadi tujuan utama Anda bangun setiap pagi, dan bukan mencari kekayaan.

Selasa, 12 April 2011
ORIENTASI HIDUP (Lukas 12:13-34)

Ketamakan bukan hanya masalah orang yang berkuasa. Orang miskin dan tidak memiliki kuasa juga bisa salah dalam menyikapi harta karunia Tuhan dalam hidupnya. Ketamakan orang berkuasa menimbulkan tindak korupsi, ketamakan orang miskin menghalalkan pencurian. Semuanya didasari sikap hidup yang mengandalkan harta lebih daripada percaya kepada Tuhan. Berlawanan dengan sikap hidup demikian, Tuhan Yesus mengajar orang beriman untuk percaya pada pemeliharaan Allah di dalam hidup.
Tantangan Tuhan Yesus agar orang menjual segala milik dan memberikan sedekah (33) adalah jawaban radikal agar orang bisa lepas dari belenggu harta yang menghalangi orang mendapatkan Kerajaan Allah yang kekal. Di sisi lain itu adalah berita sukacita karena bagi orang miskin Kerajaan Allah itu telah diberikan (32). Contoh burung gagak, bunga bakung dan rumput liar di padang menunjukkan bagaimana alam ciptaan sudah diperlengkapi dengan segala kecukpan dan keindahan untuk kelestarian kehidupannya. Ketamakan manusia yang menimbun kekayaan menimbulkan distribusi yang tidak merata, ketidakadilan, iri hati, dan sekalipun kaya disebut bodoh. Dalam nas ini kebodohan itu dinampakkan dalam masalah pembagian warisan (13), yang memperlihatkan adanya keinginan untuk memiliki lebih daripada yang dibutuhkan. Pesan ini terasa lebih berbicara pada zaman itu karena adanya ketimpangan sosial di antara orang miskin dan tertindas oleh penjajahan Romawi yang merupakan kelompok mayoritas, dan kalangan kaya yang berkolusi dengan penguasa dan agamawan.
Orientasi hidup yang mengandalkan Tuhan akan membuahkan sikap hidup yang berlawanan dari yang mengandalkan harta. Tuhan tahu bahwa kita memerlukan harta untuk hidup tetapi menghendaki agar kita mencari Kerajaan Allah terlebih dahulu. Orientasi hidup yang mendahulukan keamanan hidup pada harta dan bukan kepada Allah dan Kerajaan-Nya adalah ketamakan dan kebodohan!

Rabu, 13 April 2011
HIDUP BERGANTUNG PADA ALLAH (Lukas 12:13-21)

Banyak keluarga Kristen berantakan hidupnya karena orang tua tidak punya waktu untuk bersama-sama anak-anak mereka. Alasan klasik yang biasa terungkap adalah tidak punya waktu karena sibuk cari uang. Ya, uang telah menjadi tuan mereka, memperbudak bahkan hampir seluruh aspek dalam kehidupan mereka.
Itu sebabnya Yesus tidak menerima permintaan agar Dia menjadi penengah bagi perselisihan antar saudara mengenai harta warisan. Dia tahu perebutan warisan itu terjadi karena ketamakan (15) dan hati yang diperbudak harta. Maka Yesus mengingatkan orang banyak bahwa harta bukanlah segala-galanya dalam hidup.
Orang kaya di perumpamaan itu disebut sebagai orang bodoh. Ia bodoh bukan karena tidak pandai mengelola hartanya. Buktinya ia sangat berkelimpahan. Ia sukses besar dalam usaha pertaniannya. Kebodohannya hanya satu, tetapi fatal, yaitu menganggap uang adalah segala-galanya. Ia menganggap bahwa dengan kekayaan yang ia miliki, hidupnya akan terjamin sampai tujuh turunan. Orang kaya ini disebut bodoh karena sama sekali tidak memperhitungkan Allah dalam hidupnya (bnd. Mzm. 53:2). Kenyataannya, ia sama sekali tidak memiliki apa pun untuk masa kekekalannya. Semua harta yang ia kumpulkan tidak dapat menolong dia menghadapi kehidupan sesudah kematian. Yesus menyebut orang kaya yang bodoh ini sebagai "tidak kaya di hadapan Allah" (21). Artinya, yang ia kumpulkan tidak berarti apa-apa di mata Tuhan, dan pada akhirnya ia tidak membawa apa pun untuk dipertanggungjawabkan di hadapan Sang Pencipta.
Kiranya kita tidak menjadi orang yang seperti itu. Boleh saja bekerja dan mengumpulkan uang karena kita memang membutuhkannya untuk mencukupi kebutuhan hidup kita dan keluarga kita. Yang harus diwaspadai adalah sikap hidup yang memberhalakan harta. Sekali harta diberi kuasa atas hidup kita, ia akan menjadi tuan yang kejam, yang merampas kebahagiaan kita. Ingat Tuan kita hanya satu, yaitu Tuhan yang adalah pemilik hidup kita dan sumber kepuasan sejati.

Kamis, 14 April 2011
TAMAK MEMBAWA PETAKA (1Timotius 6:6-10)

Ada sebuah cerita tentang seorang kaya raya bernama Brojo. Ia memiliki tanah pertanian sangat luas. Suatu hari seorang perantau bertamu ke rumahnya, dan bercerita tentang negeri penuh berlian di seberang lautan. Timbul sifat tamak Brojo. "Aku harus memiliki negeri itu," katanya dalam hati. Ia kemudian menjual seluruh tanah pertaniannya, dan pergi ke seberang lautan mencari negeri berlian. Tetapi pencariannya itu ternyata sia-sia. Bertahun-tahun ia merantau dengan tangan hampa. Akhirnya, ia jatuh miskin.
Sementara itu orang yang membeli tanah pertaniannya suatu hari melihat cahaya berkilau dari sebuah batu. Ia mendekati untuk melihatnya lebih jelas. Dan apa yang dilihatnya? Tak dinyana tak diduga, ternyata batu itu sebuah berlian. Ia pun lalu menggali tanahnya, dan menemukan batu-batu berlian lainnya.
Hikmah dari cerita itu adalah, betapa pentingnya kita belajar tahu batas. Jangan tamak. Syukuri apa yang ada. Nikmati apa yang dipunya. Sebab kalau terus merasa kurang, tidak pernah puas dengan apa yang ada, selalu ingin lebih dan lebih lagi, salah-salah kita malah akan kehilangan segala-galanya.
Paulus mengingatkan Timotius untuk belajar mencukupkan diri. Lebih dari itu supaya Timotius juga bisa menjaga diri dari sifat tamak. Sebab "mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan" (ayat 9). Kiranya kita dijauhkan dari ketamakan. (AYA)
DENGAN MENJAUHKAN DIRI DARI KETAMAKAN KITA TELAH MENJAGA DIRI DARI KEHANCURAN

Jumat, 15 April 2011
DI MANA HATI KITA? (Matius 6:19-21)

Secara jenaka, seseorang menuliskan bagaimana anak balita "mengklaim" suatu barang: 1. Kalau aku menyukai sesuatu, berarti benda itu punyaku; 2. Kalau sebuah benda kupegang, berarti itu milikku; 3. Kalau aku bisa merebut sesuatu darimu, benda itu jadi punyaku; 4. Kalau aku melihat sesuatu lebih dulu, benda itu jadi milikku; 5. Kalau kamu bermain dengan sesuatu, lalu kamu menaruhnya, benda itu otomatis jadi punyaku; 6. Kalau benda yang kita perebutkan pecah, maka itu jadi milikmu.
Ketamakan sangat serupa dengan nafsu-keinginan besar untuk memiliki sesuatu demi kesenangan pribadi. Serupa gambaran tentang balita di atas, orang tamak hendak memiliki semua yang disukai dan diingininya. Padahal, ketamakan tak pernah dapat dipuaskan. Dan, keinginan yang tak terkendali dapat membahayakan diri sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Itu sebabnya Amsal 23:2 memperingatkan, "Taruhlah sebuah pisau pada lehermu, bila besar nafsumu!"
Jadi, bagaimana melawan nafsu tamak ini? Tuhan meminta kita menujukan hati pada harta yang kekal (Matius 6:21). Terlalu memburu harta di bumi hanya akan membuat kita terikat dan diperhamba harta. Menghabiskan waktu dan kesehatan untuk menumpuk harta, yang takkan pernah kita bawa di akhir hayat (ayat 19). Sebaliknya, jika Tuhan menjadi yang terutama, sesungguhnya kita akan hidup lebih tenang. Kita akan bekerja dengan tahu batas waktu-tidak mengorbankan keluarga, bahkan masih punya waktu untuk melakukan pelayanan. Pula, kita bisa bijak menggunakan harta untuk memberkati sesama dan mendukung pekerjaan Tuhan. (AW)
MENUMPUK HARTA DI BUMI HANYA BERGUNA SEMENTARA MENUMPUK HARTA DI SURGA TAK TERBATAS KEUNTUNGANNYA
Sabtu, 16 April 2011
PERUBAHAN RADIKAL (Markus 9:2-9)

Operasi plastik, belakangan ini makin banyak saja peminatnya. Orang rela menghabiskan uang puluhan juta rupiah untuk mengubah bentuk wajah maupun tubuhnya. Lewat operasi itu, diharapkan bagian tubuh yang tidak menarik bisa langsung diubah menjadi lebih cantik. Orang gemuk bisa mendadak menjadi kurus. Pendeknya, orang merindukan terjadinya perubahan radikal. Sebuah metamorfosis. Bagai ulat buruk rupa berubah menjadi kupu-kupu nan jelita. Hasil akhirnya beda jauh dari asal mulanya.
Kata "metamorfosis" terdapat di Alkitab. Istilah Yesus "berubah rupa" dalam Markus 9:2 memakai kata metamorpheo dalam bahasa aslinya. Di depan ketiga murid-Nya, Tuhan Yesus bermetamorfosis. Tubuh fisik-Nya berubah. Bersinar memancarkan kemuliaan Allah. Menurut Rasul Paulus, kita pun kelak akan memiliki tubuh baru; memperoleh "rupa surgawi" yang memancarkan cahaya kemuliaan Kristus (1 Korintus 15:49). Tubuh kita akan diubah menjadi seperti Dia. Namun sebelumnya, di dunia ini, hati kita dulu yang perlu mengalami metamorfosis. Saat Yesus dimuliakan, suara dari surga berkata, "Dengarkanlah Dia!" (ayat 7). Mendengarkan Yesus adalah kunci terjadinya metamorfosis hati. Mendengar berarti menaati. Semakin kita taat, semakin hati kita diubah menjadi seperti Yesus.
Sudahkah metamorfosis hati terjadi dalam diri Anda? Jika Anda menghadiri reuni, apakah teman-teman lama Anda bisa melihat sifat Anda yang kini berubah? Sifat-sifat buruk lenyap digantikan dengan sifat baik? Hidup beriman yang sehat tidak pernah mandek. Bersama Roh Kudus, relakan diri Anda terus diubah menjadi makin indah. (JTI)
JIKA ANDA TIDAK MAU DIUBAH OLEH ALLAH DUNIALAH YANG AKAN MENGUBAH ANDA

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar